
Ria terdiam. Ia kemudian bertanya tanya kenapa suaminya berfikir dan melihat dirinya sebagai Nirmala. Apakah arwah Nirmala benar benar kembali. Dan apakah arwah Nirmala menginginkan dirinya untuk mati.
Tidak, tidak, Ria menggeleng dengan cepat menjawab pemikirannya sendiri. Bagaimana mungkin arwah Nirmala membunuhnya, padahal sudah jelas jiwa Nirmala sudah dimakan habis oleh ibl** yang menjadi rekan kerja samanya dalam pesugihan.
Ria semakin keras berfikir untuk segera melenyapkan arwah yang ia kira Nirmala ini dengan bantuan dukun yang selalu menbantunya dalam pesugihan. Ia kemudian terdiam dengan pikirannya sendiri.
Sarah yang penasaran dengan apa yang dipikirkan ibunya pun mulai memberanikan diri bertanya.
"Ibu kenapa? apakah ibu sedang memikirkan sesuatu?"
"Ah, ti..tidak nak. Ibu hanya masih tak percaya dengan apa yang ayahmu katakan. Padahal sudah jelas ibu sedang berada disini"
__ADS_1
Sarah kini menatap ayahnya dan menelisik tentang apa yang kini di pikirkan ayahnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi sehingga arwah itu terus terusan saja meneror kampung ini ? Apa yang sudah ayah dan ibu lakukan sehingga arwah itu semakin menjadi jadi akhir akhir ini pada keluarga kita? Apa yang sudah ayah dan ibu perbuat?" Sarah mulai bertanya tanpa jeda.
Bi Darsih pun hanya menundukan kepala dan terdiam tak bisa menjawab ataupun berani menimpali perkataan Sarah. Ia takit bahwa Danu akan menghukumnya jika mengatakan sepatah kata pun pada Sarah. Lagi pula yang Bi Darsih tahu Nirmala menderita karena ulah Ria bahkan Nirmala tiba tiba saja meninggal tanpa sebab. Bahkan Bi Darsih pun hanya beranggapan bahwa Nirmala meninggal akibat serangan jantung dan stres yang berkepanjangan.
"Sudah kau tak usah tahu tentang ini. Kau hanya fokus belajar saja" Danu mengacak rambutnya frustasi.
"Aku hanya ingin tahu ayah. Sebenarnya apa salah dari keluargaku sehingga hantu itu terus terusan saja meneror ayah dan ibu bahkan aku yang tak tahu apapun. Apakah ayah sanggup jika terus terusan seperti ini? Apakah ayah ingin aku dan ibu mati karena ayah terus terusan melihat hantu itu ?" Sarah bangkit dan mulai mengeluarkan kekesalannya pada sang ayah.
Ria, Bi Darsih bahkan Sarah sendiri terkejut ketika mendapatkan bentakan yang keras dari ayahnya. Baru kali ini sang ayah membentaknya. Sarah sedih dan tak menyangka bahwa ayahnya membentak dirinya.
__ADS_1
"Ayah membentakku?" tanya Sarah pelan.
Danu terdiam tak mampu berkata apapun. Ia sadar bahwa baru kali ini ia memarahi putrinya bahkan membentaknya. Lain halnya saat dulu ia yang tega menampar Maria ketika berani melawan perkataannya.
"Ayah sudah berubah karena arwah itu! Ayah sudah benar benar berubah karenanya. Aku hanya bertanya tentang dosa yang ayah serta ibu lakukan. Arwah itu tak mungkin meneror kita jika tanpa sebab. Aku hanya ingin kita hidup kembali dengan aman tanpa gangguan. Maafkan aku jika menjadi beban ayah" Sarah mulai meneteskan air mata dan berlalu pergi meninggalkan Bi Darsih, Danu dan Ria.
Ria yang melihat putrinya bersedih hanya bisa menatap Danu dengan tatapan seolah tak percaya. Ia begitu merasa aneh pada Danu yang begitu ketakutan dengan arwah yang ia kira Nirmala.
"Kenapa kamu membentak Sarah mas? Dia anak kita, putri kita satu satunya. Kenapa kau memperlakukannya seperti itu?" tanya Ria pelan.
Lehernya masih sakit sekali untuk berbicara, namun ia ingin bertanya.
__ADS_1
"Sudahlah Ria jangan banyak bertanya. Kepalaku sedang pusing. Sebaiknya kita pikirkan saja bagaimana cara mengusir si set**n Mala itu!"
Ria terdiam, ia kemudian menatap Bi Darsih dan akhirnya Bi Darsih pun pergi meninggalkan kamar majikannya tersebut.