RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
Mental mulai terganggu


__ADS_3

Danu mulai merasa lega sebab dua pusaka yang telah membantunya dalam mendapatkan kekayaan serta ketenangan kini sudah ada ditangannya.


Mobilnya melaju menuju rumah sakit dan mulai terparkir dihalaman rumah sskit tersebut. Danu bahkan saat ini tampak ceria sebab ia takan pernah dicuriga oleh pihak kepolisian mengenai kasus yang menimpa dirinya sendiri.


Mang Kardi mulai membukakan pintu mobil dan majikannya pun mulai berjalan menuju dalam rumah sakit dan segera menemui putrinya didalam sana.


"Ayah sudah membawa uangnya?" tanya Sarah yang sangat senang melihat ayahnya kini terlihat tampak sehat.


"Tentu saja. Ayah sudah membawa uang untuk membayar semua administrasi disini. Oh ya kamu lapar gak? Ini uang, pergilah membeli sesuatu untukmu" Danu memberikan selembar uang berwarna merah pada Sarah yang saat ini duduk dengan Bi Darsih didepan ruangan tempat ibunya dirawat.


"Tidak ayah. Sarah masih kenyang. Ssrah hanya ingin menunggu ibu disini" Sarah menatap ruangan tempat ibunya dirawat.

__ADS_1


"Oh ya, ayahkan masih lemah, ayah belum sehat sepenuhnya. Jadi sebaiknya ayah istirahat lagi untuk mendapatkan perawatan"


Sarah segera bangkit dan memegang tangan ayahnya tersebut. Namun Danu malah menepisnya dan mulai kembali bertindak kasar pada Sarah.


"Ayah sudah sehat. Lihatlah ayah sudah mamlu berdiri. Kau perhatikan saja ibumu itu. Ayah rasa ibumu menjadi gila karena teror itu. Ayah tak tahu kenapa ibumu bisa seperti ini. Tapi yang pasti ayah benar benar ingin ibumu cepat pulih agar bisa pulang ke rumah lagi"


"Coba katakan pada Sarah ayah, kenapa istri pertama ayah meninggal dan meneror keluarga kita bahkan warga kampung? Apa ayah dan ibu melakukan sesuatu yang berkaitan dengan kematiannya?"


"Cukup Sarah! Ayah tak ingin mendengar pertanyaan konyolmu itu. Ayah tak melakukan apapapun pada istri ayah yang pertama. Namun, ayah tak bisa menyangkal bahwa mungkin saja ibumu melakukan sesuatu padanya"


Tiba tiba saja terdengar kembali jeritan didalam mamar Ria hingga membuat Danu, Darah dan Bi Darsih tampak panik.

__ADS_1


"Sus! Suster! Dok! Dokter!" Sarah mulai berlari memanggil staf rumah sakit agar mengecek kondisi ibunya tersebut.


Tak lama beberapa letugas medis pun kembali datang dan masuk kedalam ruangan tempat Ria dirawat. Terlihat Ria terus menjerit tak karuan dengan tangan yang selalu memukul ke arah kepalanya sendiri.


"Kau sendiri yang jal**ng hah! Kau seta*! Buada**! Kau tak pantas hidup! Kau memang pantas untuk mati! hahahahhah!" Ria terus berteriak tak karuan.


Mentalnya terguncang sebab mendapatkan teror mengerikan dari Maria. Ia bahkan sampai kini belum tahu bahwa arwah yang suami serta dirinya kira sebagai Nirmala ternyata adalah Maria, putri pertama dari Danu dan Nirmala.


Ria bahkan telah lupa akan kejadian dirinya yang menumbalkan nyawa putri tirinya agar ia tampak awet muda dan bisa bebas menikmati harta suaminya sendirian.


"Pergi sana keasalmu! Kau sudah mati! Kau bahkan mati dalam kondisi yang sangat menyedihkan Nirmala! Hahahahah!"

__ADS_1


Suster kembali membawa sebuah suntikan yang telah diisi oleh obat penenang. Suntikan itu kini mulai ditusukan pada tangan Ria hingga membuat dirinya perlahan kembali tenang hingga lama kelamaan ia pun kembali tertidur.


"Saya rasa mental pasien sudah terganggu" ucap Dokter oada Danu dan Sarah.


__ADS_2