RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
64


__ADS_3

Sarah mulai menyelidiki tentang wanita yang meninggal di kampungnya dengan memberanikanndiri bertanya pada orang orang dikampungnya. Namun sayngnya para warga sudsh disogok oleh Danu dengan uanh sehingga banyak dari mereka menolak memberi tahu yang sebenarnya pada Sarah tentang arwah yang mereka kira adalah Nirmala.


Tanpa di duga duga ternyata Maria sebenarnya mengetahui tentang keingin tahuan Sarah dan mulai mengikuti gadis ikut kemana pun ia pergi. Sesekali Sarah yang sadar diikuti oleh makhluk halus, mulai merinding dan sering kali membaca ayat suci seingatnya saja.


Dengan demikian Maria pun pergi ketika Sarah sedang mengingat pada tuhannya tersebut.


"Apa benar, jika Bi Darsih tak mengetahui tentang arwah yang bergentayang di kampung ini? Aku rasa ada sesuatu yang dirahasiakan oleh warga sekitar dan ayah. Aku akan cari tahu semuanya sendiri" Sarah mulai mencari beberapa cara untuk berkomunikasi dengan hantu di internet dan tak ada satu pun cara yang ia gunakan mampu membuatnya menjadi seorang yang mampu berkomunikasi dengan makhluk gaib.


Hingga akhirny Sarah pun mulai terbaring di tempat tidurnya dan terlelap dengan pulas.


Arwah Maria yang saat ini tengah menatap Sarah dari pojok kamarnya mulai tersenyum dan sebentar lagi ia akan melakukan rencananya untuk membalaskan dendam pada Danu dan Ria.


Maria seketika menghilang, pergi menuju tempat tinggalnya yaitu di kerajaan siluman. Ia begitu senang sebab sebentar lagi ia akan memlaskan dendamnya selama ini.


Maria dengan santainya pergi menuju ruang makan dan segera mengambil beberapa potong daging sapi mentah diatas meja makan dan melahapnya sampai habis.

__ADS_1


Tak lupa ia pun meminum cairan kental berwarna merah didalam gelas dan mengelap sudut bibirnya perlahan dengan tangan.


"Sangat lezat" gumamnya pelan.


Tanpa ia sadari, Antareksa yang kini tengah berdiri di ambang pintu, begitu miris melihat kelakuan Maria yang kian hari kian berubah tak seperti yang ia kenal dulu.


Walaupun demikian sebisa mungkin Antareksa bersikap dingin agar Maria sadar dengan kesalahannya karena sudah menelantarkan darah dagingnya selama ini.


"Keluarlah, aku sudah tahu kau ada disini" ucap Maria yang menyadari keberadaan Antareksa di belakangnya.


"Mengapa kau selalu saja mengikutiku dan ingin tahu urusanku?" tanya Maria dengan ketus.


"Aku tak pernah mengikutimu! Aku pun tak ingin memandang wajahmu. Aku hanya datang kemari karena ingin mengambil makanan untuk putriku yang sedang sakit?"


"Cih! Sakit? Setan pun ternyata bisa sakit? Hahahah" Maria tertawa terbahak bahak mendengar jawaban Antareksa mengenai putrinya.

__ADS_1


Bagaimana mungkin putrinya sakit sebab jelas jelas ia adalah turunan siluman.


"Kau tak perlu menertawakan putriku. Kau bahkan tak tahu apa yang terjadi padanya. Bahkan kau pernah ingin tahu apakah putrimu sendiri adalah siluman atau manusia"


"Untuk apa aku mengetahui siapa sebenarnya anak siluman itu? Aku tak berminat mengetahuinya. Bahkan aku pun tak ingin tahu jenis siluman itu! Bahkan jika pun ia mati aku pun tak perduli"


Antareksa bangkit dan menggebrak meja dengan keras. Maria yang saat ini tengah duduk tertawa kecil dan mulai menatap nyalang kearah pria didepannya.


"Kenapa kau marah hah?! Apa kau tak terima dengan perkataanku? Lagi pula mengapa kau memperdulikan anakku dan kakaku itu hah?! Kakakmu saja ingin membunuhnya, lalu kenapa kau sangat menyayangi anak yang jelas jelas tak ada hubungannya denganmu?!"


Maria bangkit dan menatap dalam manik manik Antareksa yang begitu indah.


"Jika kau tahu kebenarannya maka kau akan diam. Ah tapi sudahlah, kau bahkan tak perduli dengan kebenaranny" Antareksa pergi berlalu meninggalkan Maria sendiri.


Jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, Maria sempat jatuh hati pada Antarkesa sebelum kematian ibunya. Bahkan Maria pun pernah menganggap bahwa Antareksalah satu satubya siluman baik yang bisa membantunya untuk keliar dari dunia ini. Namun harapnnya pupus, dan Maria oun telah mati rasa ketika mengetahui kabar bahwa ibunya sudab menjadi korban pesugihan yang dilakukan ayahnya sendiri. Bahkan Maria pun trut serta membenci sang raja dan Antareksa sebab tak pernah mengizinkannya untuk pulang ke jiwa aslinya hanya sekedar untuk memeluk tubuh ibunya saja.

__ADS_1


__ADS_2