
Mora begitu terkejut mendapat perlakuan yang begitu agresif dari ayahnya sendiri. Antara jijim dan benci menjadi satu. Ia begitu muak melihat wajah Danu yang saat ini tengah mengedipkan mata dengan tatapan yang genit.
"Ini kotak obatnya Mir. Kamu obati luka Bi Darsih yang benar ya. Oh ya jangan hiraukan sikap Ria nanti padamu. Kamu harus tetap tinggal di rumah ini dan aku yang akan jamin semua kebutuhanmu" ucap Danu dengan lembut.
Bi Darsih begitu heran dengan tingkah majikan prianya yang begitu lembut terhadap Mira. Lain halnya jika Bi Darsih sendiri yang memulai pertengkaran, pasti saja Danu akan membakar tangannya ataupun memukul badannya yang sudah tua renta.
Danu tersenyum memandang wajah Mira dengan begitu terpukau. Danu sangat ingin memiliki gadis remaja yang seusia dengan anaknya sebab gair**h nya saat ini sedang memuncak.
Entah kenapa lama kelamaan ia begitu bosan memandang wajah istrinya yang tak lain adalah Ria setelah kehadiran Mira. Mungkin saja Ria memang sudah tua hingga tak membuatnya sekarang terlihat menarik.
"Iy...iya tuan. Ta...tapi sekarang saya sudah bukan pelayan dirumah ini. Sebentar lagi saya akan mengemasi barang barang saya dan pergi dari sini. Maafkan saya karena sudah membuat keributan antara tuan dan Nyonya Ria. Saya minta maaf sekali tuan" ucap Mira dengan kepala menunduk.
__ADS_1
Danu segera menghampiri tubuh wanita di hadapannya dan mulai memegang wajahnya dengan sangat perhatian. Ia mulai mengelus pipi lembut Mira yang saat ini dibanjiri air mata palsunya.
"Tak usah menangis. Ini semua bukan salahmu. Mungkin ini sudah saatnya putri semata wayangku mengetahui rahasia besar yang selama ini aku dan istriku sembunyikan. Aku sungguh tak ingin kau menangis. Kau tersenyumlah sebab jika kau tersenyum kau terlihat begitu cantik"
Bi Darsih yang mendengar perkataan majikannya semakin yakin bahwa majikannya itu mencintai pelayan barunya. Mungkinkah Danu sengaja membawa Mira kesini karena ia jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Kau jangan pergi dari rumah ini. Aku akan pastikan Ria akan tetap baik padamu. Aku jamin itu. Sekarang kamu obati saja luka Bi Darsih dan aku akan bicarakan pada Ria" Danu tersenyum dan segera pergi berlalu meninggalkan kamar Mira. Ia benar benar meninggalkan kamar Mira dengan perasaan marah yang menggebu pada Ria.
*******
Malam kian larut. Bi Darsih kini sedang terduduk diatas ranjang Mira dengan banyak tanda tanya. Entah kenapa hati kecilnya begitu yakin bahwa Mira itu adalah Nirmala ataupun Maria. Ia sangat yakin bahwa Mira adalah reinkarnasi dari majikannya tersebut sebab mereka benar benar memiliki bola mata yang sama dan hanya Bi Darsih yang tahu tatapan dari Nirmala dan Maria yang begitu meneduhkan hatinya.
__ADS_1
"Maaf jika saya lancang. Tapi apakah benar kamu Mira?"
"Maksud bibi apa?" tanya Mira heran.
Mira yang saat ini tengah melamun menatap jendela pun seketika berbalik memandang wajah pelayannya. Sungguh kuat ikatan antara Bi Darsih dan Maria. Hingga wanita paruh baya itu sangat hebat menebak dirinya yang memang adalah Maria.
"Maksud bibi, apakah kamu benar Mira dan bukan Maria?" Bi Darsih kembali bertanya pada Mira.
"Maria? Siapa dia bi? Saya tak tahu siapa orang bernama Maria" jawab Mira berpura pura tak mengetahui dirinya sendiri.
"Bibi sungguh yakin kau adalah reinkarnasi dari Maria ataupun ibunya, sebab kalian sangat mirip sekali. Jika pun benar kau reinkarnasi salah satu dari mereka, maka cobalah ingat ingat tentang waktu yang sudah kita lewatkan bersama. Bibi sungguh sangat rindu majikan bibi sebelumnya" Bi Darsih tiba tiba saja menangis hingga membuat Mira terkejut.
__ADS_1