
Andai waktu bisa di ulang kembali, ingin rasanya Maria mengenal Antareksa lebih jauh. Walaupun ia hanya kakak iparnya dari Antareksa, tapi setidaknya Antareksa lah yang sering membuat hatinya bergetar tak karuan.
Entah salah ataupun benar, keputusan Maria membalaskan dendamnya pada Danu membuat dirinya kian menjauh dari Antareksa. Setelah ia melahirkan anak untuk raja siluman, dan setelah dirinya menolak untuk membiarkan putrinya hidup, Antareksa semakin marah dan tak pernah bersikap seperti dulu lagi.
Maria sadar, bahwa memang ini semua salahnya. Namun, ia pun tak menginginkan bayi bayi hasil dari perbuatan raja siluman itu padanya sebab ia rela melahirkan keturunan untuk sang raja hanya karena ia ingin kembali bersama ibunya.
Namun, semuanya sia sia saja bahkan sebelum ia melahirkan putra dari siluman tersebut. Ayahnya telah mengambil nyawa Nirmala dengan begitu keji.
"Aku sudah berubah menjadi monster sesungguhnya. Aku adalah ibl* yang kejam. Aku bahkan tak mengakui darah dagingku sendiri sebab mereka terlahir dari benih seorang siluman. Untuk apa aku kembali memikirkan pria itu? Bahkan dia pun tak membantuku untuk pulang sedetik saja menemui ibuku sebelum ia tiada" Mira bergumam dengan mata merah dan hampir keluar.
Wajah dari tubuh yang Maria gunakan perlu dilakukan ritual untuk membuatnya menjadi sedikit awet. Ia mengambil tusuk konde di balik rambunya dan mulai membaca beberapa mantra seraya bercermin di depan kaca. Perlahan lahan, Maria menancapkan tusuk konde tersebut ke wajah mayat yang ia gunakan beberapa kali. Darah dari tubuh itu tak menetes karena sudah beku. Sedangkan bau badannya mulai tercium busuk sehingga Maria pun melakukan ritual untuk membuat tubuh tersebut menjadi harum dan tak busuk.
Pukul menujukan 12 malam tepat. Maria perlahan lahan mulai keluar dari tubuh yang menjadi rumahnya dan kini ia mulai menjalankan aksinya.
Ia berjalan dengan tubuh yang mengeluarkan bau anyir serta wajahnya yang rusak serta pucat. Rambut yang panjang menutupi wajahnya membuat siapapun yang melihatnya pasti sangat ketakutan, apalagi jika belatung yang berserakan menggeliat di sela sela rambut di kepalanya terjatuh.
Siapapun pasti akan muntah dan lari jika melihatnya yang sangat mengerikan seperti itu. Danu dan Ria yang saat ini tengah tidur pulas dikamarnya tak sadar bahwa pelayan baru dirumahnya yang tadi siang membuat keributan sebenarnya adalah anak dari istri pertama Danu yaitu Nirmala.
Maria yang dulunya sangat alim serta baik hati kini telah berubah menjadi arwah penasaran dan sangat menyeramkan. Rasa benci di hatinya begitu dalam sehingga ia berani merencanakan kejahatan pada ayahnya sendiri.
Terlebih lagi setelah ia tahu bahwa sang ayah sengaja memberikan nyawa ibunya hanya untuk kekayaan serta kekuasaan saja. Sebegitu rendahkah harga nyawa sang ibu dimata ayahnya tersebut.
__ADS_1
Maria mulai menembus pintu kamar Danu dan berdiam mematung menatap ayahnya penuh dengan kebencian. Sayu sayup ia mulai memanggil nama ayahnya tersebut sehingga membuat Danu pun perlahan terbangun dan mengerjapkan matanya.
Danu terbangun dengan perasaan tak karuan serta perasan haus. Ia dengan santainya pergi melangkahkan kaki menuju dapur yang berada di lantai satu sendirian untuk mengambil segelas air karena teko di kamarnya sudah kosong.
Danu berjalan menuruni anak tangga dan mendengar seseorang sedang memasak di dapur. Danu mulai mencari tahu siapa orang yang sedang berada didapur dan melihat seseirabg dengan dres warna putih sedang memotong bahan untuk masak yang posisi badannya sedang membelakangi arah masuk ke dapur.
Danu menatap kaki sang wanita yang tampak putih bersih dan mulus serta melihat rambut sang gadis yang terurai dengan indahnya. Ya, Danu berpikir bahwa yang saat ini sedang berada di hadapannya adalah Mira. Sang pelayan baru yang telah membuat hatinya mulai menggelora kembali.
Danu menghampiri gadis itu dan memeluk tubuhnya dengan erat. Danu juga mulai menciun teng** leher sang gadis dengan perlahan namun wanita di hadapannya hanya diam dan tetep mengiris sesuatu.
Dengan pikiran kotornya, Danu mengira bahwa Mira sangat suka di perlakukan demikian sehingga gadis remaja di hadaoannya hanya diam saat mendapatkan perlakuan seperti ini . Bak mendapat duriab runtuh Danu mulai melanjutkan aksi tak pantasnya dan membalikan tubuh gadis di hadapannya.
"Apa yang kau mau dariku ? hahahahahahahah!" Suara melengking wanita di depannya serta wajah yang hancur membuat Danu ketakutan dan jatuh tersungkur ke belakang.
"Cepat sentuhlah aku mas! sentuh aku sesukamu! kau pasti sangat rindu padaku kan?!" tanya arwah Maria yang saat ini sedang menyamar menjadi ibunya.
"Pergi kau seta**! baji**! kau adalah wanita busuk! kau pantas untuk mati! dan kau memang sudah mati! Untuk apa kau kembali hah!" Danu berteriak dengan keras.
"Hahahahahahah aku kembali untuk membalas semua perbuatanmu dan istri barumu itu! kau bede**! kau kep***t! kau tak perduli saat anakmu sakit dan kau malah tumbalkan aku pada ibl** itu atas kesepakatan yang kau buat dengan wanita mu**han itu!"
Danu bergeming, tiba tiba saja sesuatu menggeliat keluar dari telinganya. Antara gatal dan geli, Danu mulai menarik benda panjang dari telinganya tersebut dan nampaklah seekor anak ular dari telinganya.
__ADS_1
Dengan cepat Danu melempar anak ular tersebut dan bangkit serta berlari kembali menuju kamarnya. Dengan langkah yang cepat, Danu kini telah sampai dikamarnya dan kemudian duduk di tepi ranjang dengan perasaan takut.
Nafasnya memburu serta haus yang tadi ia rasakan seketika hilang diganti dengan rasa lelah dan ketakutan yang luar biasa.
Dengan pelan, sebuah tangan membelai punggungnya dengan lembut. Danu merasa lega ketika tangan yang ia kira tangannya Ria membelai punggungnya.
Danu memegang tangan tersebut dan berbalik dengan pelan. Namun alangkah terkejutnya ia saat tahu bahwa tangan yang saat ini ia pegang adalah tangan kuntilanak.
Dengan spontan Danu mencekik leher wanita didepannya yang saat ini menampakan wajah menyeramkan serta senyuman mengerikan kearahnya. Dengan sekuat tenaga pula Ria mencoba menyadarkan suaminya untuk berhenti mencengkram lehernya.
"Ma...s...le..paskan....ak...ku mas!" Dengan suara terbata bata Ria memohon pada Danu yang saat ini tengah berhalusinasi bahwa Ria adalah Mira.
Bahkan Danu yang sebelumnya mendapatkan tepukan pelan di punggungnya ternyata memang benar bahwa tangan utu adalah tangan Ria dan bukan arwah Maria.
"Mati kau set**! mati! kau akan selalu ku bunuh walaupun kau hidup kembali sebagai seta**!" Danu berteriak dengan kencang hingga membuat Sarah terbangun dan segera berlari menuju kamar ayahnya tersebut.
Dengan terkejut, Sarah segera berlari menghampiri ayahnya yang saat ini tenagh mencengkram leher ibunya dengan sangat kiat sehingga terlihat sang ibu mulai lemas dan pucat.
Sekuat tenaga Sarah mencoba melepaskan tangan ayahnya yang mencekik leher ibunya sampai sampai ia kemudian berteriak dengan kencang untuk membangunkan Mira serta Bi Darsih.
"Mira! Bibi! tolong aku!"
__ADS_1
Arwah Maria yang saat ini masih berada di kamarnya hanya tersenyum menyeringai melihat kejadian yang disebabkan olehnya. Ia berdiam diri mematung tanpa ada siapapun yang dapat melihatnya saat ini.