RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
74


__ADS_3

Entah apa yang harus Mira lakukan saat ini. Apakah dia harus mengatakan semuanya pada Bi Darsih bahwa memang ia benar benar Maria. Terlebih lagi saat ini ia adalah arwah penasaran yang masih bergentayangan untuk menuntaskan balas dendamnya pada Danu serta Ria.


Apakah ia harus mengatakan bahwa dirinyalah gadis kecil yang selalu dimaja oleh wanita paruh baya di depannya itu. Jika sampai ia membocorkan rakasiannya pada Bi Darsih maka, sudah dapat dipastikan Danu serta Ria akan tahu dan mungkin mengeluarkan arwahnya dari mayat wanita yang saat ini tengah ia gunakan.


"Maafkan aku bi. Tapi aku bukanlah Maria ataupun Nirmala. Aku benar benar Mira dan baru kali ini aku melihat bahkan melihat bibi. Sekali lagi maafkan aku." ucap Mira dengan pelan.


Bi Darsih yang merasa sedih dan salah sangka pun mulai lunglai. Ia begitu berharap bahwa Mira adalah reinkarnasi dari Maria ataupun Nirmala, sebab ia ingin menceritakan semuanya pada Nirmala ataupun Maria.


"Ya sudah kalau gitu. Bibi pergi dulu ya non. Selamat malam" Bi Darsih mulai bangkit dari ranjang dengan tangan yang sudah terbalut perban.

__ADS_1


Mira menganggukan kepa dan tersenyun pada pelayan dirumahnya itu.


"Jika bibi merasa sakit atau pun butuh sesuatu maka panggilah aku. Aku akan datang membantu bibi"


Bi Darsih yang mendengar ucapan itu pun berbalik dan tersenyum ke arah Mira. Ia melanjutkan jalan dan segera pergi menuju kamarnya.


Mira terdiam memikirkan perkataan Bi Darsih yang begitu yakin bahwa dirinya adalah Maria ataupun ibunya sendiri. Bagaimana pun, Mira paham bahwa memang benar ikatan orang asing yang sudah menjaga kita sepenuh hati pasti akan sama seperti ikatan antara ibu dan anaknya.


Ingin sekali rasanya ia kembali ke masa masa saat ia masih mendapatkan kasih sayang ibunya sendiri serta perhatian yang tercurah dari kedua orang tuanya sebelum adanya Ria dihidup mereka.

__ADS_1


Rasa rindu dihatinya bahkan tak bisa membuatnya meneteskan air mata sedikitpun. Entah apa yang sudah membuatnya kuat ataupun mari rasa seperti ini, yang pasti rasa sakitnyalah yang sudah membuat hatinya mati dan takan pernah perduli dengan siapapun.


Semilir angin menerpa wajahnya dengan lembut. Sayup sayup bisik pelan dari angin membuat Mira terdiam dengan seribu penyesalan dan luka dihatinya saat ini.


Ia begitu ingin melihat wajah ibunya dengan jeadaan baik, namun tak bisa. Setiap kali ia membayangkan sang ibu, setiap kali juga ia teringat saat saat ibli* itu datang dan mulai memakan ibunda tercintanya dihadapannya sendiri.


Harta dan tahta yang diinginkan Danu sudah membuatnya bita dan rela mengorbankan keluarganya sendiri. Terlebih lagi Ria yang menjadi dalang dari semua masalah serta tragedi yang terjadi.


"Kau tak perlu menemuiku" gumam Mira pelan, kala tahu bahwa ada sosok pria tengah menatapnya dari balik cermin di belakangnya.

__ADS_1


"Kau tak usah khawatir tentang diriku. Kau fokuslah menjaga bayi set**n itu dan biarkan aku melakukannya sendirian" Lanjut Mira dengan pelan.


Sosok bayangan seorang pria dibelakangnya mulai pudar dan menghilang. Mira tersenyum ketika sadar bahwa siluman berhati es batu itu memang sudah mencair karenanya.


__ADS_2