
Sudah seminggu Nirmala dirawat di rumah sakit, namun tak satu kali pun Danu datang menjenguknya. Maria yang sering pergi untuk sekolah pun dengan berat hati meninggalkan ibunya walaupun cuman sekedar menuntut ilmu dan pergi berganti pakaian kembali kerumahnya.
Ada perasaan sedih dilubuk hati Nirmala kala menyadari satu fakta bahwa dirinya sudah tak cantik lagi dan tak berarti sama sekali dimata suaminya. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk bercerai dari suaminya tersebut.
"Dari segi kesehatan, pasien sudah mulai membaik dan denyut jantungnya sudah kembali normal. Aliran darah didalam tubuhnya juga sudah kembali normal hanya saja entah kenapa berat badannya kian hari kian menurun" ungkap sang dokter.
"Lalu apakah saya boleh pulang dok?" tanya Nirmala.
"Sekarang anda sudah bisa pulang, namun datanglah kembali seminggu sekali untuk melakukan pemeriksaan rutin. Saya sudah melakukan beberapa pemeriksaan pada tubuh anda, namun semuanya normal. Saya harap anda banyak mendekatkan diri pada sang pencipta. Selain itu saya harap anda banyak desamakan makanan yang sehat agar berat badan anda kembali normal"
Nirmala yang saat ini ditemani Bi Darsih pun menganggukan kepala dan mulai tersenyum ceria.
Dokter yang menangani Nirmala begitu aneh dengan keadaannya yang kian bertambah kurus dengan wajah yang pucat seperti mayat hidup. Dokter yang menanganinya pun sadar bahwa Nirmala bukan sakit biasa, melainkan ada ikut campur tangan ilmu hitam.
Tanpa disadari Maria yang baru saja pulang dari sekolah kini berada didalm rumah Danu dan bertemu dengan Ria yang sedang asik bersantai dengan minuman diatas sofa.
"Baru pulang kelayapan ya?" ucap Ria dengan tetap memperhatikan majalah yang sedang ia baca.
Maria yang saat ini baru saja pulang dari sekolah dan merasa sangat lelah langsung tersulut emosi dan berjalan kearah Ria.
"Sudah selesai membacanya ya?" Maria membalas perkataan Ria seraya menyiramkan jus jeruk ke majalah yang sedang ia baca.
"Apa apa kau ini hah! " bentaknya keras.
"Aku hanya membantu kau untuk meminum jus ini melalui majalah yang sedang kau kau baca saja" balas Maria seraya berlalu meninggalkannya.
"Kurang ajar kau ya!" Ria berteriak sangat kencang sedangkan Maria terus berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Ria yang begitu sangat kesal segera melemparkan majalah yang basah keatas lantai dan mulai memikirkan cara untuk membalas perbuatan Maria, anak sahabatnya tersebut.
"Lama lama kau akan ku bun*h juga kau" gumam Ria pelan.
Ia segera berjalan menuju kamarnya dan mulai menyiapkan tas serta uang beberapa lembar untuk membeli perlengkapan yang akan ia gunakan untuk membalas perbuatan Maria.
Danu yang kebetulan tak ada dirumah membuat Ria begitu leluasa untuk pergi sesuka hati dan melakukan apapun yang ia mau .
Ria memesan taksi dan segera menuju hutan tempat dukun spiritualnya sendiri tinggal untuk membantu rencananya. Hingga saat ia sudah sampai ditempat yang ia tuju. Ria keluar dari mobil dan memberikan sejumlah uang pada supir taksi tersebut.
__ADS_1
"Ini uangnya. Ambil saja kembaliannya" ucapnya ketus.
"Nyonya yakin mau turun disini?" tanya sang supir dengan heran.
"Tentu saja. Sudah pergi sana, jangan ikut campur urusanku"
Supir taksi pun menganggukan kepala dan segera pergi berlalu meninggalkan Ria didalam hutan sendirian. Ia begitu takut melihat sekelilingnya yang merupakan hutan belantara.
Ria berjalan sendirian menyusuri hutan hingga menemui gubuk tua didalam hutan yang terlihat seperti akan roboh.
toktoktok
Pintu diketuk beberapa kali oleh Ria. Pakaiannya yang sangat minim membuatnya sangat kedinginan.
"Dingin sekali disini" gumamnya.
"Masuk!" jawaban dari dalam rumah sontak saja membuat Ria masuk terburu buru karena udaranya begitu menusuk kedalam pori pori kulitnya.
"Kau yakin ingin menyingkirkan gadis itu hah?" tanya seseorang yang saat ini tengah menutup matanya dan menjilati sebuah bati akik berwarna merah.
"Masukan saja bubuk ini kedalam minuman atau makanannya. Dan pasti dia akan berhalusinasi dan perlahan mulai mati"
" Bagaimana bisa mbah?"
"Bubuk ini akan membuatnya diikuti oleh sesosok jin pria dan akan membuatnya diga**li oleh jin tersebut. Gadis itu akan diikuti oleh sosok ini yang akan terus perlahan mengisap darahnya melalui percum**buan itu"
"Ini tak masuk akal mbah"
Dukun itu hanya tersenyum mendengar ucapan Ria yang menyepelekannya.
"Kau mau aku buktikan pada dirimu sendiri hah?"
Ria pun segera menggelengkan kepala dan mulai mengambil bubuk tersebut karena dirinya ingin segera pulang.
"Ini uangnya mbah" ucap Ria menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah diatas meja.
"punya duit banyak, tapi gak pernah mau renov rumah. Aneh" Ucap Ria dalam hati.
__ADS_1
"Kau cepatlah pergi! uang milikku mau ku apakan terserah, kau tak perlu ikut campur!" tegas si mbah dengan tatapan tajam.
Ria yang terkejut dengan perkataan dukun itu segera pergi berlalu meninggalkan temoat tersebut dengan terburu buru.
Ia segera menelpon sopir taksi yang sudah menjadi langganannya yang tak pernah bertanya banyak hal. Selang beberapa lama, taksi yang sudah ia pesan pun akhirnya sampai dan melaju menuju kediaman Danu.
Ria yang baru saja turun dari taksi segera berjalan menuju ruang tamu dan disambut oleh Danu yang tiba tiba saja melu**t habis bibirnya.
"Nanti sayang. Ada Maria disini"
Tak perku menunggu waktu lama, Maruia pun turun dari tangga dan melihat Danu dan Ria yang salah tingkah.
"Sejak kapan kamu pulang? ayah kok gak lihat kamu dari tadi?" tanya Danu.
"Sejak kapan ayah perduli aku pulang atau tidak? apa ayah takut jika aku melihat hal menjijika.?" tanya Maria dengan datar.
Sontak saja Danu marah dan ingin sekali menampar wajah putri semata wayangnya.
"Tampar yah! tampar! aku sudah kebatl dipukul ayah! bahkan jika ayah mau melenyapkanku aku pun akan diam saja" teriak Maria dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
Ria yang sudah memiliki rencana pun segera menahan Danu agar tak larut dalam amarah.
"Sudahlah mas, biarkan saja dia" Ria menatap sinis pada Maria yang mulai menyeka air matanya.
"Masuk kamar cepat!"
"Tidak! aku akan menemui ibu dirumah sakit. Bahkan ayah tak mau melihat ibu setelah beberapa hari disana!" Maria yang mencoba membuka pintu segera dicekal oleh Danu.
Danu pun menatap nyalang pada Maria dan mulai menyeretnya untuk masuk kedalam kamar.
"Lepaskan aku! lepaskan!"
Danu terus menyeret tubuh Maria hingga saat ia sudah sampai dikamar putrinya, ia pun menghempaskan tubuh Maria dengan sangat keras kedalam kamar.
"Diam disini dan jangan mencoba coba untuk lari!" titah Danu pada putrinya yang terus saja menangis.
Dengan keras Danu menutup pintu dan menguncinya begitu saja. Ia bahkan tak memperdulikan air mata putrinya padahal sedari kecil ia bahkan tak rela setetes air mata pun jatuh dari mata indah putri kesayangannya.
__ADS_1