
Antareksa mulai kembali menatap wajah Maria yang terlihat cantik baginya dan segera mengambil kursi untuk ia duduk tepat disamping wanita tersebut.
Antareksa melihat rambut Maria yang sedikit terurai dan dengan perlahan ia kemudian merapihkannya.
"Jika saja kau tak menyebalkan dan bukan istri kakakku mungkin kau akan menjadi pelayan pribadiku" Antareksa bergumam dengan pelan.
Tatapannya tertuju pada Wanita didepannya sampai tak terasa ia pun ikut menaruh kepalanya diatas meja rias dengan posisi mengahadap Maria.
Antareksa dan Maria pun terlelap dengan posisi saling berhadapan satu sama lain.
******
Danu yang baru saja sampai berbelanja bersama Ria dengan sengaja bersenda gurau bersama selingkuhannya didepan istri sahnya sendiri. Uang serta raga dan jiwanya kini sudah menjadi milik Ria sebab ajian dari wanita itu cukup kuat hingga membuat Danu tak memiliki rasa sedikitpun pada Nirmala maupun Maria.
"Mas nanti belikan aku mobil ya" ucap Ria dengan nada yang dikeraskan supaya Nirmala mendengar ucapannya.
"Iya sayang nanti kita beli mobil baru sekalian beli barang barang branded yang kamu mau" Danu menci**m pipi Ria sekilas.
Nirmala yang sedang berada di kamar Maria hanya bisa terdiam dan terus menatap wajah putrinya yang sangat lelap tertidur.
Baginya hatinya pun sudah mati seiringan dengan kenyataan perselingkuhan suaminya tersebut. Ia kini lebih fokus mengurus putri semata wayangnya agar tetap hidup walaupun raganya terbating lemah diatas trmpat tidur.
Bi Darsih yang dengan setia menemani majikannya ikut merasa sedih dan iba akibat kehancuran rumah tangga Nirmala dan juga sakit aneh yang majikannya derita.
Tubuh Nirmala semakin pucat dan kurus sehingga ia pun terlihat lebih tua dari Bi Darsih.
"Ukhuk! uhuk!" Nirmala tiba tiba saja batuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
"Ya Allah nyonya! nyonya kenapa?!" Bi Darsih panik dan segera menghampiri majikannya seraya mengusap ngusap punggung Nirmala.
__ADS_1
Nirmala mengelap dengan perlahan darah yang keluar dari mulutnya hingga ia pun merasa ada yang aneh di dalam mulutnya dan segera mencoba merogoh benda yang menganjal dari kerongkongannya.
Cacing tanah yang sangat besar dan panjang Nirmala keluarkan dari mulitnya sehingga membuat dirinya kembali muntak darah kental berwarna mulai kecoklatan.
"Ya Allah Ya Rabbi! Nyonya kita harus segera ke rumah sakit" Bi Darsih mencoba mengangkat tubuh Nirmala yang sedang duduk namun tangan Nirmala justru menolaknya.
"Aku baik baik saja bi. Aku tak merasakan sakit apapun. Aku tak perlu kerumah sakit. Mungkin ini hanya karena aku meminum minuman yang salah sehingga bakteri di airnya tidak hilang" Nirmala membuat alasan yang cukup aneh agar Bi Darsih membiarkannya tetap menjaga Maria.
"Tidak nyonya! nyonya saat ini sedang sakit dan harus diperiksa! nyonya pasti saat ini sedang mengidap penyakit yang tidak wajar. Kita harus pergi ke kiyai untuk membantu nyonya. Tunggu sebentar nyonya saya akan ambilkan air dulu dan lap untuk membersihkan lantainya" Bi Darsih segera berlari menuju dapur untuk membawa air minum dan lap untuk mengepel bekas darah yang keluar dari mulut Nirmala.
Wanita paruh baya itu berlari menuruni anak tangga dan tak sengaja berpapasan dengan Danu dan Ria yang saat ini sedang bermesraan diatas sofa ruang tamu.
"Kenapa lari lari bi? apa ada yang terjadi?" tanya Ria dengan santai.
"Itu...itu...itu.nyonya Nirmala muntah darah lagi dan ini lebih menyeramkan karena keluar cacing besar dari mulutnya.
Ria dan Danu saling pandang, ia begitu senang mendapat kabar bahwa kondisi Nirmala semakin buruk karena ia tak lama lagi akan menjadi orang paling kaya dan sukses dikota tersebut.
Pria itu seolah acuh dan tak perduli dengan keadaan istrinya sendiri. Sebab semakin burik kondisi istrinya, maka semakin banyak juga uang yang akan ka dapatkan sebab ibli* yang melakukan perjanjian dengannya akan senantiasa menghisap semua energi dan darah yang berada didalam tubuh Nirmala.
Bi Darsih cukup terkejut mendapati respon majikannya yang begitu santai, namun ia paham bahwa pernikahan majikannya sedang tidak baik baik saja karena hadirnya orang ketiga yang tak lain adalah Ria, sahabat Nirmala sendiri.
"Baik tuan. Saya permisi dulu" Bi Darsih kemudian kembali berlari menuju dapur dan segera menyiapkan air hangat didalam gelas dan membawa ember berisikan pelan.
Bi Darsih dengan perlahan berjalan menaiki tangga dan segera masuk kedalam kamar Majikannya ketika sudah sampai.
"ini nyonya minun dulu" Bi Darsih memberikan air hangat kepada Nirmala, yang langsung disambut majikannya dengan cepat.
"Terimakasih bi" Nirmala meneguk air didalam gelas tersebut sampai tandas tak bersisa.
__ADS_1
"Nyonya masih mau minum lagi?" tanya Bi Darsih dengan pelan.
"Tak usah bi, sudah cukup. Saya sudah mendingan sekarang"
"Baiklah nyonya. Sebaiknya nyonya tidur saja dan beristirahat. Biar saya saja yang mengawasi Non Maria"
"Tidak bi. Saya ingin tetap melihat wajah cantik putri saya. Saya ingin ketika Maria membuka matanya, sayalah orang pertama yang ia lihat.
Bi Darsih pun menghela nafas panjang dan kemudian mengambil lap untuk membersihkan noda darah diatas lantai.
Saat Bi Darsih akan menyentuh noda merah tersebut, bau busuk menusuk kedalam.hidungnya sehingga wanita paruh baya itu sesekali merasa mual.
"Maafkan saya bi jika darah saya begitu menjijikan" Nirmala segera membantu Bi Darsih yang sedang megelap lantai.
"Tidak nyonya! Saya tidak jijik dengan darah nyonya. Hanya saja maaf, baunya cukup tercium busuk seperti bangkai"
Nirmala pun yang mencium baunya ikut merasa mual dan memaklumi perkataan asisten rumah tangganya tersebut.
"Tak apa bi, aku juga merasa memang bau darah yang keluar dari mulut saya terlalu menusuk hidung dan membuat mual"
"sebaiknya nyonya cepat di periksa kembali oleh tenaga medis dan mebdapatkan perawatan juga oleh kiyai. Saya rasa sakitnya nyonya ada hubungannya dengan ilmu hitam"
Nirmala terdiam dan melangkah kembali menuju kursi didekat tempat tidur Maria.
"Akan aku taruhkan nyawaku agar Maria bisa kembali pulih. Aku akan menukar seluruh waktu hidupku dengan kesembuhan Maria"
"Jangan bicara seperti itu nyonya. Saya yakin Non Maria akan baik baik saja dan ia akan segera kembali sehat. Bahkan Non Maria akan kembali berlari mengejar nyonya ssperti saat masih kecil dulu" Bi Darsih mencoba menghibur Nirmala agar majikannya itu tidak merasa sedih.
"Iya bi semoga saja Maria bisa secepatnya pulih"
__ADS_1
Nirmala mendekatkan wajahnya kearah Maria dan mulai mencium kening Maria dengan sangat lembut. Tak terasa air matanya jatuh ketika mengingat semua kebahagiannya dulu berubah menjadi sebuah kehancuran karena kelalaiannya mendatangkan orang ketiga dalam rumah tangganya sendiri.