
Danu dan Ria terus mengendarai mobilnya masuk kedalam hutan belantara tempat sang dukun tinggal. Dengan cuaca yang cerah serta matahari yang bersinar begitu terik, mobil terus saja berjalan menembus jalan setapak.
"Mas, apakah Sarah sudah mengetahui rahasia yang sudah kita sembunyikan selama tujuh belas tahun ini?" tanya Ria tiba tiba saja.
" Apa maksudmu? Mana mungkin dia tahu rahasia kita Ri. Gadis itu takan tahu apa yang sebenarnya terjadi pada si set**n mala itu!"
"Lalu, darimana Sarah tahu nama Nirmala mas?"
"Entahlah Ri. Sarah takan bisa tahu nama wanita pembawa s**al itu jika tak ada orang yang memberitahunya. Mungkin saja saat ia pulang dari sekolah ada salah satu tetangga yang menyebutkan namanya pada Sarah tanpa sengaja"
Ria terdiam. Ia kemudian menatap sebuah pohon yang bertanda merah didepan mobilnya.
"Mas! Mas! Mas!"
"Apa sih Ria!?" Danu tiba tiba saja menghentikan mobilnya ketika mendapat pukulan pelan di tangannya.
"Itu mas! Itu! " Ria menunjuk pohon besar itu dengan gemetar.
"Iya apa?! Ngomong tuh yang jelas!"
Danu yang tak tahu arah pembicaraan Ria semakin kesal dan marah. Ria terus saja menujuk pohon besar di depan mobilnya tanpa mengatakan dengan jelas apa yang ingin ia katakan.
"Cepat katakan! " Danu mulai membentak Ria dengan keras.
"Mas itu pohon yang sebelumnya kita lewati bukan?" tanya Ria dengan panik.
"Alah, kau pasti salah lihat! Kau itu sudah tua Ri. Jadi kau pasti salah mengira"
"Enggak mas! gak mungkin aku salah lihat. Sudah sering kita datang kesini dan lewati pohon ini beberapa kali. Jadi mana mungkin aku salah kira" Ria dengan tegas menampik perkataan Danu yang mengatakan dirinya salah mengira.
Danu pun mulai menatap pohon didepannya dengan seksama dan akhirnya ia pun sadar bahwa sebelumnya ia memang sudah melewati pohon itu.
"Kau benar Ri. Tadi kita sudah melewatinya. Tapi mungkin saja si mbah membuat tanda baru di pohon pohon ini agar pasiennya mudah mencari rumahnya fan tak tersesat"
"Kalau begitu, mas coba saja jalan terus dan jangan lupa perhatikan salah satu dahan pohon ini. Kita lihat, apakah kita melewati pohon baru atau pohon ini lagi"
__ADS_1
Danu kembali menancap gas dan melajukan mobilnya masuk kedalam hutan dengan perlahan. Ia menatap sekeliling hutan yang tampak sunyi dan sepi seraya terus memperhatikan pepohonan yang baru saja ia lewati.
Lama sekali Dan dan Ria menjelajahi hutan di tempat tersebut, namun mereka di kejutkan kembali dengan penampakan pohon besar dengan dahan serta tanda merah yang sama dengan pohon yang tadi ia lihat.
"ck si**! Kita tersesat!" Danu berdecak kesal dan mulai mengambil ponsel di saku celananya.
"Sudah ku katakan kita melewati pohon ini berkali kali mas. Kita tersesat sekarang" Ria yang panik tak henti hentinya bergumam dalam hati.
Danu melihat ponselnya yang tak menunjukan sinyal satu pun di bagian atas. Ia mencoba mematikan ponselnya dan menghidupkannya kembali untuk mencoba mendapatkan sinyal.
Ia tahu bahwa tak akan ada pengaruh apapun ketika ia mematikan ponselnya. Namun ia tetap mencobanya karena ingin memastikan bahwa ponselnya tak rusak.
"Kau lihat ponselmu! Kita coba cari sinyal untuk bisa melacak lokasi kita saat ini"
Ria mulai merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Tampak dengan jelas tanda cakra di bagian atas ponselnya yang menandakan bahwa tak ada satu pun sinyal di tempat tersebut.
"Tak ada sinyal mas" ucap Ria pelan.
"Set*! Itu benar benar membuatku susah! Baru kali ini kita di teror terus terusan oleh si ja**n itu! Sudah mati pun masih menyusahkan kita saja!" Danu terus terusan marah dan melontarkan kata kata kasar yang ia tujukan untuk Nirmala.
"Baiklah, kita akan membaca mantra yang dulu pernah si mbah ajarkan untuk memanggil ibli** yang menjadi budak kita. Kita akan meminta bantuannya agar bisa sampai di rumah si mbah dengan cepat"
Akhirnya Ria dan Danu pun mulai memejamkan mata serta merafalkan beberapa mantra yang sebelumnya sudah dukun itu ajarkan untuk memanggil ibli** yang bisa membantunya menuju rumah si mbah.
Danu menelungkupkan kedua tangannya dan mulai memuji muji sang ibl* hingga tak lama dari itu, gumpalan asap pekat pun muncul di hadapannya dan membuat sekeliling hutan tempat mobil mereka berhenti menjadi gelap gulita.
Danu dan Ria pun turun untuk melakukan penghormatan dengan cara bersujud di atas tanah pada sang ibl**. Keduanya tampak lega dan senang ketika sadar bahwa sang ibl* telah datang untuk membantunya.
"Hahahahahaha" suara menggema di seluruh hutan membuat beberapa burung berterbangan menjauh dari area tempat ibl* itu muncul.
Mata merah dan tubuhnya yang hitam legam, membuat Ria yang masih saja merasa ketakitan , bersembunyi di balik tubuh suaminya tesebut.
"Ada apa kau memanggilku manusia?" tanya ibl* bermata merah pada Danu.
"Aku disesatkan oleh penunggu hutan ini. Jadi aku memanggilmu untuk menuntunku menuju rumah si mbah" Danu menudukan kepala.
__ADS_1
"Hahahahah, sudah bertahun tahun kau memiliki hubungan dengan dukun itu tapi kau masih saja tersesat ketika ingin ke rumahnya"
Danu terdiam. Ia benar benar sudah bingung sehingga memanggil ibl* itu untuk menuntunnya menuju rumah dukun tersebut.
"Ku mohon bantulah aku. Aku sungguh memiliki urusan penting dengan dukun itu. Kumohon" Danu kembali memohon pada ibl* di depannya.
Dengan tatapan yang menyeramkan serta bola mata yang merah menyala, Ibli* itu menatap tubuh Ria yang saat ini berdiri dibelakang tubuh Danu.
"Baiklah aku akan membantumu, namun dengan satu imbalan"
"imbalan apa itu?"
"Kau berikan tubuh istrimu sekali saja untukku bagaimana?"
Ria dengan marah lantas menghampiri sang ibl* dengan tatapan nyalang.
"Cuih! menjijikan! Aku sungguh tak sudi jika harus memberikan tubuhku pada ibli* mengerikan sepertimu!"
Danu yang paham dengan watak istrinya itu segera mencoba menenangkannya.
"Sabar Ri. Dia hanya mencoba menggodamu saja. Dia takan pernah bisa menyentuhmu selagi masih ada aku. Kau percayalah"
"Lalu, apa maksud dari perkataannya hah?"
Danu segera bersimpuh dihadapan sang iblis dengan memelas.
"Kumohon bantulah kami. Kami pasti akan menyiapkan wanita perawan untukmu. Aku janji"
"Hahahahaha, kau sungguh tak rela membagi istrimu padaku. Baiklah jika itu keinginanmu. Aku akan membantumu asal kau tepati janjimu itu"
"Baik, tentu saja aku akan menepati janjiku ini. Kau bantulah kami menuju rumah si mbah. Bulan depan aku akan datang lagi kemari membawa tumbal untukmu" Danu menatap Ria yang masih terlihat marah dan kesal.
Tak lama langitpun kembali cerah dan hanya terdengar suara berat dari ibli* tersebut.
"Ikutilah suaraku"
__ADS_1