RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
Tersenyum


__ADS_3

"Lepas! Lepaskan aku! Kau sudah mati dan kau takan bisa menyakitiku Mala! " Ria tiba tiba saja berteriak dan membuat para suster berdatangan mengecek kondisinya.


"Lepaskan aku jala**ng! Kau sudah mati! Kau seharusnya berada di neraka!" Ria terus saja berteriak ke sudut ruangan.


Ia berhalusinasi melihat arwah Nirmala, padahal saat ini Maria masih berada didalam tubuh Mira dan tidak melakukan apapun. Sontak saja teriakan Ria membuat Sarah, Bi Darsih dan Mira berlari menuju ruangan tempat ia dirawat dan melihat kondisi Ria yang masih saja menjerit histeris.


"Suntikan obat penenang pada pasien!" perintah dokter pada perawat yang saat ini bersamanya.


"Baik dok"


Perawat itu mulai mengeluarkan suntikan dan mulai menyuntikan obat penenang ketubuh Ria. Wanita itu pun perlahan mulai sedikit lebih tenang hingga ia pun kembali tak sadarkan diri karena pengaruh obat.


Sarah yang melihat keadaan ibunya hanya bisa menangis di pelukan Bi Darsih. Ia masih terguncang dengan keadaan ibu serta ayahnya yang mendapatkan teror separah ini. Bagaimana mungkin keluarganya di teror sedemikian rupa jika tanpa ada alasannya.


Dan yang lebih parah lagi teror itu dilakukan oleh orang yang sudah meninggal tujuh belas tahun silam dan orang itu pun bukan orang asing. Sarah mulai teringat dengan buku catatan yang beratas namakan istri pertamanya. Ia kini berencana untuk menemukan jawabannya dari buku tersebut.


" Non yang sabar. Nyonya Ria pasti akan sehat kembali" Bi Darsih mencoba menenangkannya.


Mira hanya menatap Ria dengan pandangan penuh kemenangan. Ia bangga karena telah membuat Ria seperti orang gila dan terus terbayang dengan wajahnya.


"Bi, katakan yang sejujurnya pada Sarah. Sebenarnya siapa Nirmala itu? Katakan kenapa ia bisa meninggal? Dan katakan kenapa dia terus menganggu keluarga kita?"


Bi Darsih hanya bisa menghela nafas. Ia benar benar tak tahu harus berbuat apa sekarang. Ia benar benar takit dengan Danu dan Ria sebab ia pun tahu beberapa kali Danu malakukan hal diluar nalar dan Bi Darsih pun sebenarnya tahu bahwa Danu dan Ria menyembunyikan sesuatu.


"Bibi tak bisa mengatakan apapun padamu non. Namun, bibi bisa memberitahumu dengan cara lain. Yaitu masuklah ke kamar yang terkunci itu dan carilah jawabannya disana"


"Kamar yang terkunci? Apa kamar yang bibi maksud adalah kamar yang selalu dilarang ayah untuk dimasuki siapapun?"

__ADS_1


"Iya non. Kamar itu menyimpan semua jawabannya"


"Baiklah, kalau begitu nanti akan aku cari ssmua petunjuk disana untuk mengetahui apa yang sebenarnya ayah dan ibu lakukan"


Mira hanya diam, ia ingin tahu sejauh mana adiknya itu berusaha menyelamatkan ayah serta ibunya itu dari gangguan yang ia lakukan.


"Aku permisi dulu" Mira melangkah perhi menuju kamar mandi dan mulai memikirkan langkah selanjutnya.


Ia bahkan berjalan menuju halaman belakang rumah sakit untuk menenangkan pikirannya.


Wanita itu mulai duduk diatas kursi taman rumah sakit dan mulai menatap bintang bintang dilangit.


"Ibu, pagi akan segera tiba. Dan tinggal beberapa hari lagi aku bisa berkunjung di dunia manusia ini. Aku bahkan belum melihat makammu dimana dan aku bahkan belum datang menaburkan bunga untukmu. Maafkan aku ibu karena membuat reputasi ibu menjadi buruk karena wajahku sama persis sepertimu. Orang orang menganggap bahwa arwahku adalah dirimu dan aku tak memberikan penolakan ataupun bantahan atas penilaian orang orang terhadapmu. Tenang saja ibu, sebentar lagi balas dendamku akan selesai. Dan aku akan tinggal ditempat seharusnya aku berada"


Wajah Mira kian pucat tersinari oleh cahaya rembulan yang mulai kalah dengan sinar fajar yang akan muncul.


Sentuhan di pundaknya sontak saja membuat Mira terkejut.


"Apa kau mendengar semuanya?" tanya Mira dengan panik.


"Aku tahu kau sangat rindu ibumu dan aku pun tahu kau sangat menyayangi ibumu itu. Namun, yang sudah pergi takan mungkin kembali, jadi ikhlaskan saja semuanya. Dan maafkan aku karena selama ini selalu kasar padamu"


Mira mulai lega karena ternyata Sarah hanya mendengar kalimat terkahirnya saja. Sarah mulai duduk disamping Mira dan mulai mengeluarkan keluh kesah yang ia miliki dihatinya.


"Aku selama ini membenci dirimu karena ibu selalu membelamu disaat kau melakukan kesalahan, padahal sejak dulu ibuku sangat tak suka dengan gadis lain bahkan temanku disekolah. Entah kenapa ibu sangat perhatian padamu dan aku sangat benci itu. Tapi aku lebih benci ayah yang terus saja memandangmu dengan tatapan nakal yang membuatku risih dan jijik. Maafkan aku karena mengatakan hal ini padamu. Tapi, kau harus tahu aku tak ingin kau mengambil ayahku dari ibuku" Sarah menundukan kepalanya.


Mira mulai mengangkat wajah Sarah dan tersenyum kearahnya. Mira sangat sayang dengan adik tirinya itu sebab Sarah tak ikut campur urusan yang telah ibu dan ayahnya lakukan pada Nirmala.

__ADS_1


"Aku memaafkanmu Sarah. Aku justru meminta maaf karena setelah kedatanganku dirumahmu, ayahmu selalu saja membuat keributan dengan ibumu. Aku akan jujur padamu dan mengatakan semua yang aku simpan selama ini"


Mira mulai terdiam dan memikirkan apa yang harus ia katakan pada Sarah. Ia tak ingin Sarah berlarut larut bersedih karena kondisi ibunya, namun Mira ingin Sarah tahu apa yang sudah ayah dan ibunya lalukan.


"Aku tahu semuanya dan tahu apa yang ingin kau ketahui. Kau tak perlu terkejut dengan apa yang aku tahu, tapi Bi Darsih benar, jika kau ingin mencari solusi tentang semua yang terjadi pada kuargamu, maka carilah petinjuknya didalam kamar yang selalu terkunci"


Sarah mengerutkan kening mendengarkan ucapan Mira. Sarah bahkan tak menyangka dengan Mira yang berusaha memberikan petunjuk padahal sudah jelas jelas Mira adalah orang asing.


"Bagaimana mungkin kau bisa mengatakn itu? Kau tahu sesuatu tentang keluargaku? Apakah kau seorang anak indigo?"


"Kau tak perlu tahu tentang darimana aku mendapatkan semua informasi ini. Sekarang yang terpenting jika pagi sudah tiba, kau segera bacalah buku di kamar itu dan kau cari tahu apa yang selama ini ayah dan ibumu kerjakan untuk mendapatkan kekayaan"


"Aku sungguh tak mengerti apa yang kau katakan. Aku sungguh tak mengerti apa yang kau maksud"


"Waktuku sudah tak banyak lagi Sarah" Mira membelai pipi Sarah dengan lembut.


Sarah seketika terkejut ketika menyadari bahwa suhu tubuh Mira sungguh tak biasa. Gadis di dekatnya itu sangat dingin seperti es batu.


"Apa kau sedang sakit Mir? Kenapa kau sangat dingin? "


Mira menggelengkan kepala, ia tersenyum kearah Sarah dan mulai mengusap kepalanya.


"Akubtak sakit. Hanya saja hatiku yang sakit. Aku sudah menyimpan semua luka ini selama tujuh belas tahun dan aku tak bisa menyimpan semuanya lagi. Ku tahu umur kita sama. Namun, umurku jauh lebih tua darimu dan aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri. Belajarlah yang giat dan raih semua cita citamu. Aku bahkan tak bisa bersekolah sepertimu"


Sarah tertegun. Ia baru sadar bahwa ibunya pernah berkata bahwa Ria akan menyekolahkan Mira ke sekolah Sarah.


"Kau akan bersekolah di tempatku. Ibu pernah berkata bahwa kau akan disekolahkan bersamaku, untuk menjaga serta mengawasi diriku . Kau tak perlu sedih, aku akan mengajari semua mata pelajaran padamu"

__ADS_1


Mira menggelengkan kepala dan tersenyum pada adik tirinya tersebut.


"Tidak Sarah. Aku sudah tak bisa lagi bersekolah. Aku bahkan tak lama lagi harus pergi ke tempat aku berasal. Kau ingat aku dan aku akan selalu datang padamu nanti"


__ADS_2