RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
96


__ADS_3

Maria membulatkan matanya menatap Antareksa yang ada di hadapannya. Bahkan Antareksa seolah olah tak merasa bersalah karena melakukan hal itu tanpa izin dari Maria sebelumnya.


Maria yang kesal dan marah segera melayangkan tangannya untuk menampar wajah Antareksa namun tangannya seketika dicekal oleh pria dingin tersebut.


"Langcang sekali kau melakukan itu padaku hah! Kau pikir kau siapa?!" Mata Maria memerah menatap pria di depannya hanya diam seraya terus menggenggam tangannya.


"Aku adalah pria yang selalu kau pikirkan! Benar bukan? Kau selalu saja mengingatku saat kau tertidur dan kau selalu menginginkan ku setiap malam"


Dengan tatapannya yang kosong Antareksa menjawab pertanyaan Maria.


"Siapa kau sehingga aku memikirkanmu! Jangan berbicara omong kosong padaku! Sungguh aku tak ingin menatap wajahmu itu dan tak ingin kau selalu saja menghalangi usahaku! Belum cukup kah kau menari diatas penderitaanku?"


"Terserah kau mau berbicara sepanjang apa membenci diriku. Yang ku tahu hatimu hanya tertuju padaku. Dan hanya untukku"

__ADS_1


"Hahahaha memangnya kau peramal hah? Bisa mengetahui hati siapapun! Aku kesini hanya untuk memperingatkanmu, Jangan pernah kau campuri urusanku lagi! Jangan ikut campur dalam balas dendamku!"


Antareksa tersenyum kecil. Ia bahkan tak menghiraukan amarah yang terpancar dari sorot mata Maria sebab ia tahu bahwa di hati kecil Maria, ia dulu adalah sosok manusia yang baik hati.


"Apa kau tega melakukan hal jahat pada ayahmu? Aku ragu jika kau bisa membunuh ayahmu itu"


"Kau tak mengenalku dengan baik. Jadi kau tak bisa menilaiku sekarang. Kau hanyalah siluman yang menjadi salah satu alasanku membalaskan dendam ini. Kau rebut kehormatanku tanpa kau hiraukan tangisan yang ada di mataku. Apa kau tak berfikir bahwa kau orang jahat? Kau pandai menilai orang lain, namun kau cukup bod**h untuk bercermin dan menilai dirimu sendiri.


Dulu ku akui aku adalah orang yang baik. Namun sakit dan luka yang begitu banyak ku terima sudah cukup membuatku berubah menjadi jahat."


Antareksa menatap punggung wanita yang selama ini ia rindukan kian menjauh dari pandangannya. Ia bahkan kembali duduk dan memandang kosong kearah luar jendela kamarnya tanpa mau mencegah ataupun melarang Maria pergi.


"Aku memang belum mengenalmu dengan baik dan mungkin takan bisa. Namun, aku yakin kau memang manusia baik, walaupun sekarang wujudmu bukan seeprti dulu lagi" gumam Antareksa dengan pelan.

__ADS_1


Maria dengan langkah kakinya yang cepat, segera menuju kamar raja siluman untuk meminta bantuan sihir yang lebih kuat lagi.


Hati Maria begitu panas saat ini bahkan ia saat ini sangat marah dengan sikap Antareksa yang bisa membuang serta melakukan hal yang ia mau sesuka hatinya.


Entah kenapa Maria sangat marah dengan Antareksa yang tiba tiba saja menc**m bibirnya padahal, sejak dulu Maria bahkan meminta Antareksa melakukan hal tak senonoh padanya ketika sudah berubah menjadi arwah berhati jahat.


Pintu dibuka dengan lebar oleh Maria. Tampak Raja sudah siap dengan pakaian serba putih bangsawannya berdiri diambang pintu seolah tengah menunggu kedatangan Maria.


"Akhirnya kau datang juga sayang"


Tanpa aba aba, raja langsung memeluk tubuh Maria dan melemparnya ke atas ranjang dengan sangat kencang.


Maria yang masih emosi pada Antareksa akhirnya melakukan hal tak pantas bersama raja untuk meluapkan kekesalannya. Entah kenapa semakin ia marah semakin liar juga ia melakukannya bersama kakak pria yang dulu membuat hatinya nyaman dan aman.

__ADS_1


Sampai tak terasa air matanya pun jatuh ketika tak sengaja membayangkan kembali wajah ibunya yang sangat mencintainya. Maria benar benar harus berubah dan mempelajari ilmu sihir yang kuat untuk membalaskan semua kesakitan yang ia pendam selama ini pada Danu dan Ria.


__ADS_2