
Dalam penilaian Festival Tokyo ada dua tahapan. Yaitu saat busana di pasang di manekin masing-masing dan di kenakan model pada acara catwalk.
Ren, Arumi dan Tsubaki berada di ruang peserta. Sedangkan Hinana, Emi dan Arimura berada di panggung catwalk untuk mengamati tempat di lakukan fashion show untuk hari esok.
"Topeng yang bagus, kawaii ne (imutnya)." ucap seorang laki-laki yang berjalan melewati Hinana.
Hinana hanya mematung karena sudah sangat mengenal laki-laki itu.
Kenapa, aku harus bertemu dengannya lagi. Itulah yang ada di pikirannya Hinana saat ini.
Tapi dengan topeng kitsune yang ia kenakan saat ini, berhasil membuat Hinana tidak dikenali olehnya.
Saat ini, Arimura sedang berjalan diatas panggung catwalk. Ia belajar untuk menguasai panggung, suasa dan rekan model yang lain untuk pertunjukan besok.
Emi dan Hinana yang berada dibawah panggung hanya mengamati semua model yang sedang latihan. Tapi Hinana terlihat hanya sedang berdiam diri, dan dari kejauhan Ren hanya memperhatikan sekilas.
"Oh kita bertemu lagi. " ucap laki-laki tadi saat tak sengaja menabrak tubuh Hinana.
Sebenarnya bukan salah laki-laki itu, tapi Hinana memang berjalan dengan melamun dan tak sengaja menubruk laki-laki itu yang tak lain adalah Yukiatsu, mantan kekasihnya.
"Ah aku minta maaf telah menabrak mu. Ngomong -ngomong topeng yang kau pakai sangat lucu? Apa kau suka bercosplay? " Tanyanya pada Hinana dan berjongkok menyamai tinggi badan Hinana.
Sementara itu Hinana hanya diam mematung, ia tak mungkin menjawab pertanyaan dari Yukiatsu. Ia memutuskan untuk memberi anggukan kecil.
Tak lama kemudian Emi memanggilnya untuk kembali menemui Ren diruang tengah.
Beruntungnya teman-teman Hinana sepakat untuk memanggil nama Hinana dengan sebutan "kitsunebi". Jadi orang-orang tidak tahu jika ia adalah sang Model yang terkenal.
Saat Hinana akan pergi, tiba-tiba Yukiatsu menahan tangannya.
"Tunggu sebentar, siapa namamu? Aku juga suka cosplay, kau bisa mengajakku saat ada event. " ucap Yukiatsu mencegah Hinana yang akan pergi.
"Kitsunebi, cepatlah...... " teriak Tsubaki dan melambaikan tangannya.
" sumimasen (permisi). " Dengan spontan Hinana melepas genggaman tangan Yukiatsu dan berlari pergi.
__ADS_1
Kepergian Hinana tepat dimatanya membuat Yukiatsu mengingatkan sebuah moment. Tapi entah, ia sendiri tidak tahu. Melihat tubuh Hinana dari belakang sepertinya Yukiatsu pernah mengenalnya tapi siapa dan dimana. Tanpa pikir panjang Ia hanya berdiri dan kembali menuju ruang tengah untuk berpamitan pulang.
Semuanya berlangsung lancar dan semua kontestan sudah membubarkan diri dari gedung itu.
"Aku tak menyangka jika hari ini berjalan dengan cepat. " Tsubaki menganggat tangannya untuk melemaskan otot-ototnya.
"Aku juga berpikir begitu,." ucap Emi yang menyahuti perkataan Tsubaki.
"Baiklah, karena masih ada waktu yang panjang aku ingin kita jalan-jalan ke pantai." Tsubaki dengan bersemangat mengajak teman-temannya ke pantai
"Pantai!!! " pekik Arimura.
"Tentu saja, cuaca seperti ini sangat menyenangkan jika kita pergi kepantai. "Ajak Tsubaki pada teman-temannya.
"Ide yang bagus, aku juga ingin kesana. Shota bilang matahari terbenam sangat indah jika dilihat di pantai. "
Saat Ren menyahuti ucapan Tsubaki semua temannya melihat kearah Ren. Apakah Ren tidak mengingat jika ia mengalami masa kritis yang panjang karena mengejar Shota yang pergi meninggalkannya.
"Apa Shota sudah menghubungimu?" tanya Tsubaki dengan hati-hati karena tak ingin melukai perasaan sahabatnya.
"Memang seperti itu. Yoshh kita ke pantai sekarang. " karena tak ingin suasana menjadi canggung Tsubaki menepuk punggung sahabatnya dan mengajak ke pantai.
"Tunggu sebentar, aku ingin kita makan dulu. Aku dan Hinana merasa sangat lapar saat di ruang catwalk. Benarkan Hinana? " Ucap Emi dan bertanya pada Hinana. Tapi ternyata seseorang yang diajak bicara malah tertinggal jauh dibelakang.
"Ayolah Hinana kita sudah keluar gedung dan kau akan menjadi kitsunebi sampai kapan." Arumi berjalan kearah Hinana dan membantu melepas topeng yang sedari tadi dipakai Hinana.
"Hinana.... " Pekik Arumi yang terkejut karena melihat Hinana yang mengeluarkan air mata saat membukakan topengnya.
"Ehh.. "
Hinana hanya kebingungan saat teman-teman melihatnya, bahkan ia sampai tidak sadar saat Arumi melepaskan topeng dari wajahnya.
"A-aku harus ke toilet sebentar. "Ucap Hinana dengan terbata-bata kemudian pergi ke toilet umum yang tak jauh dari halte bus.
"Apa Hinana baik-baik saja? " tanya Tsubaki.
__ADS_1
"Entahlah... Arumi sebaiknya kau pergi bersama Hinana, aku akan menelepon Aoyama. " Jawab Ren dan mengambil poselnya.
"Biar aku saja yang menelepon. " dengan gembira Tsubaki langsung mengambil ponsel Ren.
"Aku harap Hinana baik-baik saja." gumam Arimura yang berbicara pada Emi.
"Aku harap juga begitu."
"Ataukah Hinana merindukan punggungnya? Karena sedari tadi aku hanya melihatnya berdiam diri. "
"Aku rasa begitu, semoga saja suatu saat Hinana bisa kembali menjadi model. " Jawab Emi dengan senyum diwajahnya dan Arimura pun mengiyakan.
Ren hanya mendengar percakapan dari dua temannya tanpa ikut berbicara. Dan ia juga berharap jika Hinana bisa kembali menjadi model seperti yang diharapkan dua orang temannya.
Melihat Hinana yang sudah kembali, wajah Ren tersenyum senang. Setidaknya Hinana sudah baik-baik saja. Memang Ren menyimpan rasa bersalah, karena seharusnya ia lebih protect pada Hinana. Tapi karena rasa bahagianya Ren jadi melupakan, jika dalam ini harus ada seseorang yang harus mengenang pahitnya masa lalu.
"Sudah merasa baikan? "Tanya Ren dengan menghampiri Hinana dan memberikan sebotol air untuknya.
"Hum." jawab Hinana singkat dan masih ditemani Arumi.
"Sebentar lagi kita akan makan siang bersama, apa kau sudah baik-baik saja?" tanya Ren sekali lagi untuk memastikan bahwa gadis cantik di depannya memang baik-baik saja.
"Jangan terlalu khawatir padanya, aku akan selalu menjaga Hinana. Benarkan Hinana?" Sahut Arumi dan dengan tersenyum pada Hinana.
Dengan senyum yang ia paksakan, Hinana berusaha untuk menutupi kesedihannya. Saat ini Hinana tak ingin semua teman-temannya khawatir padanya. Ia juga tersenyum untuk Ren, seolah mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Yokatta (syukurlah)." Dengan membuang nafas lega Ren mengucapkannya meski dirinya tahu bahwa gadis itu masih tidak baik-baik saja.
Siang ini mereka semua berencana untuk pergi ke pantai, tapi sebelumnya Emi dan para gadis yang lain ingin makan di restoran sushi terkenal di Tokyo. Mereka masih menunggu Aoyama yang berpamitan jalan-jalan menyusuri Shibuya.
Dari kejauhan terlihat Aoyama berlari dengan tergesa-gesa. Entah angin apa yang membuat Aoyama berlari dan Hinana dapat melihatnya karena duduk dikursi yang lebih tinggi.
"Ehhhh.... Ren, apa kau baik-baik saja?" tanya Aoyama saat sampai di lokasi dan menghampiri Ren.
"Nani? (apa). " Jawab Ren dengan alis yang mengangkat keatas karena tidak paham dengan apa yang dikatakan Aoyama.
__ADS_1
Sementara itu Aoyama masih tertunduk dan berusaha mengatur nafasnya. Ren mendekat dan ingin menanyakan lebih lanjut apa maksud pertanyaan dari Aoyama, karena tidak ada masalah apapun pada dirinya.