RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
39


__ADS_3

Maria menatap cermin dengan tatapan kosong. Apa lagi yang harus ia lakukan sekarang. Kini dirinya sudah berada diaalam lain dan tak dapat keluar dengan bebas.


"Kau bisa memikih kematianmu disini dan aku akan membantumu untuk mati" Antareksa menatap datar kearah Maria.


Hatinya begitu dingin dan tak ada rasa kasihan sedikitpun pada manusia ataupun bangsanya sendiri. Ia lebih tertarik dengan kematian mengerikan dari para pengikut bangsanya sebab ia memiliki rasa aneh yang terus saja bergelayut didalam lubuk hatinya.


Jika pada manusia ada yang dinamakan pisikopat lalu pada iblis harus dikatakan apa? memang sejatinya para iblis memiliki hati yang keras, kejam dan menyesatkan manusia.


"Kau hanya bisa tertawa saja hah? apa kau tak memiliki rasa iba pada mereka? kau menikmati setiap jeritan dari para manusia yang sedang bangsamu siksa. Sungguh benar bahwa iblis memanglah jahat" Maria menatap nyalang Antareksa.


"Hahahahah kalau kami dikatakan jahat lalu apa yang pantas kami sematkan pada manusia serakah dan tak punya pendirian? mereka memilih mengikuti bangsaku dan menghianati tuhannya. Oh ya, terlebih lagi kami memiliki rasa kasihan pada anak kami sendiri sedangkan kalian para manusia dengan suka hati mengorbankan atau menumbalkan mereka demi harta dan kekayaan. Munafik" Antareksa tersenyum penuh kemenangan.


Maria hanya mampu terdiam dengan ucapan pria itu sebab memang benar manusia serakah sangat banyak dimuka bumi terlebih lagi mereka yang bersekutu dengan iblis dan rela mengorbankan sanak saudara demi kekayaan dan harta.


"Kau tidurlah dilantai dan jangan dekati aku! kau bisa berbaring disana ataupun terjaga sepanjang hidupmu disini" Antareksa kemudian membaringkan tubuhnya dan mulai menutup mata untuk beristirahat.


Maria hanya bisa menggelengkan kepala karena ia pun bingung dengan sifat siluman yang tengah berhadapan dengannya.


"Jika memang aku sudah menikahi sang raja, lalu mengapa ia begitu acuh dan seakan tak ingin memilikiku? bukan kah kalian ingin keturunan dariku hah?!" Maria berteriak untuk membangunkan Antareksa.


Pria itu hanya bergeming dan tetap terlihat tertidur diatas ranjang tersebut. Maria yang kesal kemudian berjalan menuju ranjang tersebut dan berada tepat disamping tempat tidur siluman ular itu.


Tak perlu menunggu waktu lama, Antareksa kini membuat Maria berbaring diatas tempat tidur karena kecepatannya mendorong gadis itu sehingga Maria pun sulit untuk bergerak.


"Kau sengaja mengangguku karena kau ingin kembali disentuh olehku? hahahahah benar benar secandu itu kau padaku Maria?"


Maria pun melongo menatap siluman yang memiliki wajah rupan tepat didepannya. Matanya enggan berkedip menatap keindahan bola mata hitam legam milik Antareksa.


Dengan perlahan Antareksa mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah Maria. Hingga satu dorongan kuat berhasil Maria lakukan dan menyebabkan Antareksa terbaring disampingnya.

__ADS_1


"Kau sudah gila hah?! berapa kali kau ingin melecahkanku hah?! kau tahu aku sangat benci pria brengse* sepertimu terlebih lagi kakakmu yang telah membuatku terjebak didunia ini! kau benar benar pria mesum"


"Hahahahah sesungguhnya kami bangsa iblis memiliki hawa nafsu yang sangat besar apa lagi ketika melihat wanita yang mengga**kan sepertimu. Kau harusnya merasa bangga karena berhasil mengambil kepu**n dariku sebab aku tak pernah melakukannya sebelum denganmu. Bukan hanya pada manusia lain, tapi pada siluman lain disini pun aku tak pernah melakukannya"


Antareksa kembali mencengkram kuat pundak Maria sehingga membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Lepaskan! lepaskan aku baji**n!"


"Sekarang kau sudah pandai memaki MARIA" Antareksa berbisik lembut ditelinga Maria.


Ya, baru baru ini Maria memang sudah banyak sekali berubah dan mulai senang mengeluarkan kata kata kasar pada siluman tersebut.


"Aku begini karena kondisi lingkungan! bukankah kalian sering mengahasut kaum manusia dan membuat mereka senang mengeluarkan kata kata kasar dan kotor hah?n bukan kah itu keinginan kalian agar kami jauh dari tuhan kami"


Antareksa pun semakin kuat mencengkram pundak Maria dan akhirnya ia menghempaskan tubuh wanita itu dengan keras. Antareksa bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.


"Kau tunggu disini dan jangan sekali kali keluar. Jika kau ingin kembali ke alam mu maka turuti semua perintahku"


Ia yakin bahwa sang ibu sangat merindukannya dan saat ini mungkin ibunya tengah menangis meratapi nasibnya yang tak kunjung kembali ke alam nyata.


Pria itu kemudian berjalan meninggalkan Maria sendirian didalam kamar dan kemudian terdengar suara pintu yang dikunci dari arah luar. Maria benar benar terkurung disini. Mau tak mau ia harus menuruti perkataan siluman itu jika ingin tetap hidup dan kembali ke raganya.


"Ibu, Maria rindu ibu" wanita itu kemudian meneteskan air matanya seraya mulai membaringkan kepalanya diatas meja rias dikamar Antareksa.


Ia begitu takut jika harus terus menerus hidup di alam ini sebab ia raja yang merupakan suaminya tak bisa memastikan keselamatannya.


Awan terlihat sangat hitam dan pekat, Maria hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang harus terkurung didunia ini tanpa kepastian kapan ia akan bisa bebas dan selamat.


Disisi lain ibunya, Nirmala sangat sedih mendapati kondisi putrinya tak kunjung siuman dan hanya bisa menutup mata diatas tempat tidur.

__ADS_1


"Bangunlah nak, ibu rindu canda tawamu sayang" Nirmala menangis meratapi nasib anaknya.


Nirmala bertahan dirumah mewah ini hanya karena uang Danu bisa membiayai kehidupan Maria saat ini. Maria membutuhkan beberapa kantung cairan infus serta perawatan dari pihak medis untuk terus memantau denyut jantung serta nafas putrinya itu.


Seolah acuh dengan putri semata wayangnya, Danu pun sering sekali pergi bersama Ria untuk jalan jalan dan mengabiskan uang miliknya yang semakin hari semakin banyak karena pesugihan yang ia lakukan.


Fisik Nirmala kentara jelas terlihat semakin kurus dengan cekung mata yang begitu dalam. Kulit yang putih pucat serta wajah yang keriput membuatnya terlihat seperti mayat hidup.


"Nyonya makan dulu" ucap Bi Darsih membuyarkan lamunan Nirmala.


"Iya, nanti saja bi" Nirmala menjawab secara halus perkataan Bi Darsih.


"Nyonya belum makan dari kemarin malam. Bibi khwatir nyonya sakit"


Nirmala tersenyum mendengarkan celotehan asisten rumah tangganya itu.


"Biarkan saja saya sakit bi. Saya ingin bisa bertemu Maria walaupun saya harus sakit parah sekalipun. Bahkan jika bisa saya akan menukarkan nyawa saya demi dia asalkan dia bangun dan bercerita panjang lebar tentang kegiatannya disekolah ssperti dulu"


Bi Darsih pun hanya bisa menangis mendengarkan ucapan majikannya yang begitu sangat sedih. Ia begitu paham posisi Nirmala sebab ia juga dulu pernah merasakan kehilangan sang anak ketika masih bayi.


*****


Maria tertidur pulas dengan posisi duduk diatas kursi dekat meja rias, dengan posisi kepala tepat berada diatas meja. Antareksa yang baru saja masuk kedalam kamarnya, menyadari Maria yang saat ini tengah tertidur dan segera menghampiri gadis itu.


"Heh kau bangun" Antareksa menendang kursi yang saat ini tengah diduduki Maria.


Maria tetap terlelap hingga membuat Antareksa fokus memperhatikan wajahnya yang cantik.


...Ilustrasi Maria...

__ADS_1



"Katakan


__ADS_2