
Tak lama setelah mendapat persetujuan dari dokter akhirnya Nirmala mulai membereskan pakaian serta barang barangnya dan Maria yang ada dirumah sakit. Ia begitu senang ketika mengetahui bahwa putrinya sekarang bisa dirawat dirumah sehingga membuat Nirmala bisa kembali beraktivitas di rumah seraya menjaga Maria dengan leluasa.
Ia juga bahkan bisa memantau kegiatan Ria dan Danu selama dirumah setelah beberapa minggu ia dirumah sakit menjaga putrinya.
"Bi kita harus buat kamar Maria menjadi nyaman dengan cat yang berbeda"
Dengan antusias Nirmala pun membereskan seprei serta selimbut yang pernah Maria pakai sebelumnya ia begitu bahagia dan segera menelpon supir untuk menjemputnya di rumah sakit.
"Hallo mang"
"Iya nyah ada apa?"
"Mang cepat kemari untuk menjemputku pulang"
"Baik nyonya. Saya akan segera berangkat sekarang. Tunggu sebentar ya nyah, saya akan membawa pakaian ganti untuk nanti saya berjaga dirumah sakit"
"Gak usah mang! gak usah jaga disini. Saya dan Maria akan pulang sekarang"
Dengan terkejut Mang Kardi pun menjawab perkataan Nirmala dengan sedikit keras.
"Non Maria sudah sadar nyah?! alhamdulillah"
Nirmala terdiam, Maria bukanlah sudah sadar, namun Maria akan dibawa oleh Nirmala untuk dirawat di rumah.
"Segera kesini saja mang. Saya tunggu"
"Baik nyonya"
__ADS_1
Panggilan telepon pun terputus, Mang Kardi pun segera mengambil kunci mobil dilaci lemari ruang tamu.
"Mau kemana mang?" tanya Ria tiba tiba saja yang baru keluar dari arah dapur.
"Ini, Nyonya Nirmala menyuruh saya untuk menjemputnya karena Non Maria sudah sehat"
"Hah apa?!" pekik Ria dengan keras.
"Tadi Nyonya Nirmala sudah menelpon katanya saya disuruh untuk menjemputnya dan Non Maria dari rumah sakit. Kemungkinan Non Maria sudah sembuh, jadi Nyonya Nirmala menelpon saya"
Dengan wajah yang panik Ria kemudian berjalan menuju kursi dan duduk seraya menyimpan gelas berisi teh panas keatas meja.
Dipijatnya kening yang mulai terasa pusing mendengar kabar bahwa Maria sudah sehat.
Mang Kardi pun segera pergi menuju rumah sakit untuk menjemput majikannya.
Sudah tiga hari Maria berada dikerajaan siluman ular tersebut. Tak ada siapapun yang bisa ia ajak bicara dialam ini dan tak ada siapapun yang bisa ia percaya dialam ini.
Dalam tidurnya yang lelap Maria tak memimpikan apapun karena sejatinya jiwanya hanya berdiam diri sedangkan raganya menutup mata seolah tertidur. Dengkuran halus terdengar dari mulutnya.
Antareksa yang baru saja masuk kekamarnya lupa bahwa ada Maria disana. Dengan keadaan ruangan yang gelap, ia masuk kedalam.sana dan berbaring disamping Maria yang tertutup oleh selimbut tebal.
Dengan wajahnya yang putih dan tampan, tanpa ia sadari kini Maria berada tepat didepan wajahnya. Lama Antareksa tertidur dikamarnya bersama Maria disampingnya, hingga akhirnya ia pun terbangun dan sedikit terkejut ketika ia merasakan ada tubuh seseorang disampingnya.
Dikerjapkannya matanya dengan cepat hingga ia pun bisa melihat wajah Maria yang sangat cantik. Diusapnya lembut wajah Maria hingga ia pun tak sadar terbuai oleh kecantikan wanita yang kini sedang terlelap.
"Cantik" Antareksa memuji wajah Maria yang cantik .
__ADS_1
Hingga akhirnya ia pun terkesima dan menc***ium bibir mungil Maria cukup lama dan akhirnya ia pun tersadar dan segera menjauhkan tubuhnya dari Maria.
Tak berselang lama Maria pun terbangun dan terkejut melihat Antareksa tepat beberapa senti didepan wajahnya.
"Apa yang kau lakukan hah?!" Maria memegang erat selimbut yang ia kenakan.
"Kau adalah siluman mes**n kau memang berhati jahat!" Maria berteriak dan mulai bangkit duduk diatas ranjang.
Dengan dinginnya Antareksa menatap Maria dan memajukan wajahnya ke wajah Maria.
"Kau sangat senang bukan melihat wajahku dari dekat?"
Antareksa mengehmbuskan nafasnya tepat didepan Maria. Maria hanya terdiam dengan ketakutan yang ia derita. Beberapa kali ia mendapatkan pelec*han dari raja siluman serta adiknya yang saat ini berada satu ruangan dengannya.
"Mundur kau!" Maria mendorong keras tubuh kekar Antareksa dan segera bangkit menuju keluar ruangan.
"Berhenti jika kau tak ingin merasa ketakutan hidup di istana ini!" ancam Antareksa yang berhasil membuat Maria diam mematung.
"Memangnya ada apa diluar sana?" Maria mulai melunak menanggapi ancaman Antareksa.
"Di alam ini tak ada jam siang atau pun malam dan ku yakin kau tahu dan sadar hal itu. Tapi aku yang sudah lama hidup disini tahu bahwa jika dialam kami ini adalah waktu yang sama dengan malam dan diluar akan ada penyeretan jiwa orang orang yang gagal melakukan perjanjian dengan bangsa kami. Mereka akan diseret sepanjang lorong dengan lidah yang ditarik serta kaki yang akan dipotong agar tak bisa berjalan ataupun lari menghindar. Kau pasti takan sanggup melihatnya bahkan mendengarkan jeritan orang orang itu"
Maria tertegun akan penjelasan Antareksa.
"Kau pasti bohongkan?!" Maria mencoba menenagkan dirinya dan meyakini bahwa perkataan Antareksa adalah sebuah kebohongan.
"Untuk apa aku berbohong? gak ada untunya untuku membohongi manusia sepertimu. Jika kau tetap ingin keluar, maka pergilah dan tonton semua adegan yang sudah katakan. Aku akan melihat wajahmu yang pucat nanti. Oh ya, mungkin saja aku juga akan melihat tubuhmu yang tak sengaja masuk kedalam kuali tempat siluman membakar jiwa jiwa itu. Hahahahah" Antareksa tertawa dengan keras.
__ADS_1
Maria duduk diatas kursi meja rias dikamar Antareksa. Ia kemudian memikirkan setiap kejadian yang ia alami di alam ini. Ia berfikir jika memang ia dinikahi oleh raja siluman lalu mengapa sang raja tak menginginkannya ataupun tubuhnya, melainkan tetap bersama istri pertamanya. Dan jika ia sudah menikahi raja siluman lalu mengapa adiknya lah yang disuruh untuk menik**** tubuhnya. Dan kenapa pula jika sang raja menikahinya, Maria akan tetap dalam bahaya tinggal disini.