RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
83


__ADS_3

Danu mengendarai mobilmya menguti suara dari ibl* tersebut. Hingga tak lama kemudian ia pun sampai didepan rumah sang dukun yang terbuat dari bambu dan kayu.


"Ck si*l! Sepertinya kita sudah di tipu oleh ib* itu. Sepertinya kita sengaja di sesatkan olehnya agar kita memberikannya tumbal* Danu bergumam dengan kesal.


"Dasar ibl* si**lan! Kita benar benar dijebak oleh tipu muslihatnya mas"


"Ya sudah kita turun saja dan segera temui si mbah agar bisa membantu masalah kita"


Danu dan Ria pun akhirnya turun dari mobil dan berjalan menuju gubuk tempat tinggal si mbah. Seperti biasa, walaupun keadaan hari ini sangat terang dan cerah, namun didalam hutan ini dan sekeliling rumah s mbah tampak sunyi dan hening.


Ria dan Danu pun tak tahu bagaimana kehidupan si mbah di tempat yang sudah jelas jelas tak ada penghuni lain selain dirinya sendiri.


tok! Tok! Tok!


Pintu diketuk beberapa kali oleh Ria. Seperti biasa tak ada jawaban apapun dari dalam.


Hingga akhirnya Danu dan Ria pun segera masuk kedalam rumah tersebut.

__ADS_1


"mbah" panggil Danu dengan pelan.


Gelap dan pengap adalah sensasi seperti biasa ia rasakan ketika melangkahkan kaki masuk kedalam gubuk tersebut.


Terlihat si mbah tengah memegang sesuatu di tangannya yang tampak begitu sangat menyeramkan.


"Kalian datang kemari untuk melenyapkan arwah itu kan? Tanya si mbah dengan suara yang serak.


Dengan cepat, Danu dan Ria menganggukan kepala yang berarti memang benar tujuannya datang kesini untuk mengusir arwah yang akhir akhir ini selalu saja meneror kediamannya.


"iya mbah. Dia adalah Nirmala, istri pertama yang saya tumbalkan tujuh belas tahun silam"


"Apa kau yakin dia adalah Nirmala?" tanya si mbah dengan wajah datar.


Danu dan Ria saling pandang. Mereka tak mungkin salah lihat. Sudah beberapa kali mereka melihat wajah arwah itu walaupun hancur dan banyak belatung.


"Tentu saja mbah, kami yakin dia adalah Nirmala. Sudah beberapa kali kami melihat wajah busuknya"

__ADS_1


"Tapi aku tak yakin itu adalah dia. Sebab energinya walaupun sama namun ada beberapa energi yang sedikit berbeda. Aku tak bisa mendeteksinya sebab ia memiliki kekuatan yang berasal dari raja siluman"


"Raja siluman? Bagaimana mungkin? Sudah jelas jelas mbah sendiri yang melakukan ritual itu dan menyebabkan jiwa Nirmala dimakan habis oleh ibl*s pesugihan itu. Lalu apa kah mungkin jika jiwa seseorang yang sudah menjadi tumbal akan bisa membalaskan dendam?" Danu bersikukuh bahwa arwah yang selalu menerornya adalah Nirmala.


"Tentu tak bisa, jiwa yang sudah dijadikan tumbal takan mungkin terbebas dari dalam ibl* itu jika bukan karena kuasa tuhan. Hanya kuasa tuhanlah yang bisa melakukan hal yang mustahil menjadi nyata"


"Sudah jangan bawa bawa nama tuhan, toh mbah juga menyimpang dari ajaran agama. Selain itu mbah juga sudah bersekutu dengan ibl*" Ria tiba tiba saja mengatakan hal yang cukup kasar pada si mbah.


Dan sudah jelas, si mbah marah dan segera melempar sajen ke arah Ria dan Danu.


"Kalian benar benar orang sombong dan tak tahu etika! Kalian adalah orang yang pantas untuk ditumbalkan! Perkataanmu cukup membuatku sangat murka! Maka dari itu aku tak sudi membantumu ataupun menolong apapun yang kau inginkan lagi. Cepat perhi dari sini manusia bod*!"


Danu segera menyeret tubuh Ria agar bersimpuh di bawah kaki si dukun itu. Danu tampak marah dan kesal kepada Ria sebab Ria berani mengatakan hal seperti itu pada dukun yang selama ini membantu mereka.


"Ampuni saya mbah. Tolong maafkan kami. Maafkan ucapan istri saya mbah"


"Cuih! Kalian sudsh benar benar membuat hati saya sakit! Saya tak sudi melihat wajah kalian! Pergi sana!"

__ADS_1


__ADS_2