RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
36


__ADS_3

Akhirnya dokter pun membiarkan Nirmala menjaga anaknya didalam ruangan tersebut. Ia kemudian duduk disamping Maria yang hanya diam dan terbaring diatas ranjang.


Nirmala menatap sendu pada Maria. Ia begitu terluka ketika mengetahui bahwa putrinya saat ini sedang sakit dan ia pun tak tahu penyakit putrinya. Hanya Danu saja yang tahu kenapa Maria sampai bisa seperti ini. Dan tentunya hanya Ria yang tahu tentang sakit yang diderita oleh Maria.


Berhari hari Nirmala menunggu putrinya dirumah sakit namun tak juga mendapat kabar baik. Maria seolah sedang berada di fase vegetatif yang hanya mampu tidur dan hidup dengan tubuh yang hanya tertidur dan tubuh yang hanya diam saja.


Sejujurnya Nirmala merasa aneh dengan sakit yang diderita Maria. Ia pun ingin mengetahui lebih jelas tentang penyakit putrinya, hanya saja ia tak punya waktu untuk pergi mencari tahu hal itu karena ia tak ingin melewatkan sedikitpun waktu untuk jauh dari putrinya tersebut.


Bi Darsih yang senantiasa menemaninya dirumah sakit ikut tertidur disana sebab ia tak tega jika meninggalkan majikannya seorang diri. Berbeda dengan Danu yang saat ini fokus pada pekerjaannya seolah tak bertanggung jawab dengan keadaan Maria putrinya.


"Bi apakah Maria bisa bangun dan bersamaku lagi?" tanya Nirmala putus asa.

__ADS_1


"eh...euhh..tentu nyonya, Non Maria pasti akan sehat lagi dan bisa bersama sama kita lagi. Saya yakin" ucap Bi Darsih ragu.


Sudah laga ia bekerja dirumah mewah itu dan baru kali ini ia mengalami semua kejadian misterius dirumah majikannya tersebut. Mulai dari Nirmala yang sakit secara tiba tiba namun dikatakan sehat oleh pihak rumah sakit. Serta keadaan Maria yang tiba tiba saja seperti kehilangan kesadaran.


"Entah apa yang sudah dilakukan oleh pria itu dan wanita murahan itu. Aku sungguh akan membalaskan semuanya pada mereka. Aku janji. Sudah cukup aku mereka sakiti dan takan ada yang boleh menyakiti putri semata wayangku!" ucap Nirmala penuh penekanan.


Tubuhnha yang kian hari kian kurus, bola matanya yang terlihat sangat besar serta kelopak matanya yang cekung membuat Bi Darsih pun ikut iba melihat kondisi majikannya yang seperti mayat hidup.


Entah sakit apa yang Nirmala derita, namun dokter yang sudah melakukan rongsen serta lab tetap mengatakan bahwa Nirmala baik baik saja dan menyarankannya untuk pergi ke orang pintar.


Tiba tiba saja dokter masuk kedalam ruangan dan kembali mengecek kondisi Maria. Ia begitu heran dengan keadaan Maria yang jelas jelas hidup dan sehat namun tak membuka matanya seolah olah jiwanya hilang.

__ADS_1


"Pasien baik baik saja, namun anehnya ia tak bisa merespon apapun, baik itu suara maupun gerakan. Detak jantungnya normal dan nafasnya juga normal. Kami sarankan untuk anda segera mencari orang pintar karena saya rasa putri anda jiwanya sudah diambil dan jika saja anda terlambat mungkin.."


"Cukup! sudah cukup! dokter jangan lanjutkan perkataan dokter. Saya bisa menangani putri saya dengan baik. Yang terpenting sekarang apakah saya bisa membawa putri saya pulang kerumah?"


Pertanyaan Nirmala sontak saja membuat dokter tertegun.


"Maksud anda bagaimana?"


"Saya ingin membawa putri saya kerumah dok. Saya ingin putri saya dirawat dirumah saja karena banyak hal yang sudah saya tinggalkan dirumah. Apakah putri saya boleh dirawat dirumah dok?"


Dokter menghela nafas dan mulai menyimpan stetoskop ditelinganya ke lehernya.

__ADS_1


"Baiklah jika anda ingin putri anda dirawat dirumah tak papa sebab kondisi putri anda secara medis baik baik saja. Hanya anda tetap perlu memasang alat bantu pernafasan, selang infus dan selang makanan untuk pasien mendapat asupan"


Nirmala mengangguk dan mulai tersenyum senang.


__ADS_2