
Maria keluar dari kamarnya dan mulai berjalan menyusuri lorong untuk pergi ke tempat jamuan makan diselenggarakan. Dengan wajah yang tampak cantik dan gaun yang indah, Maria tampak begitu mempesona hingga membuat raja dan Antareksa menatapnya seolah terpana.
"Kau sudah datang istriku?" ucap sang raja dengan senyum manisnya.
Maria menganggukan kepala dan mulai mencari tempat untuk ia duduk.
"Duduklah didepanku. Agar aku bisa menatap wajah cantikmu" raja menyuruh Maria untuk duduk berhadapannya yang otomatis berada disamping Antareksa.
Kumala menatap nyalang kepada Maria. Ia benar benar merasa cembutu karena raja terus saja memuji kecantikan Maria bukan dirinya.
"Kalung itu sangat cocok kau kenakan. Kulitmu yang putih seakan membuat kesan cerah dengan warna kalung itu. Kau sungguh membuatku tak bisa berhenti menatap"
Kumala yang semakin geram segera menghentakan garpuh diatas meja. Sontak saja raja dan seluruh penghuni disana menatap kearahnya.
"Ayo kita makan. Aku rasa Maria sudah lapar" Kumala tersenyum sinis menatap Maria.
Maria yang sadar dengan tatapan tak suka dari Kumala pun dengan santainya mengambil makanan yang sudah dihidangkan.
"Ayo kita makan" Maria mulai mengajak raja dan Antareksa yang senantiasa menatapnya sejak tadi.
Antareksa pun segera menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan mengunyah makanan tersebut secara perlahan. Hatinya terasa yak karuan ketika berada disamping Maria saat ini. Entah kenapa ia merasa ada yang aneh ketika berada didekat Maria setelah melakukan hal kemarin malam.
Beberapa menit Antareksa tertegun dan hanya menatap makanannya sebab ia seakan merasakan ada yang aneh ketika Maria mengunyah makanan kedalam mulutnya.
"Habiskan makananmu dan kalau bisa tambahlah makanannya. Banyak hidangan yang mungkin belum pernah kau makan sebelumnya"
"Ba..baik" Maria menjawab singkat perkataan sang raja.
Ia begitu tak enak dengan keramahan raja terlebih lagi ia melakukannya ketika dihadapan semua orang. Maria berfikir mungkin saja raja sudah luluh sebab ia membalas setiap sentuhannya padahal Maria melakukan itu dengan rasa jijik.
"Kau juga makanlah yang banyak, biar kau tetap awet muda dan tak bisa mengkeriput. Hahahah" raja terbahak meledek Kumala.
__ADS_1
Beberapa pengawal yang ada dibelakangnya pun ikut menahan tawa hingga membuat Kumala merasa malu dengan candaan suaminya tersebut.
"Aku sudah selesai! aku pergi!" Kumala berjalan berlalu meninggalkan Maria, Raja dan Antareksa yang tetap menyantap makanannya.
Kumala begitu malu dan geram dengan candaan sang raja yang seolah olah dirinya sudah tak cantik lagi dan sudah tua. Sudah sepatutnya Kumala mengkeriput diusia yang sudah ratusan tahun, bahkan jika ia masih menjadi manusia, mungkin saja ia sudah mati.
Namun berkat ilmu yang ia tekuni dan pelajari di dunia siluman ini, Kumala bisa tetap merawat dirinya hingga terlihat masih awet muda walaupun wujud aslinya ketika menjadi siluman memang sangatlah mengerikan.
Wanita itu menutup pintu dengan keras dan berjalan menuju meja rias. Ditatapnya wajah didalam cermin dan mulai bergumam dengan diri sendiri.
"Aku masih cantik. Wajahku masih sama seperti dulu. Bahkan ku rasa aku yang tercantik disini. Maria takan mungkin bisa mengalahkan kecantikan yang aku miliki! ya benar! dia takan pernah bisa menandingi kecantikanku!"
"Tapi, ini apa ? ini kulit?" Kelopak mata Kumala terlihat ada kerutannya dibagian ujung mata, hingga membuat wanita itu terus menarik kulit wajahnya agar kencang.
Semakin ditarik semakin melebar, kulit wajah Kumala yang terlihat didalam cermin. Hingga kemudian ia yang frustasi membantingkan semua barang yang ada diatas meja riasnya dan mulai jatuh ke atas lantai.
"Aku salah menilainya. Dia pasti akan mengalahkan kedudukanku dan mungkin saja dia akan merubah posisiku dihati raja. Tidak! ini tidak bisa dibiarkan! aku harus secepatnya membuat ia kembali pulang bagaimana pun caranya"
*******
Raja yang panik segera mengambil air dan memberikannya kepada Maria. Berbeda darinya, Antareksa mengambil sendiri air didalam teko dan segera menghabiskan minumannya.
"Kalian kenapa?" tanya raja yang heran.
"Makanannya sangat enak, sampai sampai aku tak benar mengunyahnya dan langsung menelan makanan ini" Antareksa memberikan alasan dengan datar.
"Iya benar, makanannya sangat enak. Baru saja aku akan menjawab perkataanmu tapi makanannya baru akan masuk kedalam tenggorokan" Maria memberikan alasan.
"Oh begitu. Kalian memang adik kakak yang sangat serasi. Kau memang wanita yang mudah sekali mengambil hati seseorang Maria. Kau berhasil mengambil hatiku dan sekarang kau bisa mengambil hati adikku yang sangat dingin ini. Kau memang kakak ipar yang baik untuk Antareksa"
Maria dan Antareksa saling pandang dan mulai kembali memyendok makanann dipiringnya.
__ADS_1
"Nanti aku akan menghabiskan malam bersama Kumala. Ini adalah hari untuknya, dan besok aku akan kembali lagi padamu. Kau jangan bersedih, kau bisa menghabiskan malammu dengan Antareksa"
Antareksa kembali tersedak ketika mendengarkan perkataan raja.
"Kau sudah gila hah?! kau membagi istrimu padaku?"
"Apa kau tak senang wahai adikku? kau adalah pria yang baik dan aku yakin kau akan menjaga Maria untukku. Kau tak perlu melakukan hubungan lagi bersama Maria. Kau bisa mengobrol atau menceritakan kerajaan kita ataupun menceritakan sil silah keluarga kita. Aku hanya ingin kau temani Maria agar ia tak merasa sendirian dan tak memiliki teman berbicara"
Maria tertegun, bagaimana mungkin sang raja membiarkan istrinya kembali berduaan bersama adiknya sendiri. Memang dunia ini tak memiliki pedoman dan tatak rama yang baik.
"Aku bisa tidur sendiri" Maria mulai menyatakan pendapatnya.
"Tidak! Aku takan biarkan kau sendirian! Kau harus bersama Antareksa sebab dialah yanv aku percayai saat ini"
Antareksa tersenyum kecut dan mulai menghentikan makannya.
"Apa kau benar benar mempercayaiku? apa kau tak takut aku akan menyentuh istrimu ini?" Antareksa mulai bertanya dengan serius.
"Tentu tidak. Aku percaya padamu namun tak sepenuhnya. Aku tahu kau sangat dingin pada siapapun termasuk aku kakakmu sendiri.Dan berbeda dengan sikapmu pada Maria, kau banyak sekali mengobrol dengannya walaupun dengan omongan yang kasar"
Maria mulai menatap Antareksa. Ia tak merasakan perbedaan sikap dari Antareksa padanya seperti yang dikatakan raja.Lain halnya dengan Antareksa yang merasa camggung ketika ditatap oleh wanita disampingnya. Hatinya berdebar dan lidahnya seakan kaku.
"Sudah aku mau pergi ke kamarku" Antareksa bangkit lalu meninggalkan Maria dan sang raja.
"Lihatlah pria itu. Dia benar benar seperti seekor srigala. Dingin dan sangat misterius"
Maria tersenyum dengan terpaksa. Ia begitu tak nyaman ketika harus berduaan dengan sang raja apalagi tatapannya yang seolah olah akan menerkam dirinya..
"Emh maaf, apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu?"
"Apa kau sudah memberikan hadiah untuk ratu?"
__ADS_1
"Hahahahah siapa yang kau sebut ratu? Kinanti?" raja tertawa ketika mendengar Maria menyangka bahwa Kinanti atau Kumala adalah ratu.
"Ku kira dia" ucapan Maria terhenti kala sepasang mata mentapnya dari sela sela pintu pembatas ruangan.