Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
34


__ADS_3

"maaf aku datang terlambat." ucap Arumi namun di belakangnya ada Shota.


"eh." Tsubaki terkejut karena melihat kedatangan Shota.


"em maafkan aku, sekarang kau bisa memukul wajahku sebanyak yang kau mau." ucap Shota yang meminta maaf pada Tsubaki.


"aku maafkan," jawab Tsubaki dan memeluk Shota.


"aku sungguh tidak tahu cara berteman seorang laki-laki." guman Emi yang melihat Tsubaki dan Shota saling tertawa.


"begitulah laki-laki, kadang saling pukul kadang juga berpelukan. Benarkan Hinana?" kata Arumi dan meminta pendapat pada Hinana.


"aku tidak peduli dengan mereka." jawaban Hinana membuat Ren dan Emi tertawa.


"Hinana kau jahat sekali." teriak Arumi dengan kesal, sementara teman-teman lainnya masih fokus pada projectnya.


"baiklah sekarang kumpulkan design kalian, kita akan pilih gambar mana yang cocok." ucap Ren dan semua berkumpul di meja hijau dengan membawa hasil karyanya.


"Hinana mana milikmu?" tanya Tsubaki.


"ah aku rasa tak perlu melihat punyaku, design kalian semua bagus-bagus."


"berikan padaku." Ren meminta gambaran Hinana yang dari tadi di peluknya.


"ah tidak tidak perlu, cukup empat design ini saja yang dipilih."


"berikan, disini semua kerja sama team." Ren tetap memaksa agar Hinana memberikan hasil gambarnya. Akhirnya dengan pasrah Hinana menunjukkan selembar kertas miliknya.


Semua orang yang ada diruangan itu tertawa melihat gambar punya Hinana, karena sangat jauh dari kata design.


"sudah kubilang tidak perlu." ujar Hinana dengan wajah lemahnya.


"eh kau ini menggambar kecoak terbang." Shota pun ikut mentertawainya.


"ini gambar baju, diamlah kau bukan bagian dari team."


"sudahlah kalian semua hentikan. Karena bagaimanapun juga Hinana sudah berusaha." Ren segera menengahi pertengkaran Hinana dan Shota, meskipun ia juga berkali-kali menahan tawa.


"kalian puas meledekku? Sudahlah aku pulang saja." kesal Hinana dan meninggalkan ruangan.


"tunggu sebentar Hinana." Ren segera menarik tangan Hinana namun lagi-lagi Hinana terjatuh dan memeluk Ren.


"oh tangkapan yang bagus Ren." ucap Arumi dengan senangnya namun tidak dengan yang lain.


"maaf Hinana, aku hanya tak ingin kau pergi. Maaf juga jika aku tertawa melihat gambarmu." Ren segera melepas pelukan Hinana karena sadar semua orang memandangnya.


"kalian sudah melihatkan, aku tidak punya keahlian apapun di bidang design bahkan aku tahu apapun tetang design, Apakah aku masih cocok ikut festival itu?."


"Hinana, maafkan kami." ucap Arumi dan menghampiri Hinana.


"aku keluar dari sini, carilah orang yang benar-benar mengerti design." setelah mengatakan semua Hinana keluar dari rumah Tsubaki.


"Hinana tunggu sebentar." Ren berusaha mengikuti Hinana namun Shota mencegahnya.


"Ren biar aku saja, kau lanjutkan pekerjaanmu."


"hem." dengan pasrah Ren mengikuti ucapan kakaknya dan kembali pada teamnya.


Hinana berjalan keluar dari rumah Tsubaki, sebenarnya gambar miliknya tak jadi masalah jika tertawakan. Hanya saja susana hatinya sedang tidak baik dan menjadi emosional.


" Gomenne Hinana." suara Shota terdengar saat Hinana sedang duduk di halte bus.


" tidak perlu."

__ADS_1


"emmm kadang-kadang seseorang harus melakukan sesuatu meskipun bukan kemauannya."


" ya kau benar."


" meski otak dan pikiran kita tidak sejalan, tapi sesuatu itu harus kita lakukan."


"sekali lagi kau benar."


" kadang ingin rasanya berteriak tidak ingin melakukannya dan menjauh, tapi mau bagaimana lagi."


"benar seka-.... Tunggu sebentar, mengapa kau begitu paham?"


"karena aku sama sepertimu. Minumlah." Shota membeli sebotol milk di mesin otomatis dan memberikan pada Hinana.


"thank's, apa maksudnya sama sepertiku?"


"kau pikir aku paham dengan yang mereka lakukan? Sketsa mode, tekstil, merchandising ,brand. Itu semua aku tidak mengerti sama sekali. Tapi sekarang aku lega karena tidak mengerjakan semua itu." dengan santainya Shota menceritakan masalahnya sambil meneguk banana milk.


"HeH, ku kira kau sama dengan Ren lulusan designer."


"tidak, saat kuliah aku mengambil kelas photograpy."


"lalu kenapa kau tak bekerja sebagai fotografer?"


"emm aku sudah bekerja di Paris kemudian ku tinggalkan. Lagi pula di keluarga kami sudah ada salah satu yang berhasil membuat perusahaan, jadi apa salahnya mendukung."


"kau hebat Shota, kau bisa di andalkan dalam apapun."


" lalu bagaimana denganmu? Apa kau akan seperti ini?"


" apa yang kau maksud?"


" modeling. Maaf ,kau tak perlu menjawab jika menurutmu tak nyaman di bicarakan." Shota tak bisa mengontrol bicaranya, dan tanpa sadar kata-kata itu terlontar dari mulutnya.


" kau tahu Shota, dulu aku selalu menghindari pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut masa laluku. Tapi aku sadar saat bertemu kau dan Ren, bahwa sebenarnya aku melarikan diri."


"aku ingin kembali." ucap Hinana tiba-tiba.


"Heh." pekik Shota.


"tapi rasanya tak mungkin, aku hanya tak tahu bagaimana memulainya. Bukan, tapi aku tidak bisa memulainya." Hinana tak bisa menahan apa yang ia rasakan, terpaksa ia menceritakan semua pada Shota.


"kenapa kau tak mencobanya?"


"tak mungkin."


"emm Mau ke Disneyland, aku rasa kau harus bersenang-senang." ajak Shota dan mengulurkan tangan ke arah Hinana.


"terserah kau saja."


Hinana akhirnya menuruti ajakan Shota. Sebenarnya ia masih malas ke tempat yang ramai, tapi daripada kembali ke rumah Tsubaki.


Mereka menaiki beberapa wahana permainan hingga Shota menyeret Hinana untuk menaiki roller coaster.


"kau payah sekali Shota." Hinana memukul tengkuk leher Shota karena Shota mual selesai naik roller coaster. Padahal Shota sendiri yang memaksa Hinana naik, tapi malah ia yang pusing dan mual.


"maaf,"


"apa sudah baikan?"


"hem, masih sedikit pusing."


"tunggu disini sebentar, akan ku belikan minum." Hinana membantu Shota duduk dan pergi untuk membeli minuman.

__ADS_1


"eh lihat bukankah itu Nana model Tokyo." ucap salah seorang yang sedang membeli snack di mini market.


"iya sangat mirip, sepertinya benar dia." jawab salah seorang lagi.


Hinana mendengar ada dua gadis SMA yang membicarakan dirinya, kemudian buru-buru membayar minumannya di kasir.


"berapa?"


"10 ¥. Kau Nana Arizawa model Tokyo 2018 kan?" tanya seorang kasir laki-laki.


" iya, tapi aku sudah pensiun." jawab Hinana tapi ada yang mendengarnya.


"ternyata benar, Nana-san bolehkah kami berfoto denganmu."


"eh tunggu sebentar aku sudah tidak lagi menjadi model." tolak Hinana dengan lembut.


"tidak apa, aku sangat mengidolakanmu. Aku berencana ingin menjadi model saat lulus SMA." ucap salah seorang murid SMA.


"tapi..."


"hem hem mau berfoto ya." terdengar suara Shota yang sudah ada di belakang Hinana. Dan semua orang melihat kearah Shota.


"silahkan ambil pose biar aku fotokan."


"baiklah ojisan tolongya."


"baiklah satu, dua, tiga. Sekali lagi satu, dua, tiga." ucap Shota dengan memotret menggunakan ponsel.


"Kawaii na, terima kasih Nana-san, ojisan." kedua murid SMA sangat senang kemudian pergi dengan memandangi posel mereka.


Sementara Hinana tanpa berkata apapun pergi dari mini market. Shota melihat ekspresi Hinana yang kurang baik bergegas mengikuti Hinana.


"terima kasih minumannya." Shota akhirnya mengajak Hinana bicara.


"tak masalah, kau sudah baikan?"


"hem. Hinana genki desuka? "


"hem aku baik-baik saja." jawab Hinana dan minum sekaleng soda miliknya.


"aku rasa hari ini aku sedang berjalan-jalan dengan seorang artis. Haruskah aku berfoto dengan mu juga." Shota mengajak bercanda Hinana dan mengambil ponselnya untuk berfoto.


"Hentikan Shota, itu tidak lucu." ucap Hinana dengan sedikit tawanya.


"aku serius, ayo ingin foto dengan artis. Satu, dua, tiga Cheer!!. Ah kawaii." Shota menirukan ucapan gadis SMA di mini market.


"Shota kau sama sekali tak cocok." Hinana merasa geli karena mendengar ucapan kawai. Menurutnya Shota adalah pria gentelmen, jadi sangat tidak cocok jika seperti itu.


"sudah lebih baik sekarang?"


"hem, Arigatou sudah menghiburku."


"aku tidak menghibur, hanya saja kau tidak cocok jika bersedih."


Cuci mata dulu yuk sama ilusi perannya.



Hinana Arizawa, tetep cantik meskipun outfitnya selalu warna hitam.



Ren Koizumi dengan senyum khasnya.

__ADS_1



Shota Koizumi.


__ADS_2