RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
Senang


__ADS_3

Bi Darsih yang mendengar keributan dari arah luar ruangan majikannya segera pergi menuju arah tempat keramaian. Dari sana ia mulai mendnegar tangisan yang tak asing di telinganya. Bi Darsih mulai membelah kerumunan dan tampaklah, Sarah tengah menangis tersedu sedu disana.


Bi Darsih berlari dan memeluk tubuh gadis tersebut.


"Kenapa non? Ada apa ini? Non kenapa? Tanya Bi Darsih dengan panik.


Jari telunjuk Sarah mulai menunjuk ke arah mayat yang sedang dokter dan para suster pi dahkan ke ruang otopsi. Bi Darsih pun mulai bangkit dan menggenggam tangan sang dokter agar mayat gadis yang belum Bi Darsih lihat itu jangan dulu di pindahkan.


Kain penutup mulai di buka secara perlahan olehnya, dengan rasa takut dan jantungnya yang berdetak cukup kencang, Bi Darsih mulai menatap wajah yang sangat bengkak dan terdapat beberapa luka disana. Rambutnya yang mulai rontok di kepala membuat Bi Darsih sedikit terkejut ketika sadar bahwa mayat itu adalah Mira.


Bi Darsih menggelengkan kepala dan air matanya mulai tak bisa terbendung lagi.

__ADS_1


"Ini tak mungkin! Ini pasti mimpi. Mira pasti baik baik saja. Ini bukan Mira kan non?"


Bi Darsih mulai menghampiri Sarah yang duduk di atas lantai. Sarah bahkan hanya diam dengan tangis yang mengakir deras di matanya.


"Bagaimana mungkin ini terjadi? Kemarin dia masih hidup dan masih memeluk tubuh bibi. Kemarin dia bercerita banyak hal pada bibi. Dia trlihat sangat cantik. Ini pasti ada orang jahat yang membunuhnya"


Dokter menghela nafas kasar. Ia pun tak menyangka bahwa kejadian aneh akan ia temui di rumah sakit ini. Sang dokter bahkan kemarin masih melihat Mira berjalan di lorong rumah sakit dan masih tampak sehat. Namun, prediksi kematian yang ia lihat bahwa Mira meninggal akibat kekerasan fisik dan dapat terlihat jika badannya mulai membusuk seperti telah lama meninggal.


"Kami akan membawa korban ke ruang otopsi. Diharap anda tetap memberiakn informasi yang jelas pada pihak kepolisian jika nanti ada yang bertanya tentang mayat ini. Saya tahu ini cukup aneh dan mengejutkan. Namun saya juga berharap anda bisa tabah dan ikhlas"


"Ayah kemana bi?" tanya Sarah dengan lemas.

__ADS_1


"Tuan Danu sedang pulang ke rumah non. Entah apa yang ia ingin lakukan tapi sepertinya ayah non ingin menikah dengan seseorang"


Sontak saja Sarah terkejut. Mana mungkin ayahnya mau menikah lagi padahal sang ibu jelas jelas masih ada dan saat ini sedang sakit.


"Tidak. Ini tak mungkin! Ayah pasti sedang beristirahat dirumah! Ia takan mungkin menikah lagi! Mana mungkin dia melakukan ini padahal jelas jelas ibu sedang sakit"


Bi Darsih memeluk tubuh Sarah agar gadis itu sedikit tenang. Hingga tak lama kemudian Sarah pun mendengar sebuah bisikan di telinga yang tak lain adalah suara Maria.


"Danu memang kejam. Kini ayahmu akan membuang ibumu sama seperti ibuku. Kau bahkan akan disiksa dan diperlakukan layaknya sampah sepertiku. Bunuh! Bunuh Danu "


"Tidak! Tidak! Tidak!" Sarah memegang kedua telinganya dan mulai menangis meratapi nasibnya serta ibunya. Ia bahkan tak tahu dosa apa yang ayah serta ibunya lakukan selama ini hingga membuat Sarah kena imbasnya.

__ADS_1


Gadis itu pun berlari menuju ruangan temoat ibunya di rawat. Ria tampak sedang berbicara sendiri seraya memukul mukul tangannya ke arah kepalanya. Ria benar benar sudah kehilangan kewarasannya akibat trauma dari gangguan Maria.


Arwah Maria tampak senang dan tersenyum menyeringai di pojok ruangan rumah sakit.


__ADS_2