
Maria sudah bangkit lagi namun kali ini ia telah menjadi arwah yang dihidupkan oleh raja siluman. Maria tersenyum menyeringai dan mulai merasakan ada yang berbeda dengan dirinya.
Ya kini dirinya sudah menjadi arwah gentayangan dan takan ada siapapun lagi yang bisa menyakitinya.
Saat ini Danu dan Ria yang tengah asik mengobrol di ruang tamu seketika bangkit ketika mendengar teriakan dari kamar Maria. Bi Darsih yang tengah menjaga tubuh Maria menjerit katakutan ketika melihat banyak sekali darah keluar dari mulut Maria.
"Tuan! Non Maria mengalami kejang"
Bi Darsih yang panik segera berlari menuruni anak tangga menemui majikannya.
"Tuan! Non Maria harus segera dibawa kerumah sakit"
"Tenanglah Bi. Mungkin saja Maria hanya kejang biasa. Memangnya bibi tak tahu penyakit Maria ini sudah lama dan sudah menjadi kebiasaannya mengalami kejang seperti ini" Ria yang tahu bahwa ada yang tak beres dengan Maria segera membuat alibi agar Maria tak dibawa ke rumah sakit.
"Ini beda Nyonya! Non Maria mengeluarkan banyak darah dari mulutnya!"
Ria menatap Danu dan akhirnya Danu pun menaiki tangga untuk mengecek kondisi putrinya dengan perasaan malas.
"Anak itu sangat menyusahkan. Sudah banyak uangku yang terbuang sia sia dan sekerang dia membuat ulah lagi"
Danu terus saja menggerutu mengenai kondisi Maria. Bi Darsih yang mendengar pun hanya bisa mengelus dadanya ketika mendapati majikannya benar benar telah berubah.
Danu yang saat ini baru saja tiba di kamar Maria pun segera merasa merinding. Bulu ditengkuknya seketika berdiri ketika masuk ke dalam kamar Maria.
Suasana kamar yang sunyi dan sepi membuat Danu menelan salivanya.
"Itu Non Maria tuan!" Bi Darsih berteriak ketika melihat mata Maria terbuka dengan lebar dan lidahnya menjulur keluar.
Danu segera berlari menghampiri putrinya dan segere mengecek kondisi putrinya tersebut.
"Dia sudah mati" ucap Danu pelan seraya menatap Bi Darsih.
"Astagfiruah Non Maria!" Bi Darsih berteriak dengan sangat keras hingga memekakan telinga.
__ADS_1
Hatinya sakit ketika mendapati anak majikannya yang selama ini ia rawat dan besarkan sejak kecil telah meninggal dengan tak wajar.
"Bagaimana ini tuan ? kita harus mencoba menyelamatkan Non Maria. Kita harus bawa dia kerumah sakit tuan" Bi Darsih memeluk tubuh kaku Maria yang terbaring diatas ranjang.
Ia terduduk dilantai menangisi anak majikannya yang sangat ia sayangi. Terlebih lagi ia mendapatkan amanat dari Nirmala sebelum ia meninggal.
Ria tiba tiba saja datang dan mulai berencana untuk mengagalkan usaha Bi Darsih untuk menyelamatkan Maria.
"Dia sudah tiada dan takan mungkin hidup lagi. Kita kabarkan ini pada orang orang dikampung ini nanti. Biar kita mengadakan pemakaman dengan mengundang orang orang di masjid saja agar mereka tak curiga dan menyangka bahwa kita telah melenyapkannya"
Danu bergeming, tak ada air mata ataupun kesedihan terpancar dari wajahnya. Hatinya sudah benar benar mati untuk Maria dan Nirmala hingga ia pun tak merasakan kesedihan apapun atas kematian anak serta istrinya tersebut.
"Kau benar sayang. Kota harus kabarkan pada orang orang bahwa Maria sudah meninggal karena penyakitnya. Aku tak ingin di anggap pembunuh oleh orang orang karena Maria dan Nirmala meninggal dengan jarak waktu tak lama."
Pagi telah tiba, Danu dan Ria yang sudah bersiap dengan rencananya segera memanghil Bi Darsih untuk berpura pura berteriak kembali. Kebetulan satpam keamanan dikamlung sedang melewat dan mendengar teriakan dari Bi Darsih.
"Astagfirullah Non Maria ! jangan tinggalin Bibi non!"
"Ada apa ini pak?"
"Tolong pak! tolong! anak saya tiba tiba saja kejang dan ia pun sudah tak bernafas lagi" Danu berpura pura menangis dihadapan pria paruh baya itu.
"Bapak sudah panggilkan ambulan kesini?"
"Belum pak. Saya baru tahu dan anak saya dlam keadaan gawat darurat. Saya akan bawa dia ke puskesmas terdekat karena saya lohat anak saya sudah tak bernafas pak. "
Danu meneteskan air mata palsunya untuk membuat satpam itu iba.
"Ya sudah bapak bawa anak bapak ke puskesmas. Saya harap anak bapak baik baik saja"
Danu yang pun berlari menghampiri Mang Kardi yang tengah menggendong tubuh Maria. Tak lupa Bi Darsih yang memang sedang menangis pun terlihat masuk kedalam mobil beserta Ria disampingnya.
"Saya permisi dulu pak. Saya mohon doanya ya pak"
__ADS_1
Satpam itu pun bergegas pergi dan mulai mengabarkan kondisi Maria pada pak rt serta mulai bergosip mengenai kondisi Maria yang saat itu ia lihat sudab kaku dengan mata yang terbelalak.
Tak lam kemudian, rumah Danu sudab ramai dengan orang orang yang merupakan warga kampung ditempat tinggalnya. Beberapa warga bahkan menatap takjub dengan keadaan rumah Danu yang semakin megah dan mewah.
Ria dan Danu yang sudah menyusun rencana mulai berpura pura menangis ketika keliar dari mobil pribadinya.
"Anak kami suda tiada pak bu" Ria mulai menangis dan pura pura pingsan.
Beberapa warga segera menggotong tubuhnya masuk kedalam rumah dan mencoba menenagkan Ria serta Danu.
Terlihat keranda mayat berisi Maria turun dari ambulan yang sudah Danu sewa sebelumnya.
"Innalillahi wainna ilahi rojiun" ucap warga serempak.
"Yang sabar ya bu, pak. Nak Maria kini sudah tak merasakan sakitnya lagi. Insyaallah ia akan mendapatkan tempat yang baik disisi Allah" ucap salah satu tetangganya.
"Amin" jawab warga lainnya.
Terkihat Bi Darsih dengan matanya sembabnya turun dari dalam ambulan yang mengangkut Maria. Wanita paruh baya itu tampak begitu lemas dan pucat karena sudah seharian menangisi kepergian putri majikannya terebut. Terebih lagi kini ia harus terlibat dengan rekayasa kematian putri dari majikannya sendiri.
Bi Darsih berjalan dengan tergopoh gopoh seraya mencoba menggapai keranda mauat Maria yang mulai dibawa kedalam rumah.
"Pak rt, tolong carikan orang yang bisa menggali kuburan untuk anak saya pak. saya mohon" Danu mulai memeluk tubuh pak rt dengan erat.
"Iya pak. Tenang saja. Saya segera akan carikan orang yang bisa menggali kuburan untuk putri bapak. Namun sebaiknya anak bapa di mandikan terlebih dahulu dan disholatkan"
Danu terkejut dan mulai mengalihkan pembicaraan agar mayat Maria disholatkan saja di masjid terdekat.
"Ah.. i...iya pak, saya akan membawa anak saya ke masjid terdekat saja. Kebetulan air dirumah saya sedang surut dan tak ada air didalam rumah. Kita mandikan saja di masjid"
Beberapa warga menatap heran pada Danu. Dan mulai menepis pikuran buruk mereka sebab saat ini keluarga Danu sedang berduka.
"Baik bapak bapak, tolong bantu Pak Danu membawa Almarhumah Maria untuk di sholatkan di masjid terdekat. Dan ibu ibu tolong bantu untuk memandikan jenasahnya"
__ADS_1