
Para perawat kini sudah memasukan tubuh Danu dan Ria kedalam ambulan. Berbeda dengan mereka kini Sarah mulai sedikit bisa tenang dan saat ini duduk terkulai lemas di koridor rumah sakit.
Mang Kardi serta Bi Darsih saat ini tengah dimintai keterangan oleh para polisi tentang kejadian yang menimpa kedua majikannya tersebut.
"Sebelumnya, apakah sudah ada tragedi seperti ini di rumah anda?" tanya salah satu polisi pada Bi Darsih.
"Sebelumnya kami hanya mendapatkan teror biasa pak. Hanya saja sudah beberapa minggu ini teror arwah itu semakin menjadi jadi"
"Arwah?" polisi mengulang ucapan Bi Darsih.
"Iya pak arwah! Arwah istri pertama majikan saya sudah sangat menganggu kedua majikan saya. Entah apa yang sudah terjadi sebelumnya yang pasti sejak kematiannya kampung saya menjadi sangat mencekam setiap malamnya"
"Kami tak menangani kasus tentang hal mistis seperti ini. Kami akan melakukan olah TKP untuk memastikan tak ada orang yang mencelakai kedua pasien tersebut. Jika kami tak menemukan apapun yang mencurigakan di rumah majikan anda, maka kami angkat tangan dan kami tak menangani kasus mistis seperti ini"
Bi Darsih menganggukan kepala seraya menatap Mang Kardi. Bi Darsih berkata jujur dan ia pun yakin tak ada siapapun dirumahnya yang berani mencelakakan Danu serta Ria, apalagi dirinya sendiri. Itu sudah pasti takan pernah ia lakukan.
"Ya sudah kami permisi dulu. Besok pagi kami akan meminta keterangan pada kedua korban dan mulai menggeledah rumahnya"
"Iya pak, Silahkan"
Para polisi itu kini kian menjauh dari pandangan. Mereka pergi kembali ke kantornya dan inilah saatnya Bi Darsih dan Mang Kardi melihat kondisi kedua majikannya di dalam ruang perawatan.
__ADS_1
"Kenapa ini bisa terjadi pada nyonya dan tuan? Kenapa arwah Nyonya Nirmala melakukan ini pada Tuan Danu dan Nyonya Ria? Bibi sungguh tak habis pikir tentang ini" Bi Darsih perlahan duduk di sebelah Sarah dan Mira.
Tampak jelas raut wajah marah dari Mira yang mendengar ucapan Bi Darsih mengenai ibunya. Jika saja Bi Darsih tahu yang melakukan semua ini adah dirinya, maka Bi Darsih takan menjelek jelekan ibunya tersebut.
"Mungkin saja arwah nyonya pertama sangatlah marah dengan tindakan Nyonya Ria dan Tuan Danu. Takan mungkin seseorang menyimpan dendam yang sangat besar apalagi ia membawnya sampai mati. Pasti ada hal buruk yang pernah dilakukan oleh tuan dan nyonya" Mira menatap kosong lantai rumah sakit.
Namun seketika ucapannya di tentang keras oleh Sarah yang saat ini tengah duduk di sampingnya.
"Tentu tidak mungkin ayah dan ibu melakukan hal buruk pada hantu itu! Aku tahu ibu dan ayah sangat baik! Mungkin saja istri pertama ayah tak terima jika ayah menikah dengan ibuku dan menceraikannya! Kau bukan siapa siapa di keluarga kami jadi jangan sok tahu tentang apa yang terjadi di keluarga kami pada masa lalu!" Sarah bangkin dan mulai menjauh dari Mira.
Kini ia memilih untuk menyenderkan punggungnya pada dinding rumah sakit.
Sarah terdiam, lalu ia berfikir bangaimana ayah dan ibunya bisa menikah jika ayahnya tak menceraikan istri pertamanya.
"Katakan semuanya yang bibi tahu tentang ayah dan ibu juga istri pertama ayah! Bibi pasti tahu alasan pembalasan dendam ini kan!? Dan bibi pun pasti tahu kenapa arwah itu terus saja bergentayangan di rumah kita!"
Bi Darsih terdiam ia tak mampu mengatakn semua yang terjadi tentang Danu, Ria dan Nirmala pada masa itu. Apalagi jika ia mengatakan bahwa ibunya Sarah lah yang telah merebut Danu dari Nirmala. Bisa bisa Danu dan Ria membu**hnya.
"Bibi tak tahu non. Maaf"
Sarah berdecak kesal ia sungguh tahu ada yang disembunyikan oleh Bi Darsih tentang masa lalu keluarga ayahnya. Hanya saja mungkin Bi Darsih tak mau mengatakan itu sebab ia takut dengan ayah serta ibunya. Maka dari itu Sarah harus secepatnya mendapatkan informasi mengenai kebenarannya.
__ADS_1
"Baiklah jika bibi akan terus bungkam mengenai masalah itu, aku gak papa.Aku bisa cari tahu sendiri. Aku akan panggill kbali ptia yang dulu pernah aku temui" Sarah menatap ke arah Mira.
Mira hanya diam, ia yakin bahwa yang dimaksud Sarah adalah Antareksa. Pria itu sudah membuat Sarah mengetahui tentang dirinya yang seekor siluman ular. Maka sebentar lagi jika Danu mengatakan dirinya yang diserang oleh siluman ular, Mira pun akan terseret dalam hal ini.
Mira mulai memutar otaknya dan mulai mencari cara agar Antareksa tak ikut campur dengan urusannya ini dan Mira pun akan membuat raja membantunya walaupun ini pasti akan sedikit sulit dan berbahaya.
Bagaimana pun Mira ingin Danu dan Ria mat* menderita sama seperti dirinya dan ibunya dulu saat menghadapi kematian yang disebab kan oleh keduanya.
******
Danu yang saat ini tengah terkulai lemas sedikit demi sedikit mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Ia bahkan perlahan mulai membuka matanya dan kini ia baru sadar bahwa dirinya sudah berada di rumah sakit.
Danu memegang kepalanya yang terasa pening dan sakit. Bahkan ia pun tak mampu untuk bangkit dan duduk di atas ranjang rumah sakit. Ia hanya mampu menggerakan tangannya saja sebab ia sungguh merasa bahwa seluruh tulang di dalam tubuhnya telha hancur dan remuk akibat dorongan dari arwah yang ia yakini sebagai Nirmala.
"set* itu sudah membuatku menderita seperti ini. Jadi tak lama lagi mungkin ia akan benar benar membuatku kehilangan nyawa. Aku harus segera membinasakannya. Aku harus melenyapkannya dengan segera" Danu bergumam dengan pelan.
Rasa sakit di sekujur tubuhnya masih terasa, namun ia pun takut bahwa jika sampai ia tak cepat sembuh, maka arwah itu akan dengan mudah menyakitinya bahkan melenyapkannya. Danu menatap sekelilingnya dan tak ada Ria di dekatnya. Ia bahkan baru ingat bahwa kemarin malam isyrinya itu mengalami luka yang cukup parah dan serius, jadi Danu pun semakin berharap bahwa Ria segera mat*.
"Ku harap wanita itu tak selamat. Aku ingin cepat menikahi Mira dan menjadikannya sebagai pengganti wanita tua itu. Aku sungguh tak sudi jika harus sampai tua bersamanya apalagi wajah Ria pun sudah tak enak di pandang. Aku yakin jika aku menikahi Mira maka aku akan menjadi pria paling betuntung karena bisa mendapatkan gadis yang sangat sin*al dan cantik sepertinya" Gumam Danu dengan senyumannya.
Bahkan saat kondisi tubuhnya yang terluka, Danu masih bisa memikirkan Mira dan membayangkan hari hari yang menyenangkan dengan gadis belia tersebut. Danu seakan acuh dengan kondisi Ria yang semalam mendapatkan luka cukup parah dipergelangan tangannya.
__ADS_1