
Hutan yang rimbun dan gelap, membuat Maria susah mencari jalan untuk keluar dari tempat ini. Ia tak henti hentinya menangis dan berlari tak tentu arah.
Suara hewan tak terdengar sedikitpun ditelinganya. Benar benar sepi sekali disini. Tak ada cahaya bahkan hewan pun tak ada. Hanya terdengar desiran angin kencang yang menerpa wajahnya serta nafasnya sendiri yang terengah engah.
"Ibu!" teriak Maria dengan kencang.
"Ku mohon bantu aku ibu, aku takut!"
Maria mengusap air mata dengan kasar. Ia berlari sekuat tenaga hingga akhirnya ia pun jatuh tersungkur tepat didekat pohon yang sangat besar.
Tangan serta bajunya kini sangat kotor oleh lumpur yang basah. maria meringis kesakitan karena tubuhnya jatuh, dan tangannya lecet akibat menahan tubuhnya.
"Awww sakit" lirihnya pelan.
Maria kemudian menatap rumput didepannya yang mulai bergoyang karena angin kencang berhembus. Ia kemudian sangat ketakutan ketika melihat sosok pria yang menyeringai dihadapannya.
"Kita bertemu lagi sayang" ucap Siluman yang sudah mengambil kehormatan Maria.
Dengan tubuh bergetar, Maria kemudian mencoba untuk bangkit berdiri.
"Komohon jangan lakukan hal jahat padaku! kumohon" Maria berlutut dan bersimpuh dihadapannya.
"Aku hanya ingin mengambil hakku yang sudah diberikan oleh pemberi perintahku. Aku akan mengambil bayaran dari usaha yang sudah ku buat untuknya. Kau hanya bisa menuruti perkataanku dan menuruti perintahku. Kau tak bisa menolak ataupun mengelak"
Siluman itu kini mendekatkan wajahnya kerah Maria. Dengan sigap Maria menganbil batu dan memukulkannya tepat kehidung siluman itu.
"Rasakan ini set**!" ucap Maria geram
Maria bangkit dan berlari kembali menjauhi siluman yang saat ini tengah terdiam dengan amarah yang memuncak.
"Kau takan bisa lari dariku!!!" Siluman itu pun kembali merubah wujudnya menjadi ular yang besar dan mengejar Maria dengan cepat.
Siluman itu membuka mulutnya dan mengeluarkan api besar hingga membuat dedaunan disekitarnya terbakar.
Tak berselang lama siluman itu pun mengeluarkan lendir dari mulutnya dan meludahkannya tepat mengenai punggung Maria.
Brak!
Maria jatuh tersungkur dengan wajah yang membentur tanah sangat keras.
Terlihat dagunya lecet dan memerah akibat posisi jatuhnya yang sangat memprihatinkan. Darah segar mengucur dari dagu dan bibirnya akibat benturan yang terjadi.
__ADS_1
"Sudah aku katakan padamu untuk diam dan patuh terhadap perintahku" Siluman ular tersebut kini merubah wujudnya kembali ke bentuk manusia dan mulai mencengkram kuat pundak Maria dengan kasar.
"Lepaskan aku! lepaskan!"
Maria mencoba berontak namun gagal. Rambutnya yang indah kini kusut berantakan. Siluman itu menjambak rambutnya dengan sangat kuat menyeret tubuh Maria menyusuri hutan.
Sakit sudah pasti dirasakan Maria. Ia berusaha lepas dari tangan siluman itu namun tak bisa. Semakin ia berusaha berontak dan melarikan diri, semakin kuat juga siluman itu menyeret tubuh Maria.
Hingga tibalah Maria disebuah bangunan yang besar dan kokoh yang terbuat dari emas dan marmer dengan pajangan didepan gerbang yang terbuat dari tengkorak manusia berwarna emas. Maria menjerit ketakutan dan menangis sesegukan .
"Kumohon jangan lakukan apapun padaku tuan kumohon!" Maria menangis dan memohon kepada Siluman itu.
Semakin Maria memohon padanya semakin tinggi juga siluman itu merasa percaya diri dengan kekuasaannya.
"Jangan takut sayang, kau berada dikerajaanku. Aku hanya ingin kau disini dan melahirkan anak anakku dengan nyaman dan aman"
Siluman ular itu tersenyum dan mulai menggenggam tangan Maria dengan lembut. Namun Maria menggelengkan kepala dengan cepat dan mulai menarik kembali tangannya.
"Aku mohon biarkan aku bebas dan bertemu dengan keluargaku. Kau boleh mengambil apapun dariku tapi kumohon bebaskan aku"
"Sudah berapa kali aku katakan padamu untuk menurut dan patuh padaku. Aku ingin memiliki keturunan darimu. Kau akan hidup bersamaku dan tinggal disini denganku"
Maria kemudian kembali diseret paksa oleh siluman tersebut hingga sampai gerbang bangunan itu. Para siluman yang berbagai macam bentuk segera menundukan kepala ketika melihat siluman yang saat ini tengah bersama Maria. Mereka memberikan penghormatan kepada siluman itu.
"Baik tuan"
Tubuh Maria kini diseret oleh makhluk yang berbentuk seperti trenggiling dengan moncong yang sangat panjang serta liur yang terus saja menetes dari mulutnya.
Maria berontak dan tak mau disentuh para siluman yang saat ini mengapit tubuhnya. Ia beberapa kaki berontak hingga membuat salah satu siluman memanggil seorang pelayan wanita yang sangat cantik hingga membuat Maria tertegun dan seolah membeku.
Cantik.
Hanya itu yang mampu Maria katakan kala melihat perempuan yang tersenyum kearahnya.
"Mari sama saya" perempuan itu kini mengulurkan tangan kearah Maria, hingga membuatnya terkesima dan menggenggam tangan perempuan itu.
Tak ada obrolan disaat Maria dan perempuan cantik itu berjalan menuju sebuah kamar dengan cat pintu berwarna hitam.
"Kamu istri tuan yang baru?" tanya perempuan itu tiba tiba saja.
Maria menggeleng dengan cepat dan mulai melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Bukan! Saya bukan istrinya tuan! justru saya diculik oleh dia dan dipaksa melayaninya. Tolong saya! tolong bebaskan saya dari sini"
Perempuan didepannya hanya tersenyum dan segera memegang tangan Maria.
"Tenanglah, tuan sangat baik dan perhatian jika kau menuruti perintahnya. Saya adalah istrinya yang pertama dan telah melahirkan sembilan anak ular untuknya namun mereka mati dibunuh para kiyai yang menerobos masuk kewilayah kami'
Maria tercengang. Wanita secantiknya bersedia menikah dengan siluman yang jelas jelas sangat mengerikan serta menjijikan.
"Ayo kita sama sama pergi dari sini dan hidup dengan normal" ajak Maria pada perempuan didepannya.
"Tidak. Aku disini atas keinginanku sendiri. Aku ingin hidup bersama suamiku, serta anak anak darimu dan tentunya dirimu sendiri. Kita bisa kuasai duniamu sehingga mereka akan ikut menjadi pemujamu. Aku hidup disini dengan bahagia. Kemakmuran, kekuasaan serta umur yang panjang. Aku dapatkan semuanya dari sini. Kau ikutlah bersama kami tinggal disini"
Maria dengan sikap angkuhnya tetap saja menolak, hingga membuat perempuan didepannya tersenyum dan meniupkan angin hingga membuat Maria diam dengan tatapan kosong.
"Ikutlah denganku"
Maria pun patuh dan segera mengikuti langkah perempuan yang ternyata adalah istri pertama siluman tersebut.
Sesampainya di kamar megah yang berwarna emas yang merupakan kamar dari istri pertama siluman tersebut. Maria didandani dan dikenakan pakaian khas seperti pengantin pada umumnya. Luka luka dibandannya pun seketika sembuh dan tak ada setitik pun noda bekasnya jatuh.
Maria kembali cantik dan tak ada goresan di dagunya bekas tersungkur dihutan tadi. Ia pun hanya diam tak berbicara dengan pandangan kosong.
"Sekarang kamu sudah cantik"
Istri pertama siluman itu pun kembali meniup wajah Maria hingga membuatnya kembali tersadar.
Maria pun kaget ketika menatap dirinya sedang terduduk didepan cermin dengan pakaian pengantin serta riasan di wajahnya yang begitu cantik.
"Apa yang sudah anda lakukan pada saya? apa yang kalian inginkan?" Maria kembali bertanya dan meneteskan air mata.
"Sudahlah anak manis kau tak perlu menangis. Kau akan menjadi istri kedua suamiku. Kau akan melahirkan anak anak kami dan kau akan menjadi ratu disini. Kau tak perlu takut, suamiku baik dan tak akan mencelakakanmu"
"Jika memang dia baik lalu mengapa dia melecehkanku serta mengambil kesucianku secara paksa hah?! kenapa?!"
Perempuan didepannya tertegun. Ia kembali tersenyum hingga membuat Maria sedikit jengkel dengan kelakuannya yang selalu saja menampilkan senyum yang lama lama terlihat mengerikan.
"Kau tahu aku disini sejak kapan? aku sudah hampir seribu tahun tinggal disini ketika sang raja membawaku dan melecehkanku saat aku berusia empat belas tahun"
Maria terdiam, ia begitu tak menyangka bahwa ternyata perempuan didepannya adalah seorang manusia dan yang lebih mengejutkannya lagi ia disini sejak umurnya yang masih belia.
"Kenapa kau mau hidup didunia ini? kau itu terlihat sangat baik dan kau tak pantas bersama siluman menjijikan itu"
__ADS_1
"Hidupku lebih mengerikan di alam nyata dibandingkan disini. Sejak aku berusia empat tahun ayah tiriku melakukan kekerasan dan dengan tega mengambil kesucianku disaat aku pun tak tahu apa artinya hubungan dewasa tersebut. Aku menangis dan menceritakan semuanya pada ibuku, namun ia malah memarahiku dan memotong habis rambut yang berada dikepalaku. Sejak saat itu aku mengalami kekerasan dari ibu dan lelaki tua itu hingga aku hampir saja mati. Ketika aku pergi menyuci disebuah kali yang deras, aku kembali dilecehkan oleh empat pria tua sampai pada akhirnya aku bertemu dengan suamiku dan ia menyelamatkanku dari mereka"