RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
49


__ADS_3

Maria segera di bawa oleh beberapa perawat menuju ruang UGD untuk mendapatkan segera penangan yang tepat. Nirmala begitu terlihat panik dan menyuruh Bi Darsih untuk segera menelpon Danu.


"Bi tolong panggilkan Mas Danu dan suruh dia agar bisa datang kemari untuk melihat kondisi Maria saat ini"


"Baik nyonya saya akan coba hubungi"


Bi Darsih menegeluarkan ponsel dari saku celananya dan mulai menekan nomor majikannya. Lama sekali ia menunggu panggilan diangkat, namun tak kunjung juga terhubung.


"Maaf nyonya sepertinya tuan Danu sedang sibuk" Bi Darsih segera melaporkannya pada Nirmala.


"Pria itu sungguh tak punya hati. Disaat anaknya sedang sekarat pun ia malah enak enakan pergi bersama selingkuhannya" Nirmala yang geram pun akhirnya hanya bisa mengumam dalam hati.


Dokter muda yang sedari tadi menemani merka kini berjalan masuk kedalam ruangan tempat Maria dirawat dengan dibarengi oleh beberapa perawat lainnya.


"Sbenarnya apa yang sudah terjadi pada putri saya dokter?"

__ADS_1


"Untuk saat ini saya tak bisa memberikan penjelasan pada anda. Kami akan mencoba memeriksa pasien secara mendalam dan menyeluruh setelah itu kita tunggu hasilnya" Dokter menjelaskan prosedur medis pada Nirmala.


"Saya harap ibu banyak berdoa demi kesembuhan putri ibu" sambung dokter pada Nirmala.


Nirmala dan Bi Darsih segera menuju mushola di rumah sakit dan melangsungkan sholat isa berjamaah. Pikiran Nirmala yang tadinya kalut kini berangsur normal dan rilex.


Ia begitu nyaman berada disalam mushola tersebut dan melakukan doa sangat khusu untuk meminta kesembuhan dirinya dan Maria.


"Aku bersimpuh di hadapanmu Ya Allah, pencipta seluruh alam beserta isinya. Ampuni dosa dosa hambamu ini Ya Rab. Tolonglah selamatkan putri hanba Ya Allah. Tolong berikan dia kesehatan serta umur yang panjang. Aku tahu begitu banyak dosa yang tekah hamba ini buat dan lakukan baik dalam keadaan sadar maupun tidak. Hamba mohon ampuni dosa dosa hamba dan sembuhkan kembali putri satu satunya hamba Ya Allah"


Nirmala berdoa dengan isak tangis yang senantiasa terdengar begitu menyayat hati


Kedua wanita itu sedang memohon pada sang kuasa agar Maria bisa kembali pulih dari penyakit misteriusnya. Bulir bening terus saja menetesi pipi kedua wanita tersebut hingga akhirnya sudah cukup lama mereka berada disana dan memutuskan untuk kembali ke tempat Maria ditangani.


"Bi, apakah putriku bisa kembali sehat dan hidup lagi bi?"

__ADS_1


"Hust! nyonya jangan bicara seperti itu. Non Maria pasti sembuh dan pasti hidup bagaimana pun caranya. Allah pasti kasih jalan terbaik untuk kita dan tentunya untuk Non Maria sendiri"


"Aku tak bisa bayangkan jika Maria sampai tiada bi. Hatiku pasti sangat hancur dan mungkin aku pun akan mati menyusulnya" Nirmala bergumam dengan sendu.


"Nyonya, kita punya Allah. Apapun kehendak Allah, apapun takdir Allah kita harus menerima dengan iklas dan tabah. Walaupun sangat berat dijalani dan dilakukan, percayalah bahwa Allah memiliki takdir yang indah untuk kita" Bi Darsih menciba menguatkan majikannya yang saat ini sedang terguncang.


Nirmala terdiam dan mulai menyeka air matanya.


"Bibi benar. Apapun yang terjadi aku yakin semua ini pasti ada jalannya"


Tak lama kemudian dokter keluar dari ruanagn tersebut dan mengatakan suatu hal yang penting.


"Kami cukup terkejut dan aneh mendapati luka sangat besar diarea sensitif pasien. Dan kemungkinan alat reproduksinya akan sedikit terganggu akibat luka tersebut"


"Astagfirullah. Luka apa itu dok? Anak saya takan mungkin melakukan hal aneh aneh. Dia sangat rajin beribadah dan sangat anti terhadap pergaulan bebas"

__ADS_1


"Ini adalah luka yang timbul akibat kekerasan s**sual yang dilakukan secara paksa. Namun anehnya tak ada tanda tanda area sensitif korban pernah, maaf melakukan hubungan terlarang dengan manusia. Ini lukanya cukup besar seperti pasien sudah kemasukan benda besar"


Nirmala menggelengkan kepala seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.


__ADS_2