
Tahun, tahun berlalu. Matia kini sering datang menemui adik tirinya dan membawanya bermain dirumahnya. Tawa lepas dari Sarah kecil membuat Ria dan Danu merasa heran. Sebab anaknya sering mereka tinggalkam sendirian namun ia begitu senang bermain dan tertawa sendiri padahal tak ada siapapuj bersamanya.
"Mas apakah Sarah baik baik saja?"
"Memangnya kenapa Ria? putri kita begitu senang bermain dengan mainannya. Jadi apa yang kau khwatirkan?".
"Dia begitu senang bermain sendirian. Tertawa, menangis dan bermain sendirian dengan ocehan yang seakan akan sedang berbicara dengan seseorang membuatku khawatir apakah dia sedang bermain dwngan hantu Nirmala"
"Hust jangan ngomong begitu. Putri kita memang anak yang ceria dan cerdas. Jadi mungkin saja dia sedang anteng bermain. Kau jangan sebut sebut set*n itu lagi. Aku tak senang mendengar namanya"
Maria yang sedang bermain dengan Sarah seketika menatap Danu yang berbicara kasar tentang almarhumah ibunya. Walaupun Maria tak bisa di lihat oleh Danu, namun setidaknya eksitensi yang dimiliki Maria sangat kuat sehingga bisa membuat benda benda bergeser dan berjatuhan.
Maria yang sangat marah segera mengeluarkan kekuatannya untuk menggeserkan gelas yang berada diatas meja, sehingga membuat Danu dan ria terkejut dengan hal itu.
Danu dan Ria sangat pandang sebab tak ada angin ataupun hewan apapun yang bisa menggerakan gelas dihadapannya.
__ADS_1
"kenapa gelasnya bisa jatuh?" tanya Danu pelan.
"Mungkin itu hantunya Mala mas" Ria begitu ketakutan sehingga segera mengambil Sarah yang sedang bermain dengan bola plastiknya.
"Sudah kubilang jangan membicarakannya lagi Ria! aku sudah muak dengan mitos mitos bahwa si Mala gentayangan"
Maria yang mendengar perkataan ayahnya segera menjatuhkan kembali gelas yang berada di hadapan Ria. Sehingga keduanya ketakitan dan lari menuju kamar.
Bi Darsih yang mendengar gelas pecah segera berlari menuju ruang tamu dan melihat pecahan gelas berserakan diatas lantai.
"Apa yang dilakukan nyonya dan tuan? apakah mereka bertengkar sampai sampai gelas ini jatuh dan pecah"
Maria yang kini tengah berdiri, begitu sedih ketika melihat Bi Darsih yang begitu ringkih dan sangat kewalahan. Maria benar benar mereasa sedih melihat Bi Darsih yang dulu selalu ada untuknya kini sangat kurus dengan wajahnya yang mulai keriput.
"Andaikan bibi bisa melihatku saat ini.Aku ingin sekali memeluknya dan kembali bercanda dengannya" Maria mulai meneteskan air mata melihat keadaan Bi Darsih yang begitu kurus.
__ADS_1
Bi Darsih mulai memungut pecahan gelas tersebut satu persatu dan Maria pun duduk disebelah Bi Darsih yang sedang berjongkok.
"Kenapa hawa diruangan ini tiba tiba saja dingin ya. Apa jangan jangan hantu Nyonya Nirmala benar benar gentayangan. Ah tidak tidak. Nyonya Nirmala adalah orang yang baik dan sangat menyayangi bibi. Bibi yakin dia takan pernah menakuti bibi dan pasti Nyonya juga sudah tenang dialam sana"
Maria bergeming. Sebegitu mengerikannya ibunya dimata semua warga? gara garanya yang ingin membalaskan dendam pada Danu dan Ria, ibunya harus menanggung semua isu yang beredar mengenai hantu gentayanagn yang jelas jelas adalah Maria.
Maria menatap wajah Bi Darsih dari jarak yang sangat dekat dan mulai memegang pipi Bi Darsih walaupun ia tak bisa.
"Kok pipiku jadi dingin ya? apa jangan jangan... ihh serem" Bi Darsih kemudian berlari membawa kresek yang berisikan pecahan kaca menuju dapur.
Ia ketakutan dengan rumah majikannya yang sangat gelap dan menakutkan semenjak Nirmala dan Maria meninggal.
Bi Darsih saat ini bertahan bekerja di rumah Danu dan Ria sebab ia tak tahu kemana lagi harus pergi di usianya yang saat ini tak muda lagi. Apa lagi Bi Darsih saat ini tak tahu haru mencari pekerjaan di usianya yang sudah tak muda lagi.
Maria yang melihat pembantunya yang dulu sangat dekat dengan ibu serta dirinya mulai ketakutan, segera menteskan air mata dan perlaha lahan pergi kembali menuju kerajaan siluman ular yang selama ini menjadi rumahnya.
__ADS_1
Raja dan Kumala sedang bersama ketiga putranya di meja makan sedang menyantap beberapa daging yang sudah dimasak oleh algojo yang sering membunuh para pelaku pesugihan yang tak menepati janji mereka.
Ketiga anaknya begitu lahap menyantap daging daging manusia yang sudah direbus oleh pelayannya.