
Mata Bi Darsih terbelalak mendengarkan ucapan Sarah. Ia begitu terkejut dengan ucapan Sarah sebab mana mungkin ada suara dari dalam kamar itu karena tak ada siapapun yang mengisi kamar tersebut.
"Mungkin itu tikus non" ucap Bi Darsih dengan mata yang melirik ke sekitar ruangan dapur.
"Mana mungkin itu tikus bi, toh jelas jelas aku mendengar suara seseorang menangis bahkan tertawa" Sarah mulai meyakinkan Bi Darsih.
"Kalau begitu mungkin itu suara.." ucapan Bi Darsih kembali menggantung sebab ia takut menyebutkan sosok yang selama ini meresahkan warga sekitar.
"Sosok siapa bi? Katakan!" Sarah mulai menatap Bi Darsih dengan tatapan menyelidik.
Hingga tiba tiba saja gelas pecah berhamburan keatas lantai. Padahal kondisi gelas sangat jauh dari pinggir meja bahkan bisa dikatan gelas tersebut berada di tengah tengah meja.
Sarah dan Bi Darsih yang merasa ketakutan segera menjerit dan memeluk satu sama lain. Suara pecahan gelas tersebut benar benar membuat kedua wanita itu terkejut dan ketakutan. Hingga tiba tiba, Danu datang dengan buru buru kearah dapur.
__ADS_1
"Ada apa? Apa yang kalian lakukan? Apa yang kau lakukan sayang?" tanya Danu panik.
Ia segera meraih tubuh putrinya dan Sarah pun memeluk tubuh Danu dengan sangat erat. Bi Darsib yang masih merasa ketakutan tak henti hentinya mengucap istigfar sampai sampai saat ia melihat kaca di rak piring ia seketika terkejit ketika melihat wajah penuh belatung tepat berada didepannya.
"Astagfirullah?" Bi Darsih yang ketakutan pun pingsan seketika.
Danu dan Sarah yang panik segera memanggil Mang Kardi yang berada di kamar belakamg dekat halaman dan menyuruhnya untuk menggotong wanita paruh baya itu kedalam kamar.
Ia begitu terkejut dengan kejadian yang menimpa Bi Darsih.
"Apa yang kalian lakukan didapur? Apakah kalian melakukan hal yang membuat arwah wanita gentayangan di kampung ini marah?" tanya Danu.
"Arwah? Arwah siapa ayah?" tanya Sarah penasaran.
__ADS_1
Danu yang keceplosan pun segera memukul pelan kepalanya. Ia bahkan lupa mengatakan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan dari Sarah. Bahkan jika pun ada yang membicarakan isu tentang arwah di kampungnya, Sarah selalu saja diseret pulang oleh ayah ataupun ibunya.
Bahkan dari kecil Sarah selalu saja di kurung dan dilarang untuk bersosialisasi di kampungnya. Maka dari itu Sarah tak tahu bahwa ada arwah penasaran yang bergentayangan di kampungnya tersebu.
"Emhhh itu, itu, itu arwah dari wanita yang dibunuh di dekat sungai. Ah, ya didekat sungai" Danu mulai berbohong pada Sarah mengenai hantu yang selama ini menerir orang orang kampung.
"Lalu kenapa aku tak tahu? Bahkan aku selama ini tak mengetahui bahwa ada sosok yang sedang bergentayangan di kampung ini? Apakah ayah menyembunyikan sesuatu?"
"Tentu saja tidak. Ayah tak menyembunyikan apapun darimu. Ayah sengaja menutupi ini agar kau betah tinggal di kampung ini. Ayah tak ingin kamu merasa ketakutan. Ayah tak ingin kamu takut akan hal hal yang sangat mustahil terjadi"
Sarah tertegun. Bagaimana mungkin selama tujuh belas tahun ia tak mengetahui tentang rumlr tentang hantu di kampungnya. Ia pernah sesekali mendengar isu tentang hantu itu, namun tanpa rasa penasaran atau pun rasa ingin tahu, Sarah sengaja acuh dengan hal hal yang tak penting baginya. Sebab ia hanya ingin fokus belajar dan menjadi anak yang baik untuk ayah dan ibunya.
Namun setelah ini, ia bahkan ingin sekali mencari tahu siapakah sosok yang selama ini menjadi perbincangan di kampungnya. Ia sangat penasaran dengan wajah serta nama asli sang arwah tersebut.
__ADS_1