RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
29


__ADS_3

Panik, adalah kata yang tepat saat ini dirasakan oleh Dokter Susan. Ia begitu terkejut ketika melihat darah kental hitam yang keluar dari mulut Maria saat ini.


"Kenapa? ada apa yang terjadi pada Maria?" tanya Danu keras.


Tak ada jawaban dari suster yang senantiasa mengelap dan menggosok badan Maria dengan minyak angin.


"Katakan padaku apa yang terjadi pada Maria" Danu kembali bertanya dengan nada tinggi.


"Sudahlah pak, saat ini kami sedang melakukan yang terbaik pada putri bapak. Saya harap bapak tenang dan biarkan kami melakukan tugas sesuai aturan" Dokter Susan memberikan arahan pada Danu supaya tak menghalangi pekerjaannya.


Maria hanya bisa menunduk dengan isi perut berupa darah dan benda benda asing yang keliar dari mulutnya. Tak ada respon apapun dari dirinya.


"Suster tolong ambilkan air putih." Dokter Susan memerintah salah satu Suster.


Tak lama suster tersebut datang dengan segelas air putih yang berada ditangannya.


"Ini Dok!" ucap Suster pada Dokter Susan.


Dokter Susan kemudian mengambil air tersebut dan mulutnya mulai melafalkan doa.


"Untuk apa air itu Sus?" tanya Danu heran.


"Bapak harap bantu doa untuk kesembuhan putri bapak. Saya rasa penyakitnya bukan dari hal umum melainkan dari ilmu hitam atau semacamnya kiriman dari seseorang "


Danu bergeming memikirkan ucapan dari Dokter Susan yang saat ini tengah menangani putrinya. Ia begitu paham dengan ucapan Dokter Susan namun ia takan melakukan apapun selain pengobatan secara fisik.


"Iya dok" ucap Danu berbohong.


Ia berpura pura berdoa san memejamkan mata hanya untuk membuat Dokter Susan diam.


Danu paham betul apa yang terjadi pada Maria karena ia pun melakukan hal yang sama pada Nirmala, istrinya sendiri.


"Muntahkan semua yang ada diperutmu. Saya akan berusaha semaksimal mungkin membantu kesembuhan kamu" Dokter Susan memijat punggung Maria agar ia memuntahkan semua isi perutnya.


Hoek! hoek!


Maria kembali muntah, dan kali ini pemandangan yang saat menjijikan terkihat nyata didepan mata. Danu melihat Maria


muntah banyak sekali lintah yang ukurannya sangat besar.


Dokter Susan akhirnya membaca ayat suci Al Quran dengan nada lumayan kencang hingga membuat tubuh Danu panas dan mengigil.


"Hentikan!" teriaknya dengan kencang.

__ADS_1


"Hentikan saya mohon!" Danu kembali meminta dokter Susan menghentikan bacaannya.


"Anda kenapa tuan?" tanyanya heran.


"Sa..saya hanya kasihan pada Maria. Mun..mungkin saja ia merasakan kepanasan karena ilmu hitam yang sedang menyerangkan" Alasan Danu cukup ganjil dan membuat Susan mengernyitkan kening karena heran.


"Harusnya Maria yang mengatakan hal itu bukan bapak. Tapi kenapa seolah olah bapak lah yang merasakan kepanasan"


Dokter Susan melihat kening Danu banyak mengeluarkan keringat dan wajahnya pun terkihat sangat merah.


Danu kembali terdiam dan kemudian berlalu meninggalkan putrinya yang saat ini tengah dikelilingi oleh suster dan Dokter Susan.


Danu sangat merasa aneh, kenapa bisa Maria bisa mengalami hal mengerikan seperti ini, padahal ia hanya menumbalkan Nirmala. Hingga ia pun berfikir mungkin saja karena Maria anak dari Nirmala dan mereka bisa terkena dengan ilmu hitam yang ia lakukan karena ibl**s itu mengetahui jika Maria adalah darah daging Irma.


"Apa yang harus aku lakukan" gumam Danu pelan.


***


Saat ini Dokter Susan sangat kebingungan karena Maria hanya muntah dan tak bersuara ataupun mengatakan apapun padanya. Maria terlihat sangat pucat pasi seperti mayat.


"Suster tolong bantu saya untuk doa sesuai agama kalian masing masing demi kesembuhan anak ini"


Tak berselang lama, Maria menatap Dokter Susan dan menatap penuh dengan pengharapan. Sorot matanya penuh dengan harapan, seolah olah berkata kepada Susan bahwa saat ini ia sangat ingin ditolong.


Maria kemudiam tersenyum dan tiba tiasja ia kemudian terbaring tak sadarkan diri hingga membuat seluruh orang yang berada didalamruangan tersebut panik dan gaduh.


"Cepat pasangakn selang oksigen pada pasien!" titah Dokter Susan.


Benerapa alat dipasangkan ditubuh Maria karena detak jantungnya semakin menurun. Damu yang berada diluar pun kembali masuk ketika mendengar kegaduhan diruangan tempat putrinya dirawat.


"Ada apa dok? kenapa putri saya?"


Danu terlihat sangat panik mihat kondisi putrinya yang semakin memprihatinkan, namun ia tak bisa melakukan apa apa karena ia pun takut jika pengorbanan dan ritualnya sia sia jika sampai ia berhenti melakukan pesugihan yang baru saja ia mulai.


Danu tetap yakin bahwa kondisi putrinya berkaitan dengan pesugihan yang ia lakukan.


"Bapak tunggu diluar saja dan terus berdoa demi kesembuhan putri bapak"


Dokter Susan menggiring Danu untuk keluar ruangan.


*****


Dirumah yang mewah nan megah, Saat ini Ria merasakan sakit yang hebat dibagian kepalanya karena mantra mantra dari dukun oada Maria sedikit luntur akibat doa yang dilafalkan Dokter Susan dirumah sakit.

__ADS_1


Tubuhnya seakan terbakar dan kepalanya seakan ditindih oleh batu besar, hingga membuat ia berjalan sempoyongan.


Ria berjalan sempoyongan dengan nafas yang terengah engah karena ia merasa sangat sakit.


Ria mengambil gawai di saku celananya dan mulai mencoba menghubungi Danu namun tak bisa. Ia sangat lemah dan tak berdaya hingga terjatuh didekat wastafel dengan wajah yang mulai pias.


"A..pa yang terjadi padaku?" gumam Ria pelan.


Ia mencoba untuk bangkit dan berusaha untuk mengambil air minum diatas meja makan.


Ria meminum habis air didalam teko dan tiba tiba saja perutnya merasa mual.


Huekkk! huekk!


Ria muntah berupa air kuning bercampur cacing yang sangat banyak. Ria terlonjak karena kaget dan segera mencoba memasukan jarinya kedalam mulut agar ia kembali memuntahkan isi perutnya.


huek! huek!


Ria kembali mutah dan kali ini hanya ada air kuning saja yang keluar dari mulutnya.


"Ini ada yang tak beres" guman Ria dengan pelan.


Ia berusaha berjalan menuju sofa untuk beristirahat disana. Tubuhnya lemas seolah tak berenergi.


"Aku harus mendatangi dukun itu kembali besok"


Ria kemudian membaringkan tubuhnya yang terasa sangat sakit hingga ia terjaga semalaman karena tak bisa tidur akibat rasa sakit hebat dikepalanya.


Tak ada yang tahu, saat ini Maria kembali dibawa ke alam tempat siluman yang sebelumnya mengambil kesucian Maria dengan paksa.


"Ibu! ayah! tolong Maria!" Maria berlari tak tentu arah ketika tahu dirinya kini kembali berada dihutan yang gelap.


"Ibu! Maria mohon bantu Maria!" tangisnya pecah dengan suara yang menggema diseluruh hutan.


Kakinya yang tak memakai alas, serta baju putihnya yang mulai berubah kotor karena lumpur tak membuat Maria menghentikan langkahnya.


Luka disekujur tubuhnya, serta darah segar yang keluar dari area sensitifnya membuay Maria sedikit bersusah payah untuk melangkah dengan kencang.


"Perih" lirih Maria.


" Sudah aku katakan kau akan kembali kepelukanku!" Suara berat dan menggema dihutan sontak saja membuat tubuh Maria kembali terguncang.


Maria kembali berlari dengan kencang tanpa memperdulikan rasa sakit di area sensitifnya serta luka luka disekujur tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2