
Danu yang telah selesai menyantap makanan buatan Nirmala pun hanya bisa bersantai diatas sofa bersama Ria yang kini duduk manis disampingnya. Tak ada sedikitpun rasa iba ataupun cinta unutuk Nirmala bahkan Maria saat ini karena pelet yang dilakukan Ria sudah berhasil membuatnya patuh dan tunduk dalam kendalinya.
"Mas kapan ya si Irma mati?" tanya Ria tiba tiba.
"Tenang sayang, mungkin sebentar lagi dia akan mati dan kita akan mendapatkan uang yang banyak atas penumbalannya. Kau hanya perlu bersabar" jawab Danu seraya mengecup kening selingkuhannya.
"Kalau begitu kamu harus cepat menikahi aku setelah dia mati ya mas. Aku ingin menjadi istrimu dan hidup bahagia berdua denganmu"
"Lalu bagaimana dengan Maria?" tanya Danu.
Ria tersenyum sinis memikirkan rencananya untuk gadis itu. Begitu besar keinginannya untuk mendapatkan Danu serta kekayaannya sehingga ia pun tak segan berencana untuk menghabisi anak dari suami sahabatnya tersebut.
"Aku akan menjaganya mas" jawab Ria bohong.
Danu dan Ria akhirnya larut dalam suasana dan keduanya saling berpegangan tangan diatas sofa. Tak perduli dengan keadaan Nirmala yang penting kini Danu sangat senang bisa berduaan dengan Ria tanpa ada pengacau kebersamaannya.
*******
Nirmala mengusap lembut pucuk kepala anaknya yang kini tengah menatapnya lekat disamping ranjang. Ia begitu sangat menyayangi putri semata wayangnya.
"Kamu pasti sangat lelah nak. Istirahatlah besok kan harus sekolah" ucap Nirmala dengan pelan.
"Tidak bu. Aku tak mau masuk sekolah. Aku ingin jaga ibu"
"Kamu itu harus belajar sayang. Kamu kan ingin jadi dokter. Jadi kamu harus belajar yang giat suapaya cita citamu bisa tercapai. Paham" Nirmala tersenyum kearah putrinya.
Maria hanya bisa menghela nafas dan mulai menganggukan kepala agar membuat ibunya merasa senang.
"Kamu pulang sekarang ya nak"
"Aku tidur disini saja bu biar bisa temenin ibu"
"Kamu pulang saja. Tidur dirumah. Disini tak ada tempat yang nyaman untuk kamu berbaring" jawab Nirmala.
"Tidak bu. Aku besok kan turutin kemauan ibu untuk sekolah. Sekarang giliran ibu izinin aku temanin disini" Maria tersenyum kepada ibunya.
__ADS_1
Kali ini Nirmala menganggukan kepala menyetujui keinginan putrinya yang sudah beranjak remaja tersebut. Didalam lubuk hatinya yang paling dalam, Nirmala begitu ingin bisa selalu bersama putrinya bahkan entah kenapa ia sekarang mersakan sangat takut kehilangan putrinya tersebut.
Malam kian larut. Nirmala yang sedang berbaring diatas ranjang rumah sakot bersama putrinya mulai terbangun ketika mendengarkan sayup sayur suara seperti orang yang sedang batuk.
Bi Darsih yang terlelap diatas sofa dikamar tempat ia dirawat tak sedikitpun terganggu dengan suara batuk tersebut, berbeda dengan Nirmala yang mulai merasakan ada yang aneh.
Perlahan lahan pintu kamar tempat ia dirawat terbuka sedikit dan tertutup kembali. Nirmala masih berfikir positif dan menyangka bahwa itu hanyalah angin saja. Hingga tak lama kemudian, terdengar ketukan didepan pintu kamarnya dan Nirmala pun masih berusaha untuk berfikir bahwa itu adalah seorang suster yang ingin menyuruhnya tidur.
"Suster!" teriak Nirmala dengan suara parau.
Lama dinanti kedatangan sosok yang mengetuk pintunya namun tak ada tanda tanda bahwa seseorang akan muncul ataupun sahutan dari sosok tersebut. Nirmala pun berusaha memanggil sosok yang ia kira suster tersebut beberapa kali.
"Suster! sus!"
Tetap tak ada jawaban membuatnya mulai merasakan ketakutan.
Hawa ruangan yang berubah menjadi dingin dan terasa begitu mengerikan, membuat Nirmala berusaha membangunkan Bi Darsih. Namun ketika ia mencoba memanggil asisten rumah tangganya, ia pun mengurungkan niat sebab takut bahwa Maria akan terbangun.
Ditatapnya lekat wajah sang putri, hingga tak lama kemudian selimbut yang ia gunakan perlahan lahan turun kebawah ranjang seperti ada yang menarinya.
"Siapa kau sebenarnya!" teriak Nirmala dengan kencang.
Tak ada sahutan dari luar kamarnya. Hanya ada geraman suara yang menyeramkan justru memanggil namanya.
"Nirmala" panggil sosok misterius dibalik pintu.
"Siapa kau cepat keluar!" teriakan Nirmala yang kencang membuatnya heran, sebab Bi Darsih dan Maria tak sedikit pun terbangun dari tidurnya.
Dengan selang infus yang menempel di tangannya dan alat oksigen yang menempel dihidungnya, Nirmala mulai panik kala sosok hitam tinggi menampakan wujudnya kearah Nirmala.
Ia menggoyangkan tubuh putrinya namun tak ada respon sedikitpun darinya. Ia kemudian berinisiatif memanggil Bi Darsih namun tetap saja pembantunya itu terlelap. Nirmala yang kian panik akhirnya menekan bel beberapa kali yang berada disamping tempat tidurnya untuk memanggil suster.
Sosok itu perlahan lahan menjadi sangat terlihat dihadapan Nirmala. Tinggi, hitam legam, dan matanya merah sungguh membuat Nirmala ketakutan dan mencoba menutup matanya.
"Ya Allah bantu hamba" lirihnya memohon.
__ADS_1
"Kau adalah santapanku Irma!" ucap soson itu kepada Nirmala.
"Dari mana kau tahu namaku hah?! dasar kau makhluk menjijikan!" teriak Nirmala sekuat tenaga.
Tawa menggelegar memekakan ruangan tempat ia dirawat. Perlahan lahan sosok itu mendekati tubuhnya, dan Nirmala pun tak bisa bergerak ataupun berteriak sekarang.
Tubuhnya mulai diendus oleh hidung sang makhluk yang berbentuk moncong, serta perlahan lahan rambut serta wajahnya mulai diji**lati oleh iblis yang sudah membuat perjanjian dengan Danu suaminya.
"Kau adalah budakku Irma! dan kau akan menjadi tumbal pesugihan. Hahahahahah"
"Siapa yang sudah menumbalkanku hah! siapa?!"
"Kau pastinya sangat terkejut jika mengetahui siapa pelakunya. Maka dari itu aku tak akan memberitahu siapa yang sudah mengorbankanmu. Kau tunggu saja kematian yang akan datang padamu. Perlahan lahan kau akan menikmati setiap rasa sakit yang kuberikan"
Sosok itu kemudian pergi menghilang seperti asap. Asap yang hitam pekat iringi dengan bau bangkai yang menyengat dirasakan oleh Irma.
"Huaekkkk!" Irma memuntahkan isi perutnya yang berupa gumpalan rambut dan belatung yang bercampur dengan darah kental.
Maria menangis melihat ibunya yang sejak tadi tak bangun dan kini malah memuntahkan isi perut yang menyeramkan.
"Dokter! Dokter ibu saya kenapa dokter!" teriak Marai yang berdiri disamping ranjang ibunya.
Nirmala yang merasakan pusing hanya bisa menatap putrinya dengan kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi. Ia sadar betul bahwa tadi putrinya sedang terlelap disampingnya dan hari pun masih gelap karena malam.
Tapi kenapa tiba tiba saja hari sudah siang dan putrinya sudah terbangun dengan Bi Darsih yang juga ikut menangis disampingnya.
"Aku kenapa bi?" tanya Nirmala lirih.
"Nyonya sejak subuh mengingau tak karuan dan kami mencoba membangunkan nyonya tapi tak bangun bangun. Dokter dan suster sudah memberikan beberapa obat ke tubuh nyonya namun tetap saja nyonya tak bangun"
"Tidur? bukannya tadi bibi dan Maria yang tidur?" tanya Nirmala heran.
Nirmala terlihat baik baik saja dan bicaranya pun lancar. Cara bicaranya terlihat tak seperti orang yang sakit. Namun fisiknya begitu memprihatinkan sekarang. Kulitnya yang pucat dan lingkar hitam dimatanya membuat Nirmala begitu terlihat tak pernah terurus.
Bi Darsih heran melihat majikannya yang terlihat seperti wanita tua padahal ia baru saja kemarin mengalami sakit.
__ADS_1