RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
Heran


__ADS_3

Danu yang tengah menatap pada Ria pun semakin yakin untuk membuat wanita itu pergi dan menjauh dari kehidupannya. Ia tak ingin memiliki istri yang mempunyai penyakit mental seperti Ria. Danu pun mulai berinisiatif membujuk Mira agar mau menjadi istri keduanya.


Namun semenjak kedatangannya kerumah sakit, Danu belum sekali pun melihat gadis tersebut.


"Dimana Mira?" tanya Danu pada Sarah.


Sarah yang heran dengan sikap ayahnya hanya mampu menghela nafas dan tersenyum agar hatinya sedikit membaik.


"Mira mungkin sedang di toilet ayah. Ayah tunggu saja disini. Ibu pasti sangat membutuhkan kehadiran ayah"


Danu menatap ke sekeliling ruangan untuk mencari Mira. Bahkan saat mendengar jawaban putrinya, Danu merasa bahwa ia sangat takut kehilangan gadis cantik itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi kemarin malam ayah?" tanya Sarah dengan penasaran.


Danu yang tadinya bungkam mulai berusaha membuat suasana agar tenang dan menceritakan semua yang terjadi padanya dan Ria.


"Tapi apakah ayah yakin bahwa arwah itu adalah istri ayah?" tanya Sarah dengan ragu.


Danu yang penuh dengan keyakinan pun menganggukan kepala dan bersemangat menceritakan bahwa dirinya saat itu sangatlah lemah sehingga tak mampu menyelamatkan Ria.


"Ayah benar benar pengecut. Ayah tak mampu melawan seta*n itu dan membuat ibu bernasib malang seperti ini" Danu menggenggam tangan Ria agar Sarah dan Bi Darsih yang saat ini melihatnya percaya dengan ucapannya.

__ADS_1


"Lalu apa yang bisa Sarah bantu ayah?"


Danu terdiam. Ia sebenarnya tak membutuhkan putrinya tersebut. Ia hanya membutuhkan Mira dan membutuhkan balaian gadis itu agar hatinya sedikit lebih tenang.


"Ayah hanya ingin kau tak terlalu ikut campur dengan urusan ayah. Ayah tak mau kamu kenapa napa, apalagi kamu adalah putri ayah satu satunya"


Sarah tersenyum, baru kali ini ayahnya kembali bersikap manis padanya.


"Sarah akan membantu ayah dengan doa dan Sarah juga akan membantu sebisa yang Sarah lakukan. Ayah tetaplah bersama ibu dan lindungi ibu" Sarah memeluk tubuh Danu namun segera Danu menyingkirkan tubuh putrinya tersebut.


Entah kenapa Danu begitu merasa risih dengan Sarah padahal dulu ia sangat ingin sekali dekat dengan putrinya tersebut dan tak bisa jauh jauh darinya.


Pagi ini mentari bersinar begitu sangat terik.


Mata Sarah yang masih merasakan kantuk pun perlahan mulai terbuka.


"Ini sudah pagi" gumam Sarah dengan pelan.


Gadis itu mengucek matanya yang masih terasa berat dan mulai menatap sekeliling kursi tempat ia tidur.


"Kemana ayah?"

__ADS_1


Sarah mulai menatap kursi sampingnya yang kosong padahal sebelumnya sang ayah masih duduk disampingnya.


Sarah bangkit dan mengecek kondisi ibunya yang masih saja menutup mata. Ia benar benar tak menyangka, ibunya yang begitu tegar dan berani kini tergeletak lemas tak berdaya diatas ranjang rumah sakit.


Luka ditangan ibunya cukup dalam hingga mungkin membuat ibunya itu kehilangan banyak darah dan mengalami trauma yang berat.


"Non sudah bangun?" tanya Bi Darsih yang baru saja sampai di kamar tempat majikannya dirawat.


"Ia bi Sarah sudah bangun."


"Ini non diminum dulu susu hangatnya" Bi Darsih menyodorkan secangkir susu hangat kepada Sarah yang tengah berdiri menatap ibunya.


"Terimakasih bi"


Sarah mengambil susu yang sudah disiapkan Bi Darsih dan menegaknya sampai tandas. Ia bahkan mulai terlihat kembali berenergi setelah mendapatkan minuman bernutisi tersebut dari asisten rumah tangganya.


"Oh ya bi, ayah kemana?" tanya Sarah tiba tiba.


Bi Darsih terdiam dan mencoba mengingat ngingat perkataan majikannya sebelum pergi.


"Emh sebentar non.Tuan tadi pergi ke.....Oh ya, tadi Tuan Danu pergi ke kantor polisi untuk dimintai keterangan mengenai kasus yang terjadi dirumah. Sepertinya tuan sedang di mintai penjelasan sebab pelakunya kan bukan orang, jadi mungkin para polisi butuh bukti kuat untuk menyatakan bahwa kasus ini bukanlah kasus yang melibatkan seseorang"

__ADS_1


__ADS_2