RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
110


__ADS_3

"Aku datang!' Siluman ular raksasa kini hadir di tengah tengah arwah Maria dan ibli* itu.


Danu seketika terkejut dan mulai mencoba membangunkan Ria karena panik.


"Celaka, kita akan tamat hari ini Ria!" Danu mulai menepuk pipi Ria dengan keras agar istrinya itu segera sadar.


Bahkan Danu tak segan mulai menampar pipi Ria dengan keras tanpa memperdulikan rasa sakit yang saat ini Ria rasakan.


"Berani beraninya kau menyakiti istriku!" Raja siluman itu mulai menarik tubuh Ibl* di hadapannya dan membantikan dengan keras.


Ibli* itu terpelanting jauh tepat mengenai dinding kamar Danu dan terlihat asap hitam mulai menggumpal di sekeliling Ria dan Danu.


"Kau takan bisa mengalahkanku" Ibli* itu mulai memberikan serangan berupa hisapan dari mulutnya.


Mulut ibl* itu terbuka lebar sehingga memperlihatkan taring taringnya yang besar dan kuat.


"Kau akan baik baik saja" Siluman itu mulai mengangkat tubuh Maria dan membaringkannya di sisi kanan ruangan.


Kini giliran ia memberikan serangan pada Ibl* yang melakukan perjanjian itu dengan Danu. Tanpa diduga duga, raja siluman itu telah menyiapkan sebuah kejutan hebat untuk ibl* tersebut yang merupakan sebuah kelemahannya. Siluman itu mulai mengeluarkan cahaya dari pori pori sisit ularnya sehingga membuat ibl* itu mengerang dan kepanasan.


"Kau sungguh bede**h!"


Iblis itu kemudian perlahan menghilang berubah menjadi asap hitam yang tebal.


Mata itu kini mengarah pada Danu yang terlihat sangat pucat karena menahan rasa takut. Arwah Maria yang sudah pulih pun segera datang terbang menuju ke arah Danu dan mencoba mencekal lehernya dengan sangat kuat.


"Kau akan mati Danu!" mata Maria sangat merah. Terlihat urat urat di kedua bola matanya sehingga membuat Danu terus saja membaca mantra yang si mbah ajarkan padanya.


"Kau takan bisa menyakitiku dengan mantra itu. Rasa benci serta amarah di dalam diriku sangatlah besar pada kalian. Dan inilah pembalasan yang menyakitkan dariku Danu!" Maria segera melemparkan tubuh ayahnya itu ke dinding kamarnya sehingga emnbuat tubuh pria itu kini terkulai lemas di atas lantai.


Kesadarannya masih ada namun rasa sakit di seluruh tubuhnya membuat dirinya begitu tak mampu untuk bangkit dan berdiri. Bahkan untuk bernafas pun rasanya sangat sakit.


"Kau senang bukan menyakitiku? Kau dulu juga membuatku sangat tersiksa dengan rasa sakit yang kau berikan. Aku sangat senang kau merintih dan memohon padaku. Tenang saja, aku tak akaknmembunuhmu dengan cepat. Aku ingin bermain main dulu dengan kalian berdua sebelum ajal kalian datang menghampiri. Hahahahahaha" tawa melengking yang Maria keluarkan sontak membuat Mang Kardi yang saat ini tengah berada di post satpam segera berlari ke arah rumah.


Pria yang baru saja melepaskan earphone dari telinganya itu kini terkejut ketika mendengar sebuah tawa menakutkan dari arah dalam rumah majikannya. Dengan sekuat tenaga ia pun berlari ke dalam rumah dari arah dapur dan mulai berlari menaiki anak tangga.


"Tuan! Nyonya! Bi Darsih!" teriak Mang Kardi dengan keras.

__ADS_1


Tak ada sautan dari mereka membuat Mang Kardi semakin panik.


"Non Sarah! Nak Mira!"


Mang Kardi terus berlari mencari siapapun di rumah ini. Tawa yang ia dengar berasal dari kamar majikannya. Ya, kamar Danu dan Ria.


Saat ini arwah Maria dan siluman itu saling pandnag kala mendengar teriakan dari arah luar yang tak lain adalah Mang Kardi. Baru Maria ingat bahwa Mang Kardi tidak ia beri mantra penutup ataupun mantra yang membuat Mang Kardi tak bis mendengar kegaduhan yang akan ia lakukan. Untung saja Mang Kardi datang di saat semua rencana Maria sudah di lakukan. Jadi ia tak perlu takut sebab ia sudah puas melakukan permaian bersama Ria dan Danu.


"Kita harus pergi sekarang" ajak raja siluman pada Maria.


"Ya tentu, kita harus pergi sekarang"


Arwah Maria mulai memejamkan mata, ia bersiap menghilang dan kembali ke kamarnya sendiri. Sedangkan raja siluman pun berubah menjadi ular yang sangat kecil dan sangat sulit untuk terlihat.


"Tuan! Nyonya! Kalian baik baik saja?" teriak Mang Kardi dari luar.


Ia tak mendengar apapun dari dalam kamar majikannya. Padahal biasanya jika ia berteriak di dalam rumah di saat malam seperti ini ia akan segera mendapatkan bentakan ataupun amarah dari Danu dan Ria.


"Ini ada yang tak beres"


Mang Kardi segera mencoba membuka kamar majikannya dengan cara mencongkel kunci pintu.


"Nyonya dan tuan apakah baik baik saja?!" Mang Kardi berteriak sekali lagi untuk memastikan keadaan majikannya.


Mang Kardi pun terdiam dan memikirkan cara terbaik untuk mengecek kondisi majikannya. Hingga ia pun teringat kunci cadangan yang Bi Darsih pegang. Dan ia pun ingat, bahkan Mang Kardi pun belum mengecek kondisi Bi Darsih, Sarah ataupun Mira.


Mang Kardi segera berlari menuju kamar Bi Darsih. Langkahnya yang sudah sangat lemah membuat dirinya mudah merasakan kelelahan. Hingga kemudian ia oun telah sampai di depan pintu kamar Bi Darsih dan menggedor pintu kamar wanita itu dengan sangat kencang.


" bi! Bi Darsih buka! Ini aku Kardi bi!"


Tak lama kemudian terdengar sebuah langkah kaki dari dalam kamar tersebut. Dan akhirnya pintu terbuka dan menampilkan Bi Darsih dalam keadaan bingung.


"Bi, Bi Darsih baik baik saja?" tanya Mang Kardi panik.


"Emhhh ada apa Kardi! Malam malam bikin tusuh saja! Berisik tahu. Nyonya sama tuan nanti marah!"


Bi Darsih yang belum sadar sepenuhnya membentak Mang Kardi karena kesal. Ras akantuk yang ia alami masih sangat terasa hingga membuatnya beberapa kali menguap.

__ADS_1


"Gawat bi! Gawat!"


"Gawat kenapa Kardi? Sudah kamu janagn berisik ini sudah malam" Bi Darsih mencoba mengabaikan perkataan Mang Kardi dan berjalan keluar kamar meninggalkannya sendiri.


"Bi Darsih dengarkan saya dulu! Ini soal tuan dan Nyonya!"


"Apa? Mereka kenapa? Mereka sedang tidur toh"


"Astagfirullah bibi dengarkan saya dulu"


"Ya sudah katakan cepat!"


Mang Kardi segera menarik nafas dalam dalam dan menjelaskan apa yang ia dengar saat berada di post satpam tadi. Bi Darsih yabg mendengar perkataan Mang Kardi pun terkejut dan mulai berjalan cepat menuju kamar majikannya.


"Apa kau sudah mencoba memanggilkan ?"


"Sudah bi! Bahkan aku sudah menggedor pintu kamarnya dengan sangat kencang, namun tak kunjung ada jawaban. Aku bahkan tadi sempat mencongkel knop kunci di pintu kamarnya saking panik dan tak ingat bahwa bibi memiliki kunci cadangan" Mang Kardi tersenyum kecil karena kecerobohannya.


"Wong edan kamu Kardi! Kalau nanti nyonya dan tuan tahu kunci pintu mereka rusak bisa berabe! ini kunci saya pegang masa kamu lupa" Bi Darsih terus saja mengomel pada Mang Kardi seraya terus memijakan kaki nya menaiki tangga.


Mang Kardi hanya diam mendengarkan omelan wanita di depannya sebab ia tahu bahwa Bi Darsih sebenarnya tak ingin ia mendapatkan masalah atas kecerobohan yang ia buat.


"Nyonya! Tuan! Tuan Danu!" Bi Darsih mencoba memanggil Danu dan Ria namun tetap tak ada jawaban.


Saat ini kondisi Ria sangatlah kritis sebab pendarahan di tangannya belum juga teratasi. Sedangkan Danu, ia bahkan kini dalam keadaan tak sadarkan diri sebab tubuhnya menghantam dinding dengan sangat keras.


"Non Sarah dan Mira apa kau sudah panggil dan cek keadaannya?" tanya Bi Darsih pada Mang Kardi.


"Belum bi. Aku belum mengecek kondisi mereka. Kita harus cepat lihat dulu kondisi Tuan Danu dan Nyonya Ria sebab saya yakin ada yang tak beres dengan keduanya".


Bi Darsih segera memasukan kunci cadangan kamar majikannya dan akhirnya pintu perlahan mulai terbuka. Kamar yang berada dalam keadaan gelap membuat Bi Darsih dan Mang Kardi samar samar melihat sesosok tubuh tengah terkulai lemas di atas lantai.


"Astagfirullah Tuan Danu!" pekik Bi Darsih terkejut.


Mang Kardi pun segera menyalan lampu kamar dan tampaklah pemandangan mengerikan di depannya.


"Kita harus segera panggil polisi bi!"

__ADS_1


Mang Kardi segerapergi menuju lantai bawah dan menelpon polisi dengan telpon rumah. Bi Darsih hanya mampu terdiam syok melihat pemandangan mengerikan di usianya yang sudah senja.


Darah mengucur dari pergelangan tangan Ria, serta Danu yang terkulai lemas dengan darah yang mengucur dari telinganya.


__ADS_2