
Perlahan lahan Sarah mulai berjalan menuju keluar kamarnya untuk mengecek suara apa sebenarnya yang selalu ia dengar di kamar samping. Sarah dengan perasaan takut mulai mendekat kearah pintu kamar dan menempelkan telinganya untuk mendengarkan suara rintihan di kamar sebelahnya.
"Aneh" Pikirnya.
Suara yang jelas jelas ia dengar tadi kini hilang dan senyap. Sarah mulai bertanya tanya dengan suara misterius tadi. Sarah pun mulai berjalan menuruni anak tangga dan berjalan menuju arah dapur karena ia mendengar ada suara dari arah sana.
Sarah yang berada diambang pintu melihat Bi Darsih yang saat ini sedang memask mie instan, segera menghampirinya.
"Bibi sedang apa?" tanya gadis itu seolah olah tak tahu.
Sontak saja Bi Darsih menoleh ke arah Sarah karena terkejut. Wanita paruh baya itu pun mulai menenangkan dirinya dengan menepuk pelan dadanya.
"Non Sarah bikin kaget bibi saja" Ucapnya dengan nafas yang ngos ngosan.
"Maaf jika aku membuat bibi terkejut. Tapi bibi sedang masak mie?" tanyanya lagi basa basi.
"Iya non gak papa. Bibi Lapar non jadi bibi masak mie. Apa non juga lapar?"
__ADS_1
Sarah pun menganggukkan kepala dan mulai duduk diatas kursi meja makan. Gadis itu pun mulai menatap sekeliling dapur dan mencoba membuka percakapan dengan pembantunya. Ada sedikit perasaan takit dihatinya, namun rasa penasarannya yang kuat mampu mengalahkna ketakutan dihatinya.
"Bi, apa bibi gak takut masak jam segini? lagian ini sudah malam bi" ucap Sarah dengan pelan.
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum dan mulai menghidangkan mangkok berisi mie yang masih hangat. Dua mangkok mie instan yang hangat kini sudah terhidang diatas meja makan.
"Ini non makan dulu"
"Iya bi nanti" Sarah menatap Bi Darsih dengan tatapan menyelidik.
"Jangan lihatin bibi kaya gitu non. Bibi malu. Bibi akan jawab pertanyaan non tadi. Bibi gak merasa takut tinggal dirumah ini apalagi memasak di dapur sendirian walaupun sudah larut malam. Bibi sudah tinggal dirumah ini sebelum non lahir bahkan saat ibu non.."
"Sebelum ibu apa bi?" tanya Sarah penasaran.
"Emh ma...maksud bi..bibi adalah sebelum ibu non menikah dengan tuan. Ya, sebelum nyonya menikahi tuan"
Sarah yang tahu bahwa pembantunya menyembunyikan sesuatu pun akhirnya mulai menanyakan banyak hal pada Bi Darsih.
__ADS_1
"Apa sebelum ibu menikahi ayah, bibi sudah menjadi asisten rumah tangga disini?"
"Ya.. Tentu. Bibi sudah dua puluh tahun lebih bekerja sama tuan. Bahkan saat tuan masih remaja"
Wanita paruh baya itu langsung memakan mie instan karena takut kembali mendapatkan pertanyaan dari anak majikannya. Bisa bisa ia keceplosan dan mengatakan rahasia yang Danu dan Ria sembunyikan sejak dulu.
"Lalu, kamar yang ada di sebelah kamarku itu, kamar siapa bi?" Sarah bertanya dengan tatapn menyelidik.
Sontak saja Bi Darsih tersedak dan terbatuk batuk mendengar pertanyaan dari Sarah. Selama ini ia dan majikannya sudah lama tak membicarakan kamar Maria sebab Danu pun sudah mengubur dalam dalam tentang putri pertamanya tersebut.
"Bibi minum dulu ini" Sarah yang merasa bersalah, mulai memberikan secangkir air kepada Bi Darsih.
"Maafkan aku bi, karena membuat bibi sampai tersedak" Sarah menundukan kepala.
"Tak papa non. Bibi baik baik saja. Bibi hanya memakan mie terlalu terburu buru hingga kuah mienya membuat bibi tersedak. Jika bibi boleh tahu, kenapa non bertanya mengenai kamar itu?"
Sarah menarik nafasnya dalam dalam dan mulai mengatakan hal sebenarnya.
__ADS_1
"Ada suara rintihan dikamar sebelah bi"