
Wajah yang hancur serta belatung yang keluar dari setiap pori pori arwah dihadapannya, sontak saja membuat Ria ingin segera berlari dan berusaha bangkit untuk pergi.
"Hahahahahahah" tawa melengking dari mulut Mira membuat Ria benar benar ketakutan.
Mulutnya bahkan seakan terkunci akibat mantra yang selalu Mira ucapkan.
"Kau harus mat* Ria! Hahahahahahah"
Dengan bantuan dari jin yang raja siluman kirimkan, Danu yang kini sedang berada diruang tamu bahkan tengah diteror oleh jin jin yang menyeramkan. Ibl*s yang saat ini tengah memadu kasih dengan gadis pembelian Danu, bahkan tak membantu apapun.
Danu di cekik dengan sangat kencang di bagian leher, hingga dirinya mampu terangkat ke udara dan terjatuh dengan cukup keras. Tawa yang sangat mengerikan terdengar memekakan telinganya, sampai sampai darah segar kini mengalir dari dalam telinga Danu dengan sangat deras.
Danu sebisa mungkin terlepas dari sosok yang tak mampu ia lihat tersebut dan berusaha berteriak dengan keras agar siapapun bisa membantunya.
Sayangnya, baik Mira, Sarah ataupun Ria tak ada yang datang untuk membantunya saat ini.
"To....long lepaskan aku" lirih Danu dengan pelan.
Suara berat dari sosok bayangan hitam didepannya hanya tertawa dan mulai membawa Danu terbang jauh lebih tinggi lagi. Kini tubuh Danu terkantuk di atas langit langit ruang tamu dengan lehernya yang terasa sangat sakit.
"Mohon ampun, tolong lepaskan a..aku"
Danu terus saja memohon pada sosok itu. Namun sosok itu takan oernah berhenti sebelum ada perintah dari raja siluman yang saat ini tengah mengendalikannya.
Nafas yang mulai tersenggal, serta wajahnya yang mulai pucat pasi, membuat iblis itu kini menurunkan Danu sebab ia sudah mendapatkan sebuah bisikan dari raja siluman.
"Kau akan mat* " ucap sosok tersebut senelum menghilang.
Danu yang terlempar dari atas langit langit rumahnya tepat terjatuh di atas sofa yang ada di ruang tamu tersebut. Untung saja dirinya masih bisa bernafas walaupun pandangannya mulai buram dan akhirnya ia pun kehilangan kesadaran.
__ADS_1
Maria yang saat ini tengah bermain main dengan Ria pun hanya bisa menertawakan ekspresi yang Ria tunjukan kali ini. Muka yang pucat, serta mata dan mulut yang terbuka membuat Maria ingin sekali tertawa.
"Apa kau takut Ria? Uh kasihan seklai"
Maria terus saja mengejek Ria yang saat ini tengah ketakutan. Hingga saat Maria melihat ke arah meja rias Ria, ia melihat sebuah pisau kecil tergeletak disana.
"Cantik" ucap Maria seraya mulai mengambil pisau lipat tersebut.
Ia berjalan menuju tempat Ria terbaring dan mulai menggesek gesekan pisau itu di wajah Ria. Rasa takit di wajah Ria sungguh menjadi candu bagi Maria. Ia bahkan sangat senang ketika melihat wanita itu meringis kesakitan saat pisau itu tengah menggores wajahnya secara perlahan.
"enak bukan?" tanya Maria dengan senyumannya.
"Apakah kau suka dengan gambar yang aku buat Ria?" tanya Maria dengan bangganya.
Ria menggeleng gelengkan kepala menahan rasa sakitnya yang ia alami. Ia bahkan meneteskan air mata kala perlahan lahan benda kilap itu mulai menyentuh setiap inci wajahnya. Perih sudah pasti ia rasakan, namun ketakutan akan arwah itu membunuhnya semakin besar.
Maria mulai membuka mantra pengunci Ria sehingga wanita itu bisa berteriak sekencang mungkin. Namun, Maria sudah menyiapkan mantra lain agar Sarah tak bisa mendengar teriakan dari Ria.
Maria tersenyum mendengar ucapan Ria. Sungguh miris sekali nasib ibu tirinya. Kini wajahnya bahkan sudah terluka dengan banyak sayatan yang ia ukir sendiri disana. Darah segar bahkan menetes netes di lantai.
"Apa kau mengenalku Ria?" tanya Maria dengan penuh kebencian.
"Ya! Aku tentu mengenalmu kepar** ! Kau adalah wanita tak berguna! Kau Nirmala sang gadis bod**h yang bisa aku kendalikan! Kau wanita penggoda "
"Hahahahahah! Kau bahkan tak mengenaliku Ria. Kau benar benar tak mengenaliku!" Maria mulai mengangkat tubuh Ria ke udara dan menjatuhkannya ke atas lantai dengan cukup keras.
Ria meringis menahan sakit dan ia pun mencoba untuk bangkit namun gagal. Tubuhnya bahkan masih sulit untuk ia gerakan.
"Kau bahkan telah salah mengenaliku Ria! Ah ya, satu lagi. Wanita yang kau anggap penggoda itu adalah dirimu sendiri. Kau sudah merebut si baji**n itu dan mengambil anaknya juga! Kau bahkan lebih hina dari ib** set** atau siluman! Kau bahkan tak pantas untuk hidup Ria!"
__ADS_1
Dengan ayunan tangannya, Maria berhasil membanting tubuh Ria ke tembok kamarnya cukup keras. Ria kini benar benar sangat lemah, dan pandangannya juga mulai buram. Darah dari wajah Ria terciprat ke atas lantai dan dinding kamar. Membuat Maria sangat senang dan puas. Hingga akhirnya wanita itu tak sadarkan diri.
**********
Pagi telah tiba, Sarah merasakan tubuhnya sangat bugar dan segar. Ia bahkan tersenyum ketika melihat sinar mentari yang begitu terik tepat mengenai wajahnya.
"Ahhhhhh, tubuhku sangat nyaman digerakan. Kukira tadi malam tidurku sangatlah nyenyak"
Sarah mulai bangkit dan melepaskan seragam sekolahnya yang masih ia kenakan semalam. Untung saja hari ini ia memakai baju batik sehingga ia bisa berganti pakaian dan tak mengenakan seragam yang ia pakai saat tidur.
Harum semerbak parfum yang Sarah kenakan membuat seisi kamar sangatlah wangi di setiap sudutnya. Sarah bergegas mengemas buku yang akan ia bawa ke sekolah dan segera pergi menuruni anak tangga.
Matanya tertuju pada Danu yang saat ini tengah terbaring diatas sofa dengan sangat lelap. Sarah bahkan masih sangat marah dan kesal setelah mendapatkan perlakuan dingin dari ayahnya tersebut. Sarah memilih untuk pergi langsung ke sekolah tanpa sarapan dan tanpa berpamitan pada kedua orang tuanya tersebut.
Brakkkk!
Pintu di tutup dengan sangat keras. Bunyinya bahkan membuat Danu yang semalam tak sadarkan diri kini bangun dengan terheran heran.
"Aku masih hidup?" gumam Danu pelan.
Ia meraba seluruh badannya yang terasa sangat sakit dan ia pun memegang telinganya yang baik baik saja, padahal jelas jelas semalam darah segar mengucur deras dari dalam telinganya itu.
"Aku benar benar masih hidup" Danu segera bangkit dengan susah payah, dan berjalan menuju kamar di halaman belakang.
Ia kini lebih fokus untuk mendatangi ibl* yang si mbah katakan akan membantunya itu dan ingin memarahi ibl** itu karena tak membantunya saat mendapatkan teror dari arwah yang ia kira Nirmala.
Deru nafas Danu terdengar membara. Ia bahkan menghiraukan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat kelakuan jin suruhan raja siluman.
"Dasar ibl** tak berguna" Danu menggerutu dengan kesal.
__ADS_1
Kini ia berada tepat di depan pintu kamar belakang. Ia segera membuka pintu dan mendapati seorang perempuan tengah tergeletak tak berdaya disana tanpa menggunakan sehelai benang apapun.