
Bi Darsih dengan cepat berlari keluar rumah dan menemui Mang Kardi yang sedang duduk diteras rumah seraya menyesap sebatang roko ditangannya.
"Kenapa lari bi? ada hantu?" tanya Mang Kardi seraya tersenyum.
"Bukan lagi hantu mang, itu jelmaan dajal didalam" ucap Bi Darsih kesal seraya masuk kedalam mobil.
"Ayo cepat!" ajak Bi Darsih.
Mang Kardi pun mematikan roko ditangannya dan segera menaiki mobil untuk pergi kembali kerumah sakit tempat majikannya dirawat.
Ditengah perjalanan, Mang Kardi yang penasaran dengan perkataan Bi Darsih pun mulai menanyakan apa yang sebenarnya ia maksud.
"Maksud jelmaan dajal apa bi?"
"Bukan apa apa. Cepat saja jalan. Non Maria pasti kedinginan dan kelaparan" jawab Bi Darsih dengan datar.
Mang Kardi pun hanya manggut manggut mendengarkan perakataan Bi Darsih yang kesal. Diusianya yang sudah senja, Mang Kardi sangat paham akan wataknya tersebut. Lagi pula Mang Kardi dan Bi Darsih berasal dari desa yang sama dan bertetangga dengannya dikampung.
Mobil melaju dengan cepat menembus jalanan yang tenagh diguyur hujan tanpa henti dari pagi. Bi Darsih yang sudah memakai jaket dari rumah pun kemudian turun dari mobil setelah mobil sampai dihalaman rumah sakit.
"Mang Kardi mau ikut gak?" tanya Bi Darsih ketika turun dari mobil.
"Iya iya bi. Saya akan masuk. Namun saya pqling tunggu diluar saja. Maklum baju saya bau roko dan basah"
Bi Darsih pun masuk terlebih dahulu kedalam rumah sakit, disusul Mang Kardi yang berjalan dibelakangnya.
"Ini non pakaiannya dan makanannya" ucap Bi Darsih yang menyodorkan sebuah tas kecil beserta keresek berisi kotak nasi yang ia bawa dari rumah tadi"
"Terimakasih bi" ucap Maria.
"Sama sama non. Sekarang non.pergi dulu kekamar mandi dan ganti pakaian. Biar bibi jagain dulu nyonya, setelah itu non cepat makanannya. Maaf tadi nyonya cuman bikin telur saja dan tempe. Itu pun tadi sudah dimakan tuan dirumah"
"Ayah? ayah sudah pulang bi?" tanya Maria melotot.
"Iy...iya non. Tuan sudah pulang"
"Lalu kenapa ia tak datang kesini sama bibi?' tanya Maria heran.
__ADS_1
Bi Darsih menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya dengan pelan.
"Tadi bibi sudah ajak Tuan Danu untuk kesini. Tapi dia terlihat sangat lelah dan ingin istirahat" jawab Bi Darsih berbohong.
"Pasti ayah ingin berduaan dengan penyihir itu dirumah" gumam Maria geram.
Ia pun pergi dengan amarah didadanya menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Didalam kamar mandi, Maria membasuh mukanya kasar dan mulai berguman mengenai perubahan sikap ayahnya yang makin hari makin acuh dan berbeda. Ia sebelumnya tak pernah dibentak ataupun dipukul oleh Danu sebab ia merupakan anak satu satunya dan Danu pun sangat memanjakannya.
"Apa sebenarnya yang sudah terjadi pada ayah? apakah Tante Ria sudah bermain ilmu hitam sama ayah?"
Maria mematikan air keran dan mulai menatap kaca jendela didepannya. Ia begitu geram dengan tingkah ayahnya yang sangat berbeda dari sebelumnya. Apalagi ketika ia harus mengingat perlakuan ayah pada ibunya dan perlakuan ayahnya pada Ria.
Maria begitu jijik pada sang ayah yang telah bermain gila dibelakang ibunya dan yang paling parahnya lagi, Danu telah melakukan hubungan layaknya suami istri bersama sahabat ibunya tersebut.
Maria mengepalkan tangan dan mencengkram kuat tas yang berisi celana yang basah serta jaket milik suster yang sebelumnya ia pakai.
"Akan ku beri pelajaran wanita itu. Lihat saja nanti Tante Ria" gumam Maria penuh penekanan.
"Non Maria sudah selesai? sekarang cepat makan dulu non" ucap Bi Dafsih yang melihat kedatangan Maria.
"Bibi sudah makan belum?" tanya Maria yang melihat bibir Bi Darsih begitu pucat.
"Bibi nanti saja makannya dikantin rumah sakit non. Non makan saja sendiri"
Maria tersenyum dan membuka kotak nasinya diatas lantai rumah sakit. Ia terduduk diatas lantai dan mengajak Bi Darsih untuk makan bersama.
"Bibi makan aja sama Maria disini. Lagi pula Maria tak terlalu banyak makan dijam segini. Oh ya kemana Mang Kardi? tadi Maria lihat dia ada di depan kamar, tapi sekarang tak ada"
"Mang Kardi tadi izin pamit, katanya mau pergi mencari kopi"
"Oh kalau begitu ya sudah, bibi sini makan sama aku" ajak Maria tersenyum.
Dengan rasa malu malu, Bi Darsih menyimpan Al Quran kecil ditangannya kemudian menghampiri anak majikannya dan mulai menyantap makanan tersebut berdua bersama Maria. Sesekali keduanya saling bertukar cerita dikala menyuapkan makanan sampai sampai Maria tersedak mendengarkan lelucon yang Bi Darsih ucapkan.
*****
__ADS_1
Malam ini, hujan mulai reda. Setelah Bi Darsih dan Maria juga Mang Kardi shalat berjamaah didekat Nirmala, tiba tiba saja Nirmala terbangun dan muntah darah kembali, hingga membuat Maria dan Bi Darsih berteriak panik.
"Sus, suter! Dok, dokter!"
Tak berselang lama terlihat dua suster dan seorang dokter masuk kedalam ruangan dan menanyakan apa yang sudah terjadi.
"Apa yang sudah terjadi pada pasien?" tanya sang dokter ketika mekihat muntahan darah diatas lantai begitu banyak.
"Saya juga tak tahu dok. Kami baru saja selesai shalat dan tiba tiba saja ibu terbangun dan munath darah" Maria menangis ketika memberikan keterangan pada dokter tersebut.
"Kalian tennag dulu. Saya akan cek kondisi pasien"
Dokter kemudian mengecek kondisi Nirmala dan memasang kembali beberapa alat untuk mengecek denyut jantung pada Nirmala.
"Tekanan darahnya menurun dan stok oksigen ditubuhnya begitu kurang. Ini semua terjadi tiba tiba dan sangat aneh. Nanti saya akan cek kadar darah yang berada ditubuhnya, karena pasien begitu terlihat pucat dan lemah"
Bi Darsih mencoba menenangkan Maria yang terus saja menangisi kondisi ibunya.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien dan saya minta kalian berdoa untuk kepulihan kesehatan pasien" dokter beucap dan mulai menyuntikan obat ke tubuh Nirmala.
Maria, Bi Darsih dan Mang Kardi berdoa bersama dengan air mata yang terus saja membasahi pipinya. Tak berselang lama, Nirmala pun sedikit membuka matanya dan tersenyum kearah Maria.
"Kamu disini nak" ucapnya terbata dan pelan.
Maria pun berlari memeluk tubuh ibunya yang kini masih terbaring diatas ranjang rumah sakit dengan mata yang terlihat sayu.
"Iya bu, Maria disini akan temani ibu. Ibu cepat sembuh ya biar bisa tidur sama Maria lagi" jawab gadis berambut panjang itu.
Bi Darsih pun senang ketika majikannya mulai sadar dan bisa berbicara walaupun dengan suara yang sangat pelan, karena terhalang oleh alat bantu pernapasan.
"Alhamdulillah nyonya sudah siuman" Ucap Bi Darsih mengucap syukur.
Dokter yang baru saja menangani Nirmala merasa lega karena pasiennya tiba tiba saja siuman setelah kejadian barusan. Hingga akhirnya ia pun mengecek kembali denyut jantung dan kondisi tekanan darah Nirmala.
"Ini adalah mukjizat yang telah Allah tunjukan pada kita. Pasien sudah kembali ke keadaan yang normal. Kami akan terus memantau kondisi pasien. Jika terjadi apapun, maka cepat hubungi kami. Kami permisi dulu" dokter pun berlalu meninggalkan Bi Darsih, Maria dan Mang Kardi bersama Nirmala yang masih memeluk tubuh ibunya.
*Note: untuk yang bertanya tanya siapa tokoh atas nama Mala nanti saya jelasin ya. mohon terus ikutin ceritanya 🤗❤️
__ADS_1