
Antareksa pun pergi meninggalkan Maria sendirian didalam kamarnya. Ia begitu marah mendengarkan hinaan Maria tentang ibunya sampai sampai ia pun pergi dengan tangan yang terkepal.
Maria menatap punggung lelaki itu yang mulai menjauh dari pandangannya. Ia menatap ointu yang mulai menutup dan berjalan menuju jendela kamar tersebut.
Maria sangat rindu ibunya. Ia takut jika ibunya kenapa napa dan ayah serta selingkuhannya akan menyakiti ibunya.
Tak terasa air matanya mentes begitu saja. Ditempat ini ia bahkan tak bisa melakukan kewajibannya sebagai umat yang taat beribadah karena setiap ia mengingat tentang ibadah, hati serta badannya akan terasa sakit dan panas.
Maria menyeka air matanya yang terus saja mengalir dan mulai mengelilingi kamar Antareksa. Kamar bernuansa hitam dengan ranjang yang sangat besar serta tak ada hiasan selain lukisan besar berisi pria dan wanita di dinding kamar tersebut membuat Maria terpana menatapnya.
Wanita bermahkota indah berwarna putih dengan permata biru, serta seorang anak pria yang berkulit sangat pucat serta berhidung mancung tengah memasang wajah yang datar. Maria yakin bahwa sosok itu adalah ibu Antareksa dan Antareksa sendiri.
Kemanakah ibu ratu yang merupakan ibu dari pria tersebut. Mungkin karena Maria baru saja sampai diistana ini jadi ia tak melihat ibu serta ayahnya Antareksa yang merupakan pemimpin kerajaan siluman tersebut.
Maria pun yang saat ini merasa lelah akhirnya berbaring ditempat tidur pria dingin itu sampai sampai tak terasa akhirnya ia pun tertidur dengan sangat pulas.
****
Disisi lain, Nirmala yang sudah mengetahui akan penyalit yang diderita Maria hanya mampu menangis di rumah mewahnya dengan pandangan terus menatap anaknya yang masih saja tertidur. Sejak dirinya bisa pulang dari rumah sakit, Nirmala melihat ke rumah suaminya namun tak ada Maria disana.
Nirmala memanggil manggil nama anaknya namun tak ada jawaban. Ia hanya melihat Ria yang begitu santainya sedang menonton televisi dirumahnya. Tanpa basa basi, Nirmala pun menjambak rambut sahabatnya dengan sekuat tenaga dan mulai menanyakan keberadaan anaknya.
"Heh kau wanita murahan! cepat katakan dimana anakku hah?! apa kau sudah mengusirnya dari rumah ini?! katakan cepat?!"
Dengan menahan sakit, Ria hanya meringis seraya mulai tersenyum mendapati pertanyaan yang keluar dari mulut Nirmala.
"Anakmu mungkin sedang bersenang senang dengan anak pria. Kau tak perlu cemas sahabatku, dia sudah besar dan dia pasti sedang berpesta dengan mereka hahahah"
Nirmala yang marah akhirnya menjambak lebih keras lagi rambut Ria hingga ia pun tak tahan dan mulai mendorong tubuhnya dengan keras keatas lantai.
__ADS_1
"Dasar kau perebut suami orang! cepat katakan dimana anakku hah?! jika tidak aku akan melaporkanmu kepolisi"
Ria pun bangkit dan mulai membersihkan pakainnya yang kusut. Ia merapihkan rambutnya yang terlihat acak acakan dan mulai berjalan mendekati Nirmala.
"Anakmu sedang dirumah sakit sekarang! dia mungkin overdosis karena meminum obat haram"
Nirmala membulatkan mata dengan sempurna, ia begitu terkejut mendengar perkataan Ria yang menyaatakan bahwa anaknya saat ini sedang sakit.
"Dimana anakku dirawat ? katakan Ria!"
Ria tersenyum sinis dan mulai berjalan menatap jendelan.
"Tanyakan saja sama suamimu. Kau adalah istrinya dan ibu dari anakmu. Mana aku tahu dimana anakmu dirawat. Tanya saja sama Mas Danu. Aku tak ada waktu menimpali setiap ocehanmu"
Ria pergi meninghalkan Nirmala yang masih bingung dengan keadaan Maria yang tiba tiba saja sakit. Ia kemudian menelpon Danu dan tak mendapati jawaban darinya. Beberapa kali Nirmala menelpon suaminya dengan perasaan cemas namun tak ada jawaban.
Hingga pada akhirnya Danu pun mengangkat telepon Nirmala dengan perasaan gusar.
"Tahu darimana kau?"
"Cepat katakan saja dimana anakku dirawat? aku akan datang untuk menjaganya saja kumohon katakan dimana Maria mas. Huhu" Nirmala menangis dengan keras.
"Aku berada dirumah sakit Cendrawasih. Kau datang kesini dan jangan buat keributan. Aku akan jelaskan semuanya dirumah"
Tanpa jawaban Nirmala pun segera berjalan diikuti oleh Bi Darsih dibelakangnya. Ia kemudian pergi menuju rumah sakit yang dimaksud oleh Danu untuk melihat Maria putri semata wayangnya.
Dengan tubuh yang kurus dan ringkih Nirmala bersikukuh untuk pergi menuju tempat anaknya dirawat. Bi Darsih hanya bisa terdiam melihat majikannya yang tak henti henti meneteskan air mata. Bi Darsih pun ikut kaget ketika mengetahui bahwa anak majikannya sakit padahal sebelumnya Maria baik baik saja dan bahkan berkirim pesan dengan ibunya.
Sesampainya dihalaman rumah sakit tempat sebelumnya ia dirawat, Nirmala pun berlari menuju lobi rumah sakit untuk menanyakan dimana tempat anaknya dirawat. Hingga saat ia sudah tahu dimana ruangan tempat Maria dirawat, dengan tubuhnya yang masih terasa lemas, Nirmala berlari menuju kamar tempat putrinya dirawat.
__ADS_1
Pintu terbuka dengan lebar, terlihat tubuh putrinya sudah terpasang banyak alat ditubuhnya dan tak lupa alat untuk pernapasan ikut terpasang dihidubg Maria. Langkah gontai Nirmala menuju putri satu satunya itu.
Nirmala begitu sedih melihat tubuh putrinya yang sehat kini terdiam dan tak bergerak sedikitpun diatas ranjang.
Dielusnya pucuk kepala Maria dan diciumnya dengan pelan. Nirmala begitu menyayangi Maria hingga ia pun tak tahan ketika melihat tubuh putrinya diam saja.
"Nak bangun, ini ibu nak. Ibu datang"
"Nak ibu datang. Kata dokter ibu sudah boleh pulang, kamu bangun nak. Ibu rindu"
Nirmala meneteskan air mata melihat Maria yang hanya diam saja. Sampai akhirnya ia pun terguncang dan segera menatap Danu yang hanya diam saja di pojok ruangan tersebut.
"Baji**n kau! kau apakan anakku hah?! katakan?!"
Danu mencoba menenangkan Nirmala yang mengamuk dan mencoba memukulnya.
"Aku bisa jelaskan sayang. Nanti kita bicara diluar" Danu mencoba menenangkan Nirmala.
" Cepat katakan baji**! brengs*! aku sudah kau sakiti lalu kenapa kau sakiti juga anakku hah?! dia itu darah dagingmu! kenapa kau tega melakukan semua ini pada kami hah?! kepar*!"
Nirmala berteriak histeris hingga membuat para suster dan dokter mencoba menenangkannya dan mengajalnya untuk keluar.
"Jika ibu terus saja membuat keributan disini, maka kami terpaksa akan mengusir ibu dari rumah sakit ini" ucap dokter serius.
Nirmala langsung terdiam dengan tatapan nyalang mengarah pada Danu. Ia begitu marah pada suaminya yang terus saja bungkam dengan keadaan putrinya.
"Kumohon biarkan aku bersama putriku dok! aku tak bisa jauh darinya" Nirmala memohon dengan tangisnya yang terdengar pilu.
"Jika anda ingin disini maka patuhi peraturan rumah sakit. Anda tak boleh membuat keributan serta kebisingan disini. Hormati seluruh pasien yang saat ini tengah dirawat"
__ADS_1
"Baik dok! baik! saya akan diam dan menjaga putri saya saja. Saya tak akan membuat keributan disini"