RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
76


__ADS_3

Arwah Maria tersenyum menatap kejadian yang sedang berlangsung saat ini. Ia begitu senang melihat Ria menderita serta tersiksa oleh suaminay sendiri yaitu Danu. Inah yang di inginkan Maria, melihat Ria juga tersiksa oleh suaminya sendiri sebab dulu pun ia yang menghasut Danu untuk berbuat jahat pada ibunya.


"Kau akan mendapatkan rasa sakit yang lebih pedih dari ini Ria. Tunggu saja saatnya nanti" Gumam Maria dengan pelan.


Suara langkah kaki yang terdengar tergesa gesa mulai jelas di telinga Sarah. Dari arah luar terlihat Bi Darsih yang berlari terhopoh gopoh datang ke kamar Danu dan Ria.


Betapa terkejutnya Bi Darsih ketika melihat bahwa saat ini Danu tengah mencekik istrinya sendiri.


"Astagfirullah hal adzim non ada apa ini?" teriak Bi Darsih dengan kencang.


"Sudah bi, bertanya nanti dulu! Bantu dulu aku melepaskan cengkraman ayah pada ibu cepat!"


Bi Darsih segera menganggukan kepala dan berjalan menghampiri Danu yang saat ini tengah asik mencengkram leher Ria.

__ADS_1


"Tuan tolong lepaskan leher nyonya tuan. Sadarlah tuan ini nyonya !" Bi Darsih menarik tangab Danu dengan kencang.


"Lepaskan aku bi. Biarkan aku membunuhnya kembali bi. Dia bukan Ria, dia adalah Mala!"Danu berteriak histeris seperti sedang kesetanan.


Bi Darsih yang dibantu Sarah terus berusaha menjauhkan tangan Danu dari leher ibunya tersebut hingga akhirnya mereka pun bisa membuat Danu menjauh dari istrinya tesebut.


Ditariknya nafas dalam dalam oleh Ria yang saat ini wajahnya sangat pucat serta bibirnya yang mulai terlihat mengungu. Sarah segera berlari menuruni anak tangga dan mengambil air minum dari teko didapur dan kembali ke lantai dua menuju kamar ibu dan ayahnya.


Ria yang menerima air dari Sarah pun segera meneguknya sampai tandas tak tersisa. Lehernya yang sakit serta nafasnya yang masih tersenggal membuatnya sedikit lemas. Lain halnya dengan Danu yang kini mulai mengingat ngingat kejadian yang baru saja ia alami.


Dengan mata yang menatap kosong Danu pun mulai menceritakan apa yang baru saja ia alami didapur tentunya dengan sebagian kelakuannya yang ia sembunyikan.


"Ayah tadi terbangun untuk mengambil minum di dapur nak. Ayah sangat haus jadi ayah turun ke sana. Saat ayah sampai di dapur ayah lihat ada seseorang tengah berada disana jadi ayah menghampirinya untuk bertanya sedang apa dia malam malam. Karena lampunya gelap, jadi ayah mencoba mendekati wanita yang ayah kira tadi Bi Darsih Namun saat wanita iftu berbalik ayah sangat terkejut ketika yang ayah lihat adalah arwah set*n itu. Wajahnya hancur dan belatung berjatuhan dari sela sela rambutnya"

__ADS_1


Sarah yang terkejut segera menatap Bi Darsih dengan tatapan yang aneh.


"Apakah bibi tadi di dapur?"


"Tidak non. Bibi tadi tidur. Bibi sangat nyenyak tertidur hingga bibi pun terbangun ketika non berteriak dengan sangat keras" jawab Bi Darsih dengan jujur.


Sarah mulai mencerna apa yang sebenarnya tengah terjadi. Namun saat ini arwah Maria yang sudah sampai kembali di kamarnya segera masuk kedalam raga Mira yang tergeletak di atas kasur begitu saja. Ia kini akan melakukan sandiwara selanjutnya pada keluarga Danu.


"Lalu dimana Mira? Kenapa dia tak terbangun saat aku berteriak? Apakah dia set*?" gumam Sarah.


Ria segera mengelus pucuk kepala putrinya tersebut.


"Dia adalah manusia, dan ibu sendiri yang membawanya kesini. Bisa saja dia tertidur dengan pulas" jawab Ria dengan suara yang sangat pelan.

__ADS_1


Entah kenapa Ria berubah menjadi sangat lemah. Ia tak memiliki dendam apapun pada Mira yang jelas jelas menjadi alasan dirinya ditampar oleh Danu.


__ADS_2