
Gelap, hitam dan pekat didunia ini membuat Maria tak bisa membedakan antara siang dan malam, hanya suara siksaan yang menjadi penunjuk waktu siang dan malam di alam yang saat ini Maria singgahi.
Hidup dan mati seolah menjadi kenyataan yang saat ini ia rasakan. Tak ada teman, tak ada saudara membuat Maria hanya bisa diam membisu dan tak bisa menceritakan penderitaan yang selama ini ia dapatkan.
Antareksa adalah keturunan setengah siluman dan setengah manusia. Maria bahkan tak tahu jika gen Antareksa lebih dominan pada ibunya ataukah sang raja terdahulu.
Antareksa mulai menatap Maria yang terlelap diatas lengannya. Waktu yang ia habiskan dengan istri kakaknya sudah berakhir, ia kini harus kembali ke wujud sang kakak agar Maria tak curiga dan mengamuk karena sudah ditipu.
Dengan hitungan jari kini Antareksa sudah kembali merubah wujudnya menjadi sang raja dan bersiap untuk membangunkan Maria sebelum sang raja menyadarinya.
"Maria bangun" bisiknya pelan ditelinga wanita yang hanya merespon dengan sedikit gerakan saja.
"Sayang bangunlah sebentar lagi ada jamuan makan"
Tanpa diduga ketika mendengar kata jamuan makan, Maria seketika terbangun dengan sangat gembira sebab ia pun merasakan kelaparan.
"Aku sudah bangun" ucapnya bersemangat.
Di kegelapan ia pun mulai mengingat kejadian semalam dan mulai menjadi canggung kembali.
"Tenanglah jangan seperti itu, aku adalah suamimu dan kau istriku, kau cepatlah bangun dan segera berganti pakaian"
Antareksa mulai bangkit dan berjalan menuju lemari di kamar Maria. Ia membuka serta melihat lihat pakain disana dan mulai memilih satu pakaian yang akan cocok dikenakan oleh wanita tersebut.
"Pakailah ini dan percantik dirimu sedikit"
Antareksa yang berwujud raja perlahan mulai keluar dari kamar Maria, ia sedikit terburu buru untuk kembali ke kamar miliknya agar tak berpapasan dengan raja yang asli.
Maria menatap pakaian berwarna merah muda diatas ranjangnya. Tak lama kemudian ia mulai mengganti pakaiannya dan mengenakan pakaian yang dipilih Antareksa.
"Ku rasa aku akan cocok memakai ini" Maria tersenyum dan mulai melepaskan pakaiannya.
Tak lama kemudian saat ia sudah selesai, Maria kemudian membuka pintu dan perlahan menuju keluar kamarnya menyusuti lorong lorong kerajaan. Bersamaan dengan itu Kumala dan Antareksa yang tengah berbicara dihalaman.
Dari kejauhan Maria terdiam dan menatap pria itu dengan perasaan penasaran, sampai sampai ia tak sadar bahwa ada sepasang mata tengah menatap kearahnya.
__ADS_1
"Bagaimana berhasil?" tanya Antareksa dengan pelan.
"Tentu saja, suamiku tak mengetahui semuanya. Oh ya jangan lupa kasihkan kalung ini pada Maria. Kau harus menyamar lagi sebagai raja dan berikan ini. Pastikan dia memakainya. Ingat!" Kumala memberikan kalung yang sebelumnya raja berikan untuk Maria.
Maria yang tak melihat benda apa yang diberikan Kumala pada Antareksa hanya bisa menatap celingukan.
"Sedang apa kau disini?" tanya seorang ajudan raja pada Maria.
Sontak saja wanita itu terkejut ketika mendengarkan suara berat dari belakang tubuhnya. Badannya gemetar ketika melihat sosok ajudan tersebut sebab sosoknya sangatlah mengerikan.
Matanya merah menyala, dengan tubuh yang dipenuhi oleh bulu yang lebat. Tubuh yang tinggi seakan membuat Maria terlihat kecil dari kejauhan.
"Ak..aku sedang meli..hat it..u" Maria menujuk kearah halaman yang tak terdapat siapapun disana.
"Siapa hah?!" tanya ajudan dengan tegas.
" Tidaak...tidak..Aku hanya sedang melihat halam kerajaan yang indah saja" Maria tersenyum getir dengan rasa takut yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Maria kemudian pergi menuju kembali ke kamarmya karena rasa takutnya pada siluman siluman yang ada di kerajaan ini tak begitu ramah seperti istri pertama sang raja.
"Untung saja kita bisa merasakan semuanya tepat waktu. Jika tidak pasti Maria akan curiga dan mungkin mengatakan semuanya pada raja" ucap Kumala dengan nafas yang memburu.
"Sudahlah. Cepat katakan, apakah raja membiarkan Maria kembali ke dunianya ketika ia sudah bisa melahirkan keturunan untuk kakakku?" tanya Antareksa.
"Aku akan mengubah rencananya. Aku tak ingin dia melahirkan anak dari suamiku jadi kuminta kau tanamlah benih di rahimnya dan buatlah dia mengandung anakmu. Kau tak perlu mengatakannya yang pasti raja tak akan marah jika ia menyangka Maria hamil ketika kau melakukan hubungan saat raja sendiri yang memintanya"
Mata Antareksa membulat sempurna ketika mendengar rencana istri pertama kakaknya tersebut.
" ini gila! sungguh konyol rencanamu itu! Aku tak bisa melakukan semua perkataanmu itu! kau pikir kau ini siapa hah?! seenaknya menyuruhku rencana busukmu!"
Antareksa kemudian berjalan menjauhi Kumala yang tersenyum dengan ngeri.
"Apakah kau rela jika ia melahirkan anak kakakmu itu? kau bilang apapun yang merupakan bekas dirinya dan diberikan padamu maka kau takan mau mengembalikannya. Lalu bagaimana kau biarkan Maria kembali pada raja dan memberikan anak padanya?"
Antareksa bergeming, ia kemudian memikirkan perkataan yang Kumala ucapkan. Ia memang tak ingin mengembalikan apapun yang sudah menjadi miliknya.
__ADS_1
"Aku akan pergi dan memberikan kalung ini padanya" Antareksa berjalan meninggalkan Kumala sedirian.
Ia bahkan tak menjawab perkataan wanita itu dan memilih menjauh dari wanita licik yang berasal dari bangsa manusia itu.
Sesampainya didepan pintu kamar Maria, ia kemudian membuka pintu dengan sangat pelan dan menatap wanita yang sedang melamun menatap kearah jendela. Ia bahkan segera merubah wujudnya menjadi raja karena jika sampai ia lupa maka semuanya akan berantakan.
Detik kemudian pria itu menjadi raja dan menepuk pelan tubuh Maria hingga membuatnya terkejut.
"Ka..kau datang kemari?" Maria gugup dan mulai menundukan kepala.
"Iya, aku kembali. Aku ingin memberikan ini untukmu dan kau harus memakainya. Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu asal kau patuh pada setiap ucapanku"
Maria tertegun, tekadnya untuk bisa pulang kembali diingatnya. Ia kemudian membiarkan raja palsu memakaikan kalung itu dilehernya.
Antareksa yang saat ini tengah menyamar jadi sang raja sedikit menelan ludah kala melihat leher Maria.
"Sudah?" tanya Maria dengan pelan.
Antareksa yang gugup pun kemudian berjalan menjauh dari tubuh Maria dan kemudian salah tingkah.
"Ya, ya aku sudah selesai. Kau sekarang datanglah ke perjamuan dan teruslah tersenyum disana"
"Baiklah. Tapi bagaimana jika istri pertamamu tahu kau memberikan ini padaku?"
"Biarkan saja dia, aku sudah sering memberikan hadiah indah untuknya"
"Aku minta kau berikannya juga hadiah" ucap Maria dengan tertunduk.
"Untuk apa?"
"Aku takut ia akan merasa cemburu dan merasa tersisih. Aku hanya akrab dengannya dan tak ingin huhungan kami buruk hanya karena hadiah ini"
Antareksa memikirkan kata yang pas untuk menjawabnya. Hingga akhirnya ia meng iya kan ucapan Maria dengan hasil akhir yang ia pun tak tahu kalau kakaknya akan memberikan hadiah untuk Kumala.
"Ya aku akan memberikannya juga. Kau cepatlah datang kesana. Aku tunggu"
__ADS_1
Raja palsu pun berjalan meninggalkan Maria sendirian di kamar yang cukup gelapan.