
Malam ini Mira sudah bersiap untuk menemui Antareksa. Ia kini sudah tahu siapa pelaku dari penculikan jiwa Sarah sebelumnya. Bahkan ia kini Mira akan menanyakan kenapa Antareksa menganggu rencananya.
Dengan lampu yang sengaja dimatikan, Mira mulai menutup seluruh kaca jendela yang terbuka dan menguncinya dengan rapat. Dengan ritual yang ia lakukan, akhirnya Maria pun bisa keluar dari tubuh tersebut dan menatap cermin didepannya.
Tak lama kemudian, Maria pun membacakan mantra untuk membuat celah antara dunia manusia dengan dunia siluman. Raja yang sadar akan ke inginan Maria yang datang ke tempatnya tampak begitu senang.
Dengan segera, raja membuka portal yang akan menghubungkan dunia manusia dan siluman dengan lebar. Maria yang sadar portal sudah terbuka, akhirnya masuk kedalamnya dan sampai di halaman kerajaan siluman.
Dengan sigap, beberapa siluman ular yang menjaga gerbang, membuka gerbangnya dengan lebar ketika melihat kedatangan Maria. Bahkan mereka pun tertunduk memberikan penghormatan untuk Maria sebab mereka sudah tahu bahwa Maria lah yang memberikan pewaris untuk sang raja.
Langkah yang tegap namun anggun, membuat Maria tampak dihormati oleh semua dayang serta para siluman yang tinggal dikerajan, terkecuali Kumala yang tak lain Kinanti.
Dari kejauhan Kumala yang tahu kedatangan Maria tampak menatap penuh dengan kebencian kearahnya. Ada rasa cemburu dan tak suka dihatinya sehingga membuat Kinanti tampak acuk dengan kedatangan Maria.
Bahkan saat mereka berpapasan, Maria tak menoleh sekalipun ke arah Kumala yang berada tepat di depannya.
"Tunggu!" seru Kumala dengan cepat.
__ADS_1
Maria menoleh dengan datar dan menatap Kumala dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Ada apa?" tanya Maria datar.
"Kau mau apa datang kemari? Apa kau ingin kembali tinggal disini hah? Sungguh enak sekali hidupmu Maria. Kau bahkan tanpa malu datang kemari setelah menelantarkan anakmu sendiri"
"Hahahahah, aku menelantarkan? Apa aku tak salah dengar? Aku bukan menelantarkan tapi aku membuang bagian yang memang bukan keinginanku! Kau tak perlu takut posisimu tersingkirkan olehku. Kau tetap aman di posisi ibu ratu yang maha agung. Aku kesini hanya untuk urusan yang penting. Oh dan ingat satu hal, aku tak akan merebut suamimu itu. Aku tak berminat sedikitpun" Maria kembali berjalan meninggalkan Kumala yang menatapnya dengan kebencian.
"Berani sekali dia mengatakan hal itu dan pergi tanpa rasa hormat padaku"
"Kenapa kau mencampuri urusanku?!" tanya Maria dengan lantang.
Antareksa yang sedang duduk menatap jendela kamarmya segera terhenyak ketika melihat Maria yang kini sudah berdiri di samping tubuhnya.
"Bisakah kau datang dengan sopan dan tak berteriak?" tanya Antareksa dengan cepat.
"Kau tak usah mengalihkan pertanyaanku. Sekarang jawab saja kenapa kau mencampiri urusanku?"
__ADS_1
"Maksudmu?"
Maria memalingkan pandangannya dari pria dihadapannya. Ia bahkan tersenyum melihat ekspresi Antareksa yang berpura pura tak mengerti apa yang sedang ia maksud.
"Kau tak perlu berpura pura bod**! Aku tahu kau kan yang sudah menculik jiwa Sarah kemarin? Dan kau juga mengatakan padanya bahwa ia memiliki seorang kakak perempuan yang tak lain adalah aku? Mengapa kau urusi urusanku hah? Apa yang kau inginkan?"
Dengan kekuatannya, Antareksa mampu menutup pintu dengan kencang tanpa menyentunya sedikitpun. Pintu tertutup rapat dan terkunci otomatis.
Antareksa bangkit dan kini tubuhnya berhadapan dengan Maria hanya berjarak satu jengkal saja. Terlihat Maria kini mulai gugup dan memalingkan wajahnya.
"Katakan sekali lagi dengan jelas!" tekan Antareksa pada Maria.
"Kenapa kau ikut campur urusanku hah!" Maria mulai mengangkat wajahnya sehingga kini wajahnya hanya berjarak sepuluh senti dari wajah pria dihadapannya.
Tanpa aba aba Antareksa langsung menc*m Maria dengan cepat. Maria yang mendapatkan perlakuan Antareksa yang tiba tiba hanya bisa terdiam. Bahkan seluruh tubuhnya seolah membeku.
Tanpa Maria ketahui, Antareksa selalu saja merindukan akan kehadiran Maria di hidupnya. Bahkan sekarang pun secara spontan, Antareksa melakukan hal demikian.
__ADS_1