
Ria yang saat ini masih terlelap karena semalam tak sadarkan diri, kini mulai perlahan membuka matanya. Rasa sakit di seluruh tubuhnya bahkan tak terkira seolah olah dirinya sudah jatuh dari ketinggian dengan beralaskan tanah.
"Sakit sekali" rintihnya seraya memegang kepalanya.
Ria mulai menajamkan pandangan dan mendapati semua barang barang di kamarnya rapih tanpa ada sedikitpun yang rusak ataupun bergeser dari tempatnya. Padahal ia tahu bahwa semalam arwah Nirmala bahkan sudah memporak porandakan kamarnya itu.
Bahkan saat Ria memegang kepalanya yang terasa begitu sakit, ia terkejut ketika mendapati kepalanya baik baik saja tanpa luka sedikitpun. Baik itu benturan maupun sayatan.
Ria berjalan merangkak menuju meja rias dan menatap wajahnya di cermin yang tampak bersih namun pucat pasi. Ia bahkan mengira bahwa dirinya sudah tiasa sebab perbuatan arwah itu benar benar telah merusak jiwa raganya.
Rasa sakit serta perih semalam, sungguh sungguh ia rasakan. Sayatan dari benda pipih yang tajam sungguh membuat dirinya merasa kesakitan luar bisa, apapagi darah segar yang keluar dari pipinya, kemarin malam sungguh ia lihat. Namun, anehnya saat ini tak ada luka apapun dan juga dinding serta lantai kamarnya tampak bersih tanpa noda darah sedikitpun.
Dengan sisa tenaga yang ada, Ria mulai berjalan dengan tergopoh gopoh membuka kunci pintu kamar untuk meminta bantuan pada Danu. Ia merayap bak seorang wanita paruh baya yang tengah sakit keras. Sungguh tragis nasib Ria yang dilakukan oleh Arwah Maria.
"Aku akan memberikan perhitungan pada set*n itu! Aku benar benar akan melenyapkannya walaupun ia sudah menjadi set*!" Ria terus saja menggerutu mengutuk setiap perbuatan yang arwah itu lakukan padanya.
"Aku sungguh akan membuat si jal*ng itu menderita bahkan setelah kematiannya. Berani beraninya dia menakutiku serta melakukan semua ini padaku"
Ria berjalan menuruni anak tangga dwngan sangat pelan. Hingga ia sadar bahwa suaminya pun tak ada di ruang tamu.
"Kemana pria itu?" gumam Ria pelan.
Ia berjalan menuju dapur dan tak mendapati Danu disana. Ria kemudian berjalan menuju kamar di halaman belakang dan mendapati Danu tengah berusaha membangunkan gadis yang mereka sewa untuk ib** itu sebelumnya.
"Kenapa ini mas?" tanya Ria panik.
"Mungkin dia kelahan karena sudah memghabiskan malamnya dengan ibl** itu. Sekarang kita harus pergi menuju klub untuk memberikannya pada wanita mata duitan itu. Kita sudah selesai memberikan tumbalnya"
__ADS_1
Danu segera menggotong tubuh wanita itu kedalam mobil. Ria yang membantunya pun segera duduk di kursi penumpang, tanpa berdandan ataupun menganti pakaiannya terlebih dahulu.
*****
Jalanan yang begitu sepi dan lenggang tanpa pengendara membuat Danu dan Ria bisa cepat sampai di tempat mereka membeli gadis itu. Keduanya menggotong wanita itu kedalam rumah bo** dan segera merebahkannya diatas kasur empuk.
"Ada apa ini? Kenapa dia? Kalian apakan anak buah saya?" pertanyaan dari muci**ri itu begitu bertubi tubi.
Danu menghela nafasnya dan mulai menjelaskan apa yang terjadi. Ia beralasan bahwa wanita iu mengalami kelelahan karena tak berhenti melayaninya yang memiliki kelainan se**s*al. Bahkan Danu dan Ria beralasan bahwa Danu merupakan pria yang hiper*** dan jarang sekali mengalami kelelahan saat memuaskan naf**nya.
"Jadi itu alasannya. Emh, jika benar bisa dong kamu main sama saya"
Mata Ria langsung melotot, ia tak ingin bahwa suaminya melakukan hal itu dengan mu**kari itu.
"Maaf kami harus pergi dulu. Cepat kasih uangnya mas!" Ria yang kesal membentak Danu dengan keras.
Dari jauh, terlihat muc***ri itu berlari mendekati mobil dan berusaha berbicara pada Danu.
"Jika kamu ada waktu maka kalian bisa hubungi saya. Saya akan memberikan pelayanan yang memuaskan pada anda ketika istri anda sedang tak ingin melakukannya" Wanita itu mengedipkan matanya pada Danu.
Hingga membuat Ria marah dan segera menekan tombol untuk menutup kaca mobil.
Danu yang tahu istrinya cemburu segera melambaikan tangan dan menancapkan gas pergi dari tempat tak baik tersebut.
Keduanya tampak saling diam tak mampu berkata apapun. Hingga saatnya Ria mengatakan hal menakutkan kemarin malam yang membuatnya tubuhnya serasa remuk dan hancur.
"Kemarin si set**n Mala datang menemuiku"
__ADS_1
Danu sontak saja mengerem mobilnya dengan tiba tiba dan menatap Ria dengan tatapan menelisik.
"Apa kau berbohong?"
"Tentu saja tidak mas! Mana mungkin aku berbohong! Aku benar benar didatangi olehnya dan dia berhasil membuatku ketakutan!"
Danu menghela nafas dan mulai menceritakan kejadian seram yang menimpanya. Ria yang mendengar pengakuan suaminya pun merasa terkejut sebab ternyata bulan dirinya saja yang diganggu oleh makhluk halus, tetapi suaminya pun mendapat perlakuan yang sangat mengancam jiwa.
"Ini sudah tak bisa dibiarkan mas. Jika kita diam saja makan si jal**ng itu bisa bisa membunuh kita. Kemarin malam kita sudah tumbalkan seorang gadis per**n untuk iblis itu. Jadi aku harap ib** s itu akan membantu kita mengusir set**n itu malam ini"
"Ya kau benar. Aku harus menyuruhnya melenyapkan arwah itu. Aku tak ingin sampai aku kehilangan harta benda apalagi nyawaku. Aku belum menikmati semua kekayaan yang aku miliki. Jadi aku ingin ibl** itu menjalankan tugasnya setelah kita beri energi"
Danu segera melajukan kembali mobilnya dan kini ia sudah sampai di depan gerbang halaman rumahnya. Mang Kardi yang baru saja sampai bersama Bi Darsih, kini membukakan pintu gerbang ketika tahu mobil majikannya akan masuk kedalam.
"Nyonya sama tuan habis pergi dari mana?" tanya Bi Darsih dengan senyumannya.
"Kami ada urusan. Kamu cepat buatkan sarapan dan bikin kopi hitam untuk saya" Danu menyuruh Bu Darsih dengan sedikit mendorong tubuhnya.
"Oh ya, kamu cuci mobil saya sekarang!" Danu melemparkan kunci mobil pada Mang Kardi yang saat ini tengah berdiri.
Tanpa mereka sadari, saat ini sepasang mata tengah menatap ke arah mereka dari jendela kamar lantai dua. Ya, Dia adalah Maria yang sudah kembali masuk kedalam tubuh Mira. Ia bahkan saat ini tengah menyeringai melihat keadaan Ria dan Danu yang tampak begitu lesu.
Mira sangat senang melihat Danu dan Ria samgat tertekan dengan ketakutan yang telah ia perbuat. Ini adalah awal pembalasn dendam yang baru saja Mira mulai..
"Tunggu saja malam malam menyenangkan yang akan aku berikan pada kalian! Kalian pasti akan sangat senang bermain denganku apalagi jika kalian tahu bahwa aku bukanlah set**n biasa! Aku takan bisa lenyap jika dendamku belum terbalaskan sepenuhnya pada kalian!" Mira segera berbalik menuju cermin dan menyisir rambutnya yang panjang.
Perlahan lahan, rambut dikepalanya mulai rontok dan helaian rambut tersebut menempel cukup banyak di sisir tersebut.
__ADS_1