
Entah mengapa sejak kedatangannya ke alam ini Maria menemukan banyak pengetahuan tentang alam ini beserta pelajaran yang hisa ia petik dari sini. Mulai dari persekutuan manusia dengan iblis yang akan membuatnya kaya dengan syarat yang sangat rumit, serta pelanggaran dan ganjaran yang akan didapat oleh manusia tersebut.
Selain tuhan akan murka karena bersekutu, Iblis yang mereka anggap sebagai penolong juga akan murka jika perjanjian mereka tidak dipenuhi dan ada pelanggaran didalamnya.
Jiwa raga dari orang yang bersekutu dengan bangsa mereka, maka akan perlahan lahan jaya namun sebenarnya mereka akan lebih hancur dari segunduk tanah. Mereka akan disiksa di akhir kehidupan dan akan dijadiakn sebagai budak dialam jin.
Maria menatap wajahnya dicermin, wajahnya kian terlihat pucat dengan bibir yang merah serta rambut yang terurai. Antareksa pun yang kini sedang duduk diatas ranjang tak henti henti menatap manusia di kamarnya yang merupakan kakak iparnya sendiri.
"Kau sudah menjadi bagian dari bangsaku dan kau harus mengikuti setiap aturannyang ada disini" Antareksa berbicara dengan datar.
"Lalu apakah aku akan mendapatkan jaminan jika mematuhi aturan dikerajaan siluman ini hah?! apa aku akan bisa aman dan kembali ke keluargaku?" Maria menatap nyalang kearah Antareksa.
Baginya tak ada hal baik apapun yang mampu ia dapat disini selain kesedihan serta kerinduan terhadap ibunya yang selalu setia menunggu raganya.
"Kau bisa kembali keragamu dan hidup bersama dengan keluargamu tapi dalam waktu tertentu. Dan itu pun jika raja menginzinkan dirimu pergi"
Maria bergeming ia mulai merasakan bahwa akan ada sedikit harapan untuk kembali kealam nya sendiri.
"Aku akan menuruti semua aturan disini asalkan aku bisa hidup normal kembali"
Antareksa tertawa dengan keras sehingga membuat Maria kebingungan.
"Siapa bilang kau akan kembali hidup normal hah? kau hanya bisa menemui mereka sebentar dan kembali lagi kealam ini. Bahkan kau juga bisa hidup disini selamanya jika kau menginginkan nya. Berbeda dengan hidupmu dialam manusia yang hanya terbatas"
Maria kembali kesal dan tak menerima keadaan yang akan ia jalani kedepannya.
"Itu tak adil! aku manusia dan kau adalah siluman! bangsamu adalah siluman dan aku tak pernah melakukan perjanjian apapun denhan rajamu yang breng**k itu! aku ingin pulang! aku ingin pulang!" Maria berteriak dengan keras sehingga membuat Antareksa marah besar.
Antareksa pun bangkit dan mulai melangkah maju menuju Maria. Dengan kuat ia mencengkram dagu gadis cantik itu dan membuatnya seketika terdiam.
"Diam! sudah ku katakan akan ada penyiksaan diluar! jika kau tak diam, maka akan aku lemparkan kau keluar sana agar kau ikut disiksa para iblis di kerajaan ini!"
__ADS_1
Bola mata Antareksa membulat sempurna, Ia berhasil membuat Maria terdiam dan ketakutan. Tubuh gadis itu terlihat bergetar hebat dengan air mata yang terus saja mengalir membasahi pipinya.
Seketika itu juga Antareksa melepaskan cengkaraman itu dan mulai berjalan mundur untuk kembali duduk diatas ranjang besar miliknya. Dari kejauhan terdengar langkah kaki besar yang sangat keras sehingga membuat lampion dikamar Antareksa ikut terguncang.
Teriakan serta jeritan yang dipastikan itu seorang pria mulai memenuhi ruangan istana. Beberapa kali juga terdengar jeritana wanita wanita yang mungkin saat ini sedang diseret oleh para siluman karena telah melanggar perjanjian pesugihan yang mereka lakukan.
"Tolong lepaskan saya! mohon ampun raja! mohon ampuni kesalahan kami!"
"Tolong lepaskan kami dan beri kesempatan untuk kami hidup!"
"Tuhan! tunjukan kekuasaanmu! tunjukan kebaikanmu aku sangat tersiksa disini"
Antareksa terdengar sedikit bersuara menahan tawa. Ia kemudian tertawa kecil sehingga membuat Maria menoleh kearahnya.
Dengan suara yang pelan seperti berbisik, Maria mulai bertanya pada pria dingin yang tak jauh dari tempatnya duduk.
"Kenapa kau tertawa?"
"Kau tak merasa ingin tertawa hah? apa kau tuli atau bodoh? orang orang disana memohon ampun pada bangsa kami dan masih sempat sempatnya meminta bantuan tuhan padahal mereka sendiri yang memutus hubungan dengan tuhannya dan malah memilih bangsa kami. Sangat lucu'
Maria tertegun, perkataan Antareksa sontak saja membuatnya sadar akan kesalahan yang orang orang diluar lakukan. Mereka memilih menyekutukan tuhannya karena ingin kekayaan didunia dan mereka pun mendapatkan apa yang diinginkan namun hubungan mereka terputus dengan tuhannya.
Disaat seperti ini, kesusahan, kesakitan serta penderitaan yang mereka alami, mereka kembali mengingat tuhan dan tanpa rasa malu meminta bantuan serta mukzizat dari sang penciptanya. Sungguh miris.
...Kau hidup karena tuhanmu...
...Tapi kau hidup hanya karena kesenanganmu...
...Kau bahagia dengan pencapaianmu...
...Tapi kau tak ingat siapa yang sudah membantumu...
__ADS_1
Antareksa bergumam pelan namun terdengar jelas oleh Maria.
"Apa yang kau katakan barusan?" Maria bertanya mengenai maksud dari ucapan pria di depannya.
"Sudah kau abaikan saja. Maria kita nikmati jeritan kesakitan yang mereka rasakan ditempatku"
Seringai mengerikan yang ditunjukan Antareksa berhasil membuat Maria bergidik ngeri. Pria didepannya adalah seorang siluman namun ia cukup bijak mengenai hidup seorang manusia. Entah karena ibunya yang juga manusia atau pun dirinya yang masih memiliki rasa iba terhadap hidup sang pendosa,yang pasti perkataan Antareksa mampu membuat Maria sadar bahwa sebagai manusia ia harus taat pada tuhan.
"Kumohon belas kasih kalian! aku sudah memberimu tumbal tujuh ketutunanku sendiri tapi kau masih ingin meminta nyawaku sendiri!" teriak seorang pria dari arah luar.
"Kau tega membiarkan tujuh keturunanmu dimakan oleh bangsaku tapi kau takut dimakan oleh bangsaku. Benar benar picik"
Antareksa kembali menimpali perkataan manusia yang tengah diseret para siluman dengan perkataan yang cukup nyeleneh namun memang benar kenyataannya. Maria hanya mentap pria ia itu dan kembali berusaha untuk tenang tak merasa takut dengan apapun yang ia dengar dari arah luar.
Sesekali terdengar dentuman keras dari arah luar dan jeritan serta perkataan memohon dari mulut para manusia yang tengah merasakan kesakitan itu. Antareksa sesekali tertawa dan kembali mencoba menahan tawa kala mendengar perakataan yang ia rasa sangat lucu.
"Ikitlah tertawa bersamaku Maria agar hidupmu tak selalu tegang"
Maria? baru kali ini ia mendengar pria dingin itu memanggil namanya. Entah kenapa Maria merasa sangat aneh dengan sikap Antareksa yang bersikap dingin, angkuh dan egois namun dia sangat perhatian.
"Apa kau panggil namaku tadi?" Maria bertanya meyakinkan
Antareksa buru buru terdiam dan kemudian fokus kembali menertawakan jeritan dari arah luar dengan sangat pelan. Ia acuh dengan perkataan Maria seolah olah ia tak pernah mendengarkannya.
"Dasar pria aneh" Maria bergumam pelan.
"To...llong..Ampuni saya"
Dug!
Suara keras berhasil membuat Maria terlonjak kaget. Antareksa yang paham dengan jenis penyiksaan itu pun kemudian menyeka air matanya yang keluar karena asik tertawa sejak tadi.
__ADS_1
"Itulah akhir dari manusia yang ingin hidup bahagia dengan harta namun lupa dengan penciptanya"