
"Oh Shota, bagaimana bisa kau yang membawa? Terima kasih." Ren tersenyum kepada Shota dan mengambil salah satu dokumen, tapi Shota menahannya.
"jelaskan padaku."
"aku akan mengikuti festival Tokyo Summer, Hinana akan membantu ku."
"kau menyia-nyiakan hidupmu untuk itu."
"tidak, untuk itulah aku hidup." jawab Ren dengan santainya dan mulai mempelajari dokumen itu satu persatu. Shota sangat marah dengan hal itu kemudian membuang semuanya ke lantai.
BRAKKK.
"eh apa terjadi sesuatu?" tanya Ren dan semua orang di ruangan marketing mendengarnya.
"entahlah sepertinya di ruang Direktur." sahut Arumi dan semua orang menghentikan pekerjaannya begitu juga Hinana.
Tak begitu lama Ren keluar dari ruangannya dengan membanting pintu. Semua orang pun melihat ke arah Ren dan ingin menanyakan apa yang sedang terjadi.
"maaf hanya ada sedikit masalah, lanjutkan pekerjaan kalian." ucap Ren dengan senyumannya yang manis, dan semua orang kembali pada pekerjaannya.
"Hinana ada waktu?" Sawako menghampiri Hinana dan menyerahkan selembar kertas.
"baiklah, kita bicara di ruang meeting." jawab Hinana kemudian membawa alat tulisnya. Karena kali ini perusahaannya akan membahas sebuah design untuk brand ternama.
Kerja sama Hinana berjalan lancar, sore ini Hinana akan bermain SKI yang sempat tertunda. Saat Hinana akan masuk mobil ia melihat ke langit, dan tanpa sengaja Hinana melihat sosok Ren di atap.
"aku akan minta cuti saat libur musim dingin tahun baru." ucap Hinana dan membuat Ren terkejut.
"Hinana..?"
"apa yang kau lakukan disini?" tanya Hinana, karena sehabis Ren keluar dari ruangannya Hinana tak melihatnya sama sekali.
"tidak ada, kau?."
"mencarimu." Hinana perlahan duduk di atap tapi posisinya jauh dari Ren.
"jika ingin cuti kau bisa izin pada Shota, dia yang memegang perusahaan mulai sekarang."
"bagaimana dengan kau?" tanya Hinana tapi Ren tidak menjawabnya dan Hinana tidak memaksanya.
"untukmu." Hinana memberi sekotak kue muffin untuk Ren.
"terima kasih, tapi aku tidak bisa makan yang manis-manis." Ren menerima sebuah kue muffin yang di berikan Hinana.
"kau memakan banana dan itu rasanya manis."
"hem, karena manisnya alami. Kau tidak pulang?"
"tidak, aku akan bermain Ski hari ini."
"bolehkah aku ikut?"
"tidak, percuma saja kau kesana jika hanya melihat tanpa bermain." tolak Hinana dengan sinis.
"aku sebenarnya juga ingin tapi.."
"tapi kau tidak bisa kan?"
"bukan, sebenarnya aku takut.... Aku takut saat meluncur."
"dasar lemah, kau ini laki-laki sampai kapan akan jadi penakut. Dan juga saat itu kau tersesat naik busway, kau menceritakan pada Shota, dasar cengeng. Besoknya Shota marah padaku."
__ADS_1
"Shota memarahimu?"
"dengar baik-baik perkataanku. Hidup ini sangat kejam, jika kau tidak bisa mengahapinya dengan kuat, kau akan lebur menjadi abu." Hinana mengatakan itu dengan memandang ke arah mata Ren, setelah itu meninggalkan Ren sendiri di atap.
"kau benar Hinana, dan aku terlalu lemah untuk itu." gumam Ren lirih, tanpa sadar matanya yang biru keabu-abuan mengeluarkan air mata.
Malam harinya Hinana telah pulang dari Niseko dan merasa puas bermain Ski.
"aku pulang."
"selamat datang." jawab Keiko dan Miyo-san.
"eh ada tamu, hajimemashite ." sapa Hinana pada seorang gadis cantik disebelah adiknya.
"Onii-san kenalkan dia Naomi sahabatku. Malam ini Naomi akan menginap disini." Keiko dengan semangat mengenalkan sahabatnya pada Hinana.
"salam kenal Naomi, aku Hinana sepupunya Keiko." Hinana pun memperkenalkan dirinya pada Naomi.
Dulu Keiko pernah menceritakan masalahnya pada Hinana, dan anehnya Keiko sekarang semakim dekat dengan Naomi.
"eh kau bukannya artis itukah?" tanya Naomi.
"bukan cantik."
"maksudmu model ?" tegas Keiko.
"eh iya maksudku model cantik, kau selalu memenuhi majalah dan dinding rumahku."
"mantan model, sekarang aku bekerja sebagai sales."
"Keiko lanjutkan dengan temanmu aku harus istirahat." ucap Hinana dan berpamitan pergi ke kamar.
Posel Hinana berdering, ada no baru tak di kenal, Hinana berpikir agak lama untuk menjawabnya.
"Hinana, apa kau sudah pulang."
"siapa kau?"
"siapa kau? Bahkan nomor telpon atasanmu sendiri kau tidak menyimpannya, dasar keterlaluan." seseorang di telpon memarahi Hinana. Tapi Hinana menjadi lega karena itu Ren, bukan orang dari masa lalunya.
"iya iya, aku minta maaf. Untuk apa kau menelepon malam hari."
"aku akan berulang tahun pada bulan Desember, aku minta hadiah darimu."
"kenapa harus aku?"
"jika kau memberikannya, aku akan membantu cuti mu."
"baiklah penawaran yang bagus, kau mau hadiah apa?"
"terserah kau asalkan jangan banana lagi."
"baiklah, aku akan tidur."
"eh kau sudah ingin tidur?" tanya Ren dengan nada kecewa.
"sudah jam 12 malam dan besok aku harus bekerja, ayolah aku sudah sangat lelah."
"baiklah, good night Hinana."
"Good night too." balas Hinana kemudian menutup teleponnya.
__ADS_1
Hinana mengganti bajunya dengan piyama kemudian beranjak tidur.
Pagi harinya Hinana melihat semua orang sedang berkerumun dan berbicara satu sama lain.
"apa ada gosip lagi hari ini." gumam Hinana dan memasang earphone di telinganya bersikap tidak peduli.
Hinana berjalan ke ruangannya, dan saat itu ada banyak orang di ruangannya. Hinana melihat ada seorang wanita bule paruh baya yang sedang menangis.
"Hinana kemarilah." panggil Arumi dan menarik tangan Hinana, dengan cepat Hinana melepaskan Arumi pun sudah biasa dengan perlakuan Hinana.
"ada apa?" tanya Hinana pada akhirnya.
"apa kau melihat Ren?" tanya Arumi.
"kemarin sore di atap." jawab Hinana dan semua orang tertuju pada Hinana.
"kau tahu setelah itu dia pergi kemana." wanita bule kemudian menghapiri Hinana.
"entahlah, aku meninggalkannya waktu itu." jawab Hinana dengan bimbang karena tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"apa yang kau bicarakan dengan Ren?" Shota mengampiri Hinana dan menatapnya tajam.
"aku hanya ingin meminta cuti pada tahun baru, Ren bilang kalau aku harus memintanya padamu. Berhenti menatapku seperti itu. Aku tidak suka dengan caramu melihatku." jawab Hinana sinis.
Arumi yang melihat kemudian mengajak Hinana pergi ke luar.
"ada apa sebenarnya?" tanya Hinana setelah sampai di luar.
"Ren pergi dari rumah dan semua orang menghawatirkannya." jawab Arumi.
"HAHH." Hinana terkejut karena baru kemarin malam Ren menghubunginya.
"Hinana aku tahu kau tak peduli dengan semua orang, tapi kali ini ku mohon jagalah sikapmu."
Hinana tak begitu mendengarkan nasihat Arumi, ia mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Ren.
"nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan....."
"semua orang sudah mencoba menelponnya tapi tidak bisa, percuma saja."
"kemarin Ren menelponku." ucap Hinana kemudian Arumi membungkam mulut Hinana.
"benarkah? Jam berapa?"
"12 malam."
"jangan katakan hal itu pada siapapun." Arumi menengok kiri dan kanan, berharap tidak ada seorangpun yang mendengarnya.
"hem aku mengerti." angguk Hinana yang tiba-tiba jadi penurut.
Hinana dan Arumi kemudian masuk kembali ke ruangannya, situsi ini membuat keadaan kantor tidak terfokus.
Karena Shota sikapnya sentimental tidak bisa mengendalikan situasai kantor.
Akhirnya Shota menyuruh semua orang yang ada di kantor untuk mencari Ren, begitu juga Hinana.
"baiklah kita akan cari kemana?" tanya Tsubaki
"entahlah Shota bilang kita akan berpencar." jawab Arumi dengan malasnya dan memandang arah ke Emi.
Terlihat Emi sangat sibuk menenangkan dua orang yang tidak di kenal Hinana. Mungkin itu keluarganya Ren, karena selama ini Emi memang dekat dengan Ren dan keluarganya.
__ADS_1
"lihatlah, tidak membantu malah cari sensasi." gumam Arumi yang terdengar Hinana dan Tsubaki.
"berhenti mecela orang, ayo pergi." Tsubaki menarik tangan Arumi, dan Hinana mengikutinya karena tidak tahu harus kemana.