RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
Eksekusi


__ADS_3

Suara besar nan berat itu berasal dari ibl*s yang melakukan perjanjian dengan Danu. Dukun yang membantu Danu tertawa dengan kencang ketika melihat kehadiran sosok menyeramkan tersebut.


"Hahaha ada apa kalian memangilku hah?" Ibl*s itu tertawa hingga memperlihatkan taringnya.


"Kami sungguh ingin menumbalkan wanita bernama Nirmala sekarang juga" Dukun itu segera mengambil foto Nirmala yang tengah tersenyum


"Baiklah dengan senang hati aku akan memakannya"


Danu dan Ria tampak senang. Ia kemudian tampak saling bertukar senyum satu sama lain hingga keduanya akhirnya menganggukan kepala kearah si mbah dan mulai merafalkan beberapa ajian yang si mbah ucapkan.


Nirmala yang saat ini tengah berada dirumah sakit menjaga Maria tampak pucat pasi hingga membuat Bi Darsih begitu ketakutan.


"Nyonya apakah nyonya sedang tak enak badan? ayo kita periksa sekarang" wanita paruh baya itu dengan cekatan memegang tangan Nirmala yang mulai dingin.


"Aku tak papa bi. Hanya saja nafasku terasa sesak"


"Kalau begitu aku akan panggilkan dokter" Bi Darsih segera berlari meninggalkan Nirmala dan Maria yang saat ini berada diruangan yang sunyi dan sepi.


Jarum jam sudah menujukan pukul dua belas malam. Rumah sakit yang tadinya begitu ramai mendadak sepi dan sunyi. Tak ada aktivitas apapun yang dilakukan dokter maupun para perawat.


" Dok! dokter!" Bi Darsih nampak berlarian mengelilingi koridor rumah sakit namun tak kunjung juga menemukan tenaga medis maupun orang dirumah sakit tersebut.


Lama sekali Bi Darsih berlari namun tak kunjung menemukan dokter maupun suster . Dan anehnya lagi Bi Darsih yang sejak tadi berlari tak kunjung menemukan lobi rumah sakit dan hanya berlari lari disitu situ saja.


"Astagfirullah Ya Allah ada apa ini" Bi Darsih yang mulai ketakutan beberapa kali mengucap istigfar.


*******


Maria yang saat ini sedang bersama Antareksa tiba tiba saja merasa ada yang aneh dengan dirinya. Entah kenapa jantungnya terasa begitu panas dan ia pun kesulitan bernafas.


"Tolong panggilkan raja kumohon" Maria memegang dadanya dan memohon pada pria disampingnya tersebut.


"Kau kenapa? jangan berpura pura didepanku!" Antareksa mulai bangkit dan berjalan meninggalkan Maria.


"Kumohon kali ini tolong ban...tu ak..u" Maia kemudian terkulai lemas diatas lantai hingga membuat Antareksa panik dan segera membaringkan tubuh Maria diatas ranjang.


Ia yang panik pun segera berlari menuju sang raja dan mengatakan keadaan Maria yang tiba tiba saja tak sadarkan diri.


"Maaf baginda, istri anda tiba tiba saja tak sadarkan diri"


Raja pun bangkit dan mulai berlari menuju kamar Maria.


"Bagimana mungkin ini bisa terjadi?" raja bertanya pada Antareksa.

__ADS_1


"Entahlah tiba tiba saja ia merasakan dadanya panas dan akhirnya ia pun jatuh tak sadarkan diri"


Antareksa dan raja yang begitu panik akhirnya sampai didepan pintu kamar Maria. Keduanya mengecek denyut nadi dan nafas Maria yang nampak terhenti.


"Gawat! dia akan mati"


"Apa!" Antareksa yang terkejut segera menepuk pelan pipi Maria.


"Bangun kau wanita sombong! tak bisakah kau tak berpura pura seperti ini!"


Raja pun segera mengeluarkan ilmunya dan mencoba menerawang kemana Maria akan dibawa. Tiba tiba saja tubuh Maria tamoak pudar dan akan menghilang.


"Kenapa lagi dengannya yang mulia?"


"Kurasa ada sosok iblis yang bersangkutan dengan keluarganya saat ini. Ibunya akan dijadikan tumbal namun ia terus saja memanggil Maria dalam detik terakhirnya hingga membuat jiwa Maria pun berontak dan keluar dari portal kita. Jika sampai Maria tak bisa kita ambil kembali maka ia akan mati bersama ibunya


"Tolong bantu dia kakak"


Raja pun menoleh pada Antareksa yang negitu khawatir dengan Maria.


*******


Saat ini Maria tiba tiba saja berada didalam kamarnya dan melihat sekeliling rumahnya yang nampak gelap gulita.


Perlahan lahan Maria kemudian bangkit dari ranjangnya dan mulai berjalan mencari ibunya.


"Ibu, Maria sudah kembali"


Raut wajah bahagia terpancar dari wajah Maria saat ini.


Ia bahkan tak tahu jika saat ini dirinya belum sepenuhnya kembali karena hanya jiwanya saja yang masuk kedalam dimensi yang lainnya lagi.


"Tolong!" suara Nirmala yang kesakitan sontak saja membuat Maria berlari mencari sumber suara.


"Ibu dimana ? Maria pulang ibu!" Teriakan Maria sangat keras hingga membuat seluruh ruangan dapat mendengar suaranya.


"Tolong ibu nak!"


Maria berlari menuju kamar ibunya dan kosong tak ada siapapun disana.


"Ibu dimana?"


"Jangan bunuh aku kumohon" Nirmala merintih memohon pada seseorang yang Maria pun tak tahu siapa mereka.

__ADS_1


Maria terus mencari sumber suara dengan hati hati. Ia mencari hingga sampailah dikamar yang sering dijadikan tempat Tante Ria tidur dan tinggal dirumahnya.


Perlahan lahan Maria melihat kedalam kamar karena pintunya sedikkt terbuka.


"Ibu" ucap Maria pelan.


Mata Maria terbelalak karena terkejut ketika melihat sosom hitam tinggi besar dengan tanduk dikepalanya tengah menjilati tubuh ibunya.


Maria membungkam mulutnya sendiri agar deru nafas serta suaranya tak terdengar oleh sosok menyeramkan tersebut. Dari kejauhan terlihat sosom itu tengah memegang sebuah kapak besar ditangan kirinya hingga tak lama kemudian kapak itu dihujamkan ke tubuh sang ibu.


"Ibu!!! tidak!!!"


Spontan saja Maria berteriak dengan kencang hingga membuat ibli* itu menoleh kearahnya.


Maria yang tak perduli dengan iblis itu kemudian berlari dengan sangat kencang berusaha menghindari ibl* yang sudah menghabisi ibunya.


Tubuh hitam pekat itu terus saja mengejar Maria, hingga ia pun akhirnya terpojok di pintu depan rumahnya.


"Kau siapa hah? kenapa kau bunuh ibuku?"


Maria memberanikan diri bertanya pada ibl* tersebut.


"Hahahahah aku adalah anak buah dari ayahmu sendiri"


"Tidak! tidak mungkin ayah melakukan ini!"


"Kaarena kau sudah melihat kematian ibumu maka kau juga harus mati bersamanya"


Maria menggelengkan kepala dengan cepat


" Tidak! aku tak mau mati oleh ibli* buruk rupa sepertimu!"


"Apakah kau tak sayang pada ibumu? Kau mau membiarkannya mati sendirian?"


Maria bergeming. Rasa takutnya seketika sirna setelah mendengar dan kembali membayangkan ketika kapak itu menghujam tubuh sang ibu.


"Bagus. Ayahmu pun sudah muak deganmu Maria! kau pantas untuk mati sekarang!"


Ibl* itu mendekati Maria dan mulai mengendus bau tubuh Maria. Maria hanya terdiam dan tak dapat melakukan apa apa.Dirinya begitu terguncang ketika melihat kematian ibunya yang tragis, terkebih lagi ketik mengetahui bahwa yang telah membunuh ibunya adalah ayahnya sendiri.


Saat kapak itu akan menghujam tubuh Maria, tiba tiba saja ular besar muncul dari arah pintu hingga membuat ibl* itu terlempar jauh menubruk tembok rumah Maria.


Tubuh Maria yang kaku dan diam, segera dimakan oleh siluman ular itu yang tak lain adalah sang raja dan mereka pun masuk kedalam portal emas dibalik pintu yang sudsh disediakan Antareksa.

__ADS_1


Dengan cepat Antareksa menutup kembali portal dunianya ketika Maria yang berada didalam mulut kakaknya masuk kembali ke portal kerajaannya.


__ADS_2