
Tubuh Nirmala yang terlihat ringkih kini ditusuk oleh jarum suntik yang diberikan oleh dokter. Terkihat Nirmala menahan sakit dan sebisa mungkin tetap terlihat tegar dihadapan putrinya.
"Nak kamu tak sekolah" ucap Nirmala ketika melihat anaknya yang menangis sesegukan.
"Tidak. Aku ingin bersama ibu disini. Kumohon jangan minta aku untuk pergi bu" rengek Maria dengan sendu.
Nirmala terlihat seperti orang yang tak sakit. Ia begitu lancar berbicara namun fisiknya tampak memprihatinkan dengan mata yang terkihat cekung.
"Mohon maaf bu. Apakah ibu merasakan sakit ? jika iya, tunjukan pada kami dimana letak sakitnya" ucap Dokter dengan serius.
Saya tak sakit dok. Saya hanya merasa pusing dan mual saja. Tak perlu khwatir mungkin nanti siang kondisi saya membaik"
Sudah jelas didepan mata mereka semua bahwa saat ini muntahan dari Nirmala berupa rambut, belatung dan darah yang kental. Namun wanita itu mengatakan baik baik saja.
Suster yang menanganinya mulai saling berbisik satu sama lain. Hingga akhirnya sang dokter yang ikut heran terdiam.
"Baik kalo ibu mersakan baik baik saja. Tapi kami akan tetap melakukan x-ray pada ibu. Diharap ibu mau dan setuju. Karena kami khawatir adanya benda yang tanpa sengaja ibu makan" jelas dokter.
"Baik dok saya mau. Tapi saya mohon, jika saya terbukti baik baik saja, tolong izinkan saya pulang. Saya tak betah disini" ucap Nirmala seraya melihat sekelilingnya.
Nirmala begitu ingat akan kejadian menakutkan yang menimpa dirinya. Bahkan ia meyakini bahwa yang terjadi semalam itu bukanlah mimpi melainkan kenyataan.
Dokter pun pamit bersama suster yang membantunya dengan rasa heran. Dokter dan suster pun yakin bahwa Nirmala bukanlah sakit biasa, namun ada permainan ilmu hitam atas penyakitnya.
"Mas Danu masih belum kesini bi?" tanya Nirmala.
"Be..belum nya. Mungkin tuan sibuk"
Nirmala mencibir dan tersenyum getir. Ia tahu bahwa suaminya takan sudi untuk menghabiskan waktu menemaninya. Danu pasti akan senang jika ia tak ada karena bisa leluasa bermesraan bersama Ria dirumahnya.
"Sayang, sekarang kamu makan dulu ya. Ibu yakin pasti kamu belum makan kan?"
"Belum bu. Maria tak lapar. Maria hanya ingin ibu sembuh" gadis itu menatap lekat mata sang ibu.
__ADS_1
Diusapnya rambut sang putri dengan lembut dan mulai mencium pipinya pelan.
"Ibu baik baik saja nak. Doakan selalu ibu agar bisa terus bersamamu dan bisa menemanimu sampai kamu dewasa nanti"
"Tentu bu. Aku ingin mati terlebih dahulu sebelum tuhan mencabut nyawa ibu"
Maria mengucapkan suatu hal yang sontak saja membuat Nirmala begitu terkejut.
"Hust, jangan ngomong kaya gitu. Sekarang lebih baik kita makan bersama saja. Bi bisa belikan makanan dikantin untuk kita."
Bi Darsih mengangguk dan pergi berlalu menuju kantin rumah sakit untuk membeli makanan majikannya.
Suster datang membawa nampan berisi bubur polos dan sayuran yang begitu bening. Tak ada aroma apapun tercium dari makanan yang dibawa oleh suster tersebut.
"Maaf, ini makanan untuk anda. Saya akan membantu menyuapi" ucap ramah sang perawat yang baru saja meletakan makanan diatas meja.
"Tidak sus. Saya bisa sendiri. Ada anak saya yang bisa membantu saya. Iya kan sayang?" Nirmala mengedipkan mata kearah anaknya.
"Iy...iya suster. Saya akan menyuapi ibu saya" Maria meyakinkan suster dihadapannya.
"Ibu ini makan dulu" ucap Maria seraya menyodorkan sesendok bubur ke mulut ibunya.
"Tidak nak. Ibu tak mau makan makanan itu. Tolong buang saja ke toilet" perintah Nirmala.
"Ibu. Ini kan makanan buat ibu. Setidaknya makanlah walaupun sedikit"
"Tidak nak, ibu tak mau. Ibu hanya ingin makanan yang enak. Nanti ibu akan makan makanan yang Bi Darsih bawa. Kita makan bersama sama. Ibu tak mau makanan ini. Ini rasanya pasti hambar dan tak enak. Tolong buang saja ke toilet"
"Tidak bu! ibu tak bisa membuang makanan begitu saja. Mubazir"
Tak berselang lama Bi Darsih membawa keresek berisikan 3 bungkus nasi kuning dan kerupuk juga beberapa biji gorengan.
"Nah makanan yang ditunggu tunggu akhirnya datang"
__ADS_1
Bi Darsih menyodorkan makanan kearah Nirmala yang berusaha meraihnya.
"Ibu makan dulu ini ya" bujuk Maria.
"Tidak! ibu tak mau! Bi saya mohon habiskan makanan ini biar tak mubazir ya. Saya mohon" Nirmala memohon kepada asisten rumah tangganya.
Bi Darsih yang terkejut hanya bisa menatap heran kearah majikannya dan menatap kearah Maria. Maria pun memberikan kode untuk Bi Darsih menolaknya namun, Bi Darsih yang tak tega akhirnya malah menganggukan kepala.
"Yes! Bibi habiskan ya. Nanti saya tambahin gajih bibi" ucap Nirmala senang.
Akhirnya ketiga wanita diruangan tersebut menyantap makanan bersama sama. Bi Darsih yang baru saja selesai menghabiskan bubur dan sayur kini di sodori sebungkus nasi kuning oleh majikannya yang benar benar terkihat seperti orang sehat.
"Makan ya bi. Biar bibi tambah berisi" Nirmala terkekeh melihat wajah Bi Darsih yang terlihat sudah kenyang.
Mau tak mau Bi Darsih akhirnya menghabiskan makanan tersebut dan merapihkan semua bungkus bekas makan mereka beriga.
"Ibu semalam kenapa?" tanya Maria tiba tiba.
Nirmala yang terkejut dengan pertanyaan putrinya terdiam dan kembali mengingat kejadian mengerikan yang ia alami.
"Sebenarnya ibu kemarin bermimpi buruk nak. Ibu bermimpi ibu meninggal kecelakaan" jawab Nirmala berbohong sebab tak ingin melihat putri semata wayangnya khawatir.
"Ish ibu. Mimpinya jangan serem serem"
"Iya sayang kemarin ibu mimpi kaya gitu. Ibu gak mau ninggalin kamu sendiri didunia ini. Makanya mungkin itu sebabnya ibu mengingau"
Maria menganggukan kepala dan menganggap bahwa ucapan ibunya benar sebab sang ibu mengingau dengan bahasa yang ia tak mengerti.
"Jika sampai ibu tiasa, maka Maria akan susul ibu ke alam tempat ibu berada. Sebab aku tak mau sendirian dan kehilangan ibu"
"Kamu harus tetap hidup nak. Kamu itu harus buktikan sama dunia bahwa ibu memiliki anak seorang dokter muda yang sukses"
"Iya bu, tapi Maria juga mohon, ibu jangan terus membahas kematian. Karena sungguh Maria tak ingin jika hidup sendiri disini. Maria akan ikut kemana pun ibu berada. Maria janji"
__ADS_1
Nirmala memeluk erat tubuh putrinya dan mencium kening serta wajah Maria beberapa kali. Ia tak ingin berpisah dengan anaknya yang begitu ia sayangi. Terlebih lagi jika kematian terlebuh dahulu menghampiri Maria bukan dirinya.
"Ibu juga berjanji akan terus mengikutimu kemanapun sayang" gumam Nirmala dalam hati.