RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
92


__ADS_3

Sarah yang masih terkejut segera memakai setelan kaos dan celana pendek miliknya. Ia kemudian diam dan menatap sekeliling kamarnya yang nampak begitu sepi.


"Apa yang barusan terjadi padaku?" gumam Sarah pelan.


Sarah berjalan menuju meja riasnya dan mulai membawa sisir rambut ditangannya. Ia terduduk diatas kursi dan menatap cermin yang memantulkan wajahnya.


Hidung yang mancung, mata yang besar serta kulit yang mulus membuat wajah Sarah terlihat sangatlah sempurna. Ia memuji dirinya sendiri dan tersenyum. Sarah bahkan melupakan kejadian yang baru saja terjadi.


"Entah siapa wanita yang malang itu. Yang jelas aku harus mencari tahu apa hubungannya denganku. Mengapa kejadian mengerikan itu terjadi padaku" Sarah perlahan lahan mulai menyisir rambut panjangnya.


Tak lama kemudian pantulan di cermin kini menjadi sangat menyeramkan, wajah dengan banyak bekas gigitan muncul tepat di hadapan Sarah sehingga gadis itu oun menjerit ketakutan dengan sangat kencang.


"Akhhhhhh!!!"


Wajah menyeramkan penuh darah itu tersenyum dengan bibir yang robek samoai ke pipi. Terlihat jelas darah menetesdari ujung bibirnya serta banyak sekali belatung bermunculan dari sela sela lubang bekas gigitan tersebut.


"Tolong aku nak" ucap lirih sosok tersebut.

__ADS_1


Sarah yang ketakutan pun berdiri dan mencoba beranjak pergi. Ia bahkan sampai terjatuh saking ketakutannya.


"Pergi dariku! Pergi! Jangan ganggu aku!" Sarah mengibaskan tangannya ke depan wajahnya.


Ia bahkan tak kuasa menatap sekeliling kamarnya yang kini mulai gelap padahal hari masih pagi.


"Tolong bantu aku. Tolong selamatkan putriku" Suara itu benar benar terdengar sangat pilu.


Sarah yang mengalami ketakutan sedikit mulai sedikit memberanikan dirinya membuka mata. Ia bahkan mulai sedikit bangkit dari posisi jatuhnya dan mulai berdiri.


"Si....siapa kau?" tanya Sarah pada bayangan hitam yang kini tepat berada di atas lemari pakaiannya.


"Akk..aku adalah...."


Belum sempat sosok itu berbicara pada Sarah, ketukan kencang dari pintu kamar Sarah berhasil membuat sosok itu pergi dan menghilang.


"Sarah! Sarah!" teriakan dari arah luar berhasil membuat Sarah merasa kesal.

__ADS_1


"Ya sebentar!" ucap Sarah dengan ketus.


Sarah berjalan untuk membuka pintu kamarnya. Tampak Mira sedang berdiri dengan nafas yang sangat terengah engah.


"Kau bicara dengan siapa tadi?"


"Apa urusannya dengan mu? Mau apa kau kesini?"


Mira terdiam. Ia bahkan bingung harus mengatakan apa sebab ia tahu bahwa ada energi negatif yang saat ini mengincar adiknya. Tapi sampai saat ini Mira tak dapat mengambarkan sosok misterius yang tadi berbincang dengan Sarah.


"Aku tadi mendengar kau sedang berbicara dengan seseorang. Dan aku kesini hanya untuk memastikan kau baik baik saja. Aku tahu kau sangat membenciku, namun aku tetap harus menjalankan tugasku menjaga mu dan memastikan kau aman" Mira mencari alasan yang tepat agar Sarah tak merasa curiga.


Mira bahkan mencuri curi pandang ke dalam kamar Sarah untuk melihat arwah yang tadi sedang mendekati adik tirinya tersebut.


"Kau tak perlu khawatir aku baik baik saja. Kau pergilah sana. Makan kek atau main. Kau bisa menonton tv atau pun membaca buku. Aku sedang ingin sendiri dan kau tak boleh mengangguku"


Mira yang masih fokus menatap ke dalam kamar Sarah pun mulai mendengarkan ucapan adiknya tersebut. Bahkan ketika Sarah menutup pintu kamarnya, Mira masih berusaha menatap kamar Sarah mencari sosok tersebut.

__ADS_1


Pintu ditutup dengan rapat. Mira mulai terdiam memikirkan siapakah sosok yang mencoba mendekati adiknya tersebut.


"Energi arwah itu benar benar tak baik. Untung saja aku datang tepat waktu. Tapi, siapa sebenarnya arwah itu? Mengapa semakin banyak gangguan ketika aku ingin membalaskan dendam pada Danu dan Ria. Aku harus segera mencari tahu" Mira mulai berjalan menuruni anak tangga dan menuju dapur.


__ADS_2