
Sang mentari mulai trlihat berubah menjadi jingga. Udara yang kian pelan bertiup menambah ketegasan bahwa senja telah tiba. Samar samar bau melati mulai tercium menguar ke penjuru ruangan dirumah Danu dan Ria.
Ya, ini adalah ulah Mira yang tengah menyiapkan rencana awalnya untum membalaskan dendam pada mereka. Sarah yang merasa terganggu dengan wangi melati di kamarnya, mulai berlari kearah luar kamar dan mendapati Mira yang sama baru saja membuka pintu kamar untuk mencari sumber harum melati.
"Kau mau kemana?" tanya Sarah dengan wajah panik.
Mira berusaha untuk ikut memasang wajah panik dan segera berjalan menghampiri Sarah yang saat ini tengah berada diambang pintu.
"Aku mau mencari sumber wangi melati yang membuat hidungku sakit. Apakah kau menciumnya juga Sarah?" tanya Mira dengan tatapan menyelidik.
Sarah terdiam. Ia berpura pura menyembunyikan rasa penasarannya agar membuat Mira mengaku bahwa sebenarnya ia yanv melakukan hal buruk di rumahnya. Firasat Sarah begitu kuat, terlebih lagi saat ia menyadari bahwa Mira sangat mirip dengan Tante Irma yang dulu pernah ada dimimpinya.
"Ak..aku tak mencium apa pun"
"Lalu kau terlihat panik seperti itu kenapa? ku kira kau sama paniknya denganku karena mencium bau melati"
Sarah menghela nafas dan mulai mencari cara agar bisa terhindar dari pertanyaan Mkra yang sedikit membuatnya terintimidasi.
" Oh ya, ini waktunya makan malam Mir.Ayo kita turun dan lihat apakah Bi Darsih sedang memasak makanan untuk nanti"
Sarah segera pergi meninggalkan Mira yang masih diam mematung di sampingnya. Sarah lebih memilih untuk kabur dari pertanyaan Mira yang dia rasa sedikit aneh. Langkah kaki Sarah terdengar begitu keras hingga membuat Danu dan Ria yang tengah panik pun merasa terkejut.
"Ada apa sayang? apa ada hal buruk terjadi padamu?" tanya Ria seraya membelai pipi putrinya.
Sarah menatap ke arah belakangnya sebab takut Mira akan mendengar perkataannya pada sang ibu.
"Apakah ibu mencium bau melati?" Sarah balik bertanya pada sang ibu.
__ADS_1
"Apa aku juga mencium baunya sayang?" tanya Danu meyakinkan.
"Jawab saja pertanyaanku ayah, ibu. Apakah kalian mencium bau melati dirumah ini!"
"Apakah kau juga menciumnya Sarah? tadi aku sudah bertanya padamu dan kau mengatakan bahwa tak menciumnya. Lalu kenapa kau bertanya pada ayah dan ibumu"
Tiba tiba saja Mira datang dari arah belakang hingga membuat Sarah sedikit terkejut.
Sarah terdiam sejenak dan mulai menatap wajah ibu serta ayahnya.
"Ini pasti ulah Mala!" gumam Danu penuh penakanan.
"Mala?" ucap Sarah sedikit keras.
"Siapa dia ayah?" sambungnya.
Danu terdiam diikuti oleh Ria yang mulai mencoba menenagkan putrinya.
Mereka membelalakan mata kala mendengar pertanyaan Sarah mengenai istri pertama ayahnya tersebut. Dari mana Sarah tahu bahwa ayahnya sudah pernah menikah.
"Bi! Bi Darsih sini cepat!" teriak Ria dengan kencang.
Bi Darsih yang memegang secangkir kopi panas di tangannya segera berlari dengan langkah yang tergopoh gopoh menghampiri majikannya tersebut.
"Apa bibi yang memberitahu Sarah bahwa Mas Danu pernah menikah hah!? jawab!" teriak Ria pada wanita paruh baya di depannya tersebut.
"Cepat jawab!"
__ADS_1
Ria yang geram kemudian mengambil cangkir ditangan Bi Darsih yang berisi kopi panas, lalu menumpahkannya tepat di tangan Bi Darsih yang saat ini tengah memegang baju lusuh bagian depannya.
"Rasakan ini wanita tua! lancang sekali kamu mengatakan rahasia ini pada Sarah hah!"
Sarah dan Mira yang terkejut segera mendekat kearah Bi Darsih dan mencoba mengobati luka panas yang diderita Bi Darsih. Bi Darsih yang merasa kepanasan hanya bisa meringis menahan rasa sakit.
"Sakit nyonya!" pekik Bi Darsih serya meniuo niup luka di tangannya.
"Apa apaan bu?! ibu telah melukai Bi Darsih! Ibu jahat! ibu kejam! mengapa ibu menuduh Bi Darsih yang memberitahu Sarah mengenai pernikahan pertama Ayah hah?! Tanya Sarah saja jangan main panggil bibi dan langsung menyiramnya seperti ini!"
Mira yang marah segera mencekal tangan Sarah yang memegang tangan Bi Darsih.
"Lalu kenapa kau tak mentakannya pada saat ibumu bertanya pada Bi Darsih? jika saja kau mengatakannya maka ibumu takan melakukan ini pada orang tua seperti Bi Darsih!" Mira menatap nyalang pada Sarah. Ia segara membawa Bi Darsih menuju kamarnya.
"Maaf jika saya lancang. Tapi saya sangat tak suka jika anda melakukan hal ini pada orang yang lebih tua. Maaf kan saya nyonya. Saya akan pergi dari rumah ini!" Mira menatap Danu dengan tatapan sendu berharap pria itu akan menanhannya.
Mira pun segera berlalu pergi untuk mengobati luka melepuh di tangan Bi Darsih. Dan seperti dugaannya. Danu marah besar dan menampar Ria dengan keras dihadapan Sarah.
"ayah!" pekik Sarah kencang.
" Ini adalah hukuman untukmu karena telah berbuat jahat dan tega seperti itu pada Bi Darsih. Bi Darsih adalah wanita yang mungkin seuumuran dengan ibumu Ria! kau tak bisa melakukan hal seperti itu! Aku diam ketika kau mencaci dan menghinanya, namun aku takan diam ketika kau menyakitinya. Sebab dia sudah ada sejak aku belum menikah denganmu!"
Danu segera bergegas pergi menemui Bi Darsih dan Mira. Ia tak peduli dengan Rua yang syok dan diam terpaku mendapat tamparan keras di pipinya.
Ria begitu syok dan terkejut mendapat tamparan keras di pipinya, bahkan ini adalah tamparan yang sangat menyakitkan untuknya sebab ia ditampar tepat dihadapan putrinya sendiri.
Danu benar benar telah berubah. Mungkinkah ini karena pelet yang digunakan Ria dsudah mulai pudar, pikirnya.
__ADS_1
"Ibu tak papa? ibu baik baik saja kan? astaga pipi ibu merah sekali" pekik Sarah kala melihat noda merah yang membentuk sebuah tangan di pipi ibunya sendiri.
Sarah semakin yakin bahwa Danu sudha dipengaruhi oleh Mira hingga ayahnya tersebut berani menyakiti ibunya yang bahkan selama ini selalu terlihat romantis dan jarang bertengkar. Sarah mulai benci dengan gadis itu dan sangat senang ketika wanita iti akan pergi dari rumahnya.