RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
34


__ADS_3

Maria terdiam dengan nafas yang masih memburu, hingga saat siluman kera tepat berdiri dibelakang tembok tempat Maria sembunyi dengan sekuat tenaga Maria menahan nafasnya agar tak didengar siluman itu.


Perlahan lahan siluman kera itu pun pergi dan kembali ke aktivitasnya untuk menyiksa para jiwa manusia yang ingkar dalam janji pesugihan yang mereka lakukan.


Maria pun kembali bisa bernafas lega ketika siluman kera itu menjauh dan mulai menatap wajah pria didepannya. Ya dia adalah adik raja siluman.


"Kau" belum sempat Maria berbicara siluman itu pun membawa Maria keliar dari ruangan tersebut.


Sampai saat dirasa jaraknya dan Maria sudah jauh, ia kemudian mendorong keras tubuh Maria dan menghantukannya ke dinding istana.


"Jika kau ingin selamat kau tak boleh seenaknya masuk kedalam ruangan diistanaku.! kau hanya beban dan manusia menyebalkan yang pernah kutemui" pria itu membentak Maria dengan sangat keras.


"Lalu untuk apa kau menyelamatkan aku ketika kau sendiri tak ingin aku ada disini hah?!"


"Kau adalah istri kakakku dan kau dituntut untuk melahirkan anak anak yang memiliki darah campuran siluman dan manusia untuk membalaskan kematian keponakanku"


Maria tertawa dengan keras dan mulai menatao datar kearah pria didepannya.


"Hahahahah kau sudah gila! kau itu siluman! kau ib**lis jadi mana mungkin aku akan menikahi kakakmu yang sama sama merupakan set*n itu!"


Dengan angkuh Maria mencaci siluman didepannya hingga membuatnya geram dan menjambak rambut indah Maria dengan kasar.


"Diam kau! kau adalah wanita tak tahu diri! tak tahu diuntung! kalian bangsa manusia hanya bisanya merasa paling benar sedangkan kelakuan kalian tak jauh beda dengan kami para ibl**s"


Maria meringis kesakitan akibat jambakan dirambutnya. Ia pun mulai meneteskan air mata menahan perih di kepalanya.


Siluman itu pun melihat air mata Maria mentes dan mulai melepaskan cengkaraman dirambut Maria karena kasihan.


"Sudah! pergilah sana dari pandanganku! aku tak ingin melihat wajahmu yang menjijikan itu!" Adik raja siluman pun pergi meninggalkan Maria yang mulai mengusap air matanya.


"Kau justru yang menjijikan! wajahnu lebih buruk dari binatang!" teriak Maria dengan keras.

__ADS_1


Ia kemudian berjalan menyusuri lorong seraya berfikir mengenai kata kata siluman itu tentang pernikahannya yang sudah dilakukan.


"Mana mungkin aku menikahi raja siluman itu. Pasti dia berbohong! aku tak ingat aku menikahinya. Jika pun benar aku menikahinya, lalu mengapa raja itu tak menghajar atau menghukum adiknya yang sudah melakukan hal tak pantas padaku. Ya benar, pasti dia berbohong. Dasar kepar** siluman set**!" umpat Maria dengan langkah tak tentu arah.


Entah mengapa Maria yang dulunya sangat lemah lembut dan tak pernah berkata kasar sekarang sangat arogan dan berprilaku bertolak belakang dari dirinya yang asli.


Maria kini melihat kamar sang istri pertama siluman itu yang terlihat sedikit terbuka.


Maria perlahan mengintip kearah dalam dan mendapati pemandangan yang sangat menjijikan. Raja yang berkepala manusia namun bertubuh ular sedang melakukan percum**an dengan wanita tua tanpa kukit di wajahnya.


Maria menutup mulut tak percaya dengan pemandangan yang telah ia lihat.


"Kemana istri pertama raja yang cantik itu. Jika saja ia tahu ia pasti akan sangat sakit hati dan sedih"


Maria bergumam pelan hingga kemudian kembali ditarik oleh seseorang yang sontak saja kembali membuatnya terkejut.


Maria menatap sosok yang tengah mencengkram kuat tangannya. Ia begitu tak suka dengan sosok dingin dan angkuh yang berada didepannya saat ini.


Maria didorong dengan keras kedalam kamar pria tersebut yang bernuansa serba hitam dan pria itu pun menutup pintu kamar rapat rapat.


"Tolong lepaskan aku seta**! kau itu siluman jahat! cepat lepaskan aku ! kalau kau tak mau melepaakanku aku akan teriak sampai kakakmu yang menjijikan itu akan menghajarmu!"


"Hahahahahah jangan pernah mengancamku manusia kotor!" siluman itu tertawa terbahak bahak melihat wajah Maria yang pucat.


"Kau tahu, kakakku bahkan menyuruhku untuk tidu* bersamamu kemarin malam! dia tak mencintaimu. Dia hanya menginginkan keturunan darimu! kau tahu kau adalah perempuan pertama yang telah menikmati keper****aanku. Seharusnya kau bangga karena telah kuberikan kenik**tan"


Marai dengan geram mendekati pria itu dan menamparnya dengan sangat keras.


"Tutup mulutmu silu*n kepa**! aku tak sudi kau sentuh dan takan sudi melahirkan anak bagi kaummu! aku manusia dan kau adalah siluman! kau bisa menikahi wanita dari bangsa jin atau siluman yang sudah jelas sama jenisnya denganmu"


Siluman yang tampak murka pun mencengkram kembali tangan Maria dengan kuat dan kemudian melemparkan tubuhnya keatas ranjang. Siluman itu pun menjepit tubuh Maria diatas ranjang dengan sangat kuat, hingga Maria pun tak bisa berkutik seolah terkunci.

__ADS_1


"Aku ANTAREKSA, siluman yang lahir dari rahim seorang manusia yang menikahi seorang raja siluman! kau harus tahu namaku dan asal usulku agar kau bisa menerima takdirmu yang akan sangat menyedihkan, aku bersumpah! ibuku adalah manusia dan aku sangat menghormatinya. Sedangkan kau seorang manusia yang sangat keras kepala dan tak beda jauh dari sifat seorang siluman"


Maria terkesima melihat wajah tampan siluman yang bernama Antareksa didepannya. Pria yang merupakan titisan siluman dan manusia itu sangat tampan dengan wujud seperti manusia. Jambang yang tipis serta hidungnya yang mancung membuat Maria seakan akan terbuai dengan ketampanannya.


"Sekarang kau menatap wajahku dengan rasa dan nafsu bukan?" tanya Antareksa membuyarkan lamunan Maria.


"Enyahlah dari tubuhku siluman tak tahu diri!" Maria mendorong tubuh Antareksa dengan sangat kencang dan mulai bangkit untuk duduk.


"Kau tak perlu memuji ketampannanku. Aku memang terlahir dengan wujud bak seorang manusia, hanya saja aku memiliki gigi taring dan kulit yang pucat. Aku juga memiliki kemampuan merubah wujud seperti siluman lainnya namun memang wujud asliku seperti ini"


"Tak mungkin siluman bisa memiliki wujud asli manusia. Kau berbohong!" Maria mengalaihkan pandangan menatap kearah jendela yang menampilkan halaman istana yang sangat gelap.


Antareksa kemudian mendekatkan kembali tubuhnya kerah Maria. Ia semakin mendekatkan dirinya kearah Maria dengan tatapan yang sangat tajam.


"Aku sangat membenci sifatmu yang sombong dan akuh! jika pun aku menidu**rimu kemarin, itu karena kakakku menyuruhku dan memberikan perintah itu! kau tak perlu terlena dengan sentuhan yang aku berikan kemarin. Aku takan pernah menyentuhmu lagi jika tidak ada perintah dari sang raja!"


Maria kembali menatap nyalang pada pria didepannya


"Kau bersumpah, aku pun tak ingin jika kau sentuh walaupun itu perintah dari kakakmu! aku sangat muak dengan duniamu dan seluruh makhkuk gaib diduniamu ini! kau sama jahatnya seperti kakakmu walaupun kau terlahir dari seorang manusia"


Antareksa kemudian mencekal pipi Maria dengan kencang karena merasa terhina.


"Jangan kau cibir ibuku! ibuku tak serendah dirimu. Ibuku menikahi ayahku yang seorang raja ular karena ibu ingin menyelamatkan orang tuanya yang sakit parah karena perjanjian pesugihannya telah dilanggar. Ia rela menjadi penunjang dan jaminan atas perjanjian itu. Tak seperimu yang lemah dan mampu di korbankan orang lain!"


...Antareksa



...


Ilustrasi tokoh Antareksa

__ADS_1


__ADS_2