Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
67


__ADS_3

Lima belas menit kemudian Hinana dan Arimura sudah berada di kantor. Sawako dan Emi merasa senang karena mendapatkan bantuan lagi.


"Ohayou." Sapa Tsubaki yang baru datang dengan Ren. Ia terkejut karena melihat sosok wanita cantik yang duduk dengan Emi dan membuat payet 2-D bunga sakura.


"Alice, aku tak menyangka jika kau juga membantu." Tsubaki langsung menyapa dan menghampirinya.


"Koniichiwa (halo)." Ucap Arimura pada Tsubaki, Ren membalas ucapan Arimura dengan anggukan.


"Aku kira kau sudah kembali ke Paris." Tanya Ren kemudian memulai aktivitasnya.


"Aku belum selesai dengan urusanku disini." Jawab Arimura.


"Emm Wakatta (baiklah). Tapi terimakasih sudah membantuku."


"Doitamemashita.(sama-sama)"


"Ohayou." Sapa Aoyama yang baru saja datang kemudian Tsubaki langsung memberinya sebuah pekerjaan.


"Hey dimana Arumi? Tidak biasanya dia datang siang." tanya Tsubaki.


"Oh dia masih di rumah bersama ibuku."Jawab Ren dengan tenang. Tapi tidak setenang Hinana dan Emi yang mendengarnya.


"Apa Arumi chan menginap dirumahmu semalam?" tanya Tsubaki lagi.


"Tentu saja, kami makan malam hingga larut jadi aku menyuruhnya untuk menginap. Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa."


"BUUUKKKK!!!!"


"Auch ittai (sakit)." Teriak Hinana dan Aoyama bersamaan.


Saat Hinana mendengar jawaban Ren sebenarnya rasa sakit di hatinya mulai muncul. Ia ingin mengalihkan rasa sakit itu tapi saat Hinana ingin pergi tak sengaja kepalanya bertatapan dengan kepala milik Aoyama. Tentu saja keduanya saling meringis kesakitan.


"Baka ne (Bodoh) Aoyama, kenapa kau menghalangi jalan." umpat Hinana dengan memegangi kepalanya.


"HAH, matamu harusnya tahu kalo aku dari tadi di sini." Aoyama juga kesal karena sama sakitnya.


"Ittai yo (sakit nih)." Hinana masih saja meringis kesakitan.


Perlahan wajah Hinana memerah karena tiba-tiba tangan Ren mengusap lembut kepala Hinana yang terbentur. Tangan Ren yang dingin dan halus berhasil membuat rasa sakitnya berkurang.


"Apa masih sakit?" tanya Ren tersenyum dan tangannya masih mengusap kepalanya.


"Hum." Jawab Hinana singkat, sebenarnya sudah agak berkurang tapi entah kenapa Hinana masih ingin merasakan sentuhan Ren yang lembut.


"Lain kali berhati-hatilah." ucap Ren yang masih menuruti keinginan Hinana.


Melihat Hinana dan Aoyama saling kesakitan membuat Emi, Arimura dan Sawako tertawa. Tidak hanya itu Tsubaki juga ikut mengusap kepala Aoyama.

__ADS_1


"Yo haruskah aku mengusap kepalamu juga?" tanya Tsubaki pada Aoyama.


"Apa bisa mengurangi rasa sakit?" Aoyama menjawab dengan balik bertanya.


"Entahlah, coba saja." Tsubaki langsung mengusap kepala milik Aoyama.


"Arghhh ittai ittai ittai. Yamero (hentikan \= bahasa jepang sesama laki-laki biasanya terkesan kasar)!!" Bukannya makin sembuh Aoyama malah kesakitan karena Tsubaki mengusapnya sangat kasar.


"Harusnya kau diam saja."


"Kau terlalu keras mengusapnya." pekik Aoyama dengan kesal.


"Sudahlah kalian berdua membuat perutku sakit." Ucap Sawako yang tertawa karena melihat Aoyama dan Tsubaki berkelahi.


"Tapi aku senang bisa melihat sensei sudah akrab dengan kami." balas Emi dan melihat ke arah Aoyama.


"Baiklah ayo kita lanjutkan, hey Ren sampai kapan kau akan mengusap kepalanya?" Ucap Sawako dan Ren segera menghentikannya.


"Daijoubu (tidak apa-apa) ?" tanya Ren kembali memastikan Hinana bahwa sudah tidak sakit lagi.


"Hum Arigatou." balas Hinana dan tersenyum kemudian Ren pun juga melempar senyum untuk Hinana.


Mereka semua akhirnya menyelesaikan 45% gaun yang akan di pamerkan untuk festival.


"Mina san (semuanya) apakah kalian sudah siap untuk review tiga hari lagi?" tanya Sawako.


"Tak terasa waktunya semakin sempit." Emi pun mengeluh karena merasa gaunnya belum cukup siap untuk di review.


"Anoo apakah aku akan ikut review?" tanya Hinana pada Sawako.


"Tentu saja, kalian berlima. Sementara aku, Arimura dan Sensei hanya di belakang layar."


"Bisakah kau menggantikanku Sawako chan?" pertanyaan Hinana sonta membuat semua orang terkejut dan memandang kearah Hinana.


Sejujurnya Hinana masih belum siap untuk menunjukkan dirinya yang sekarang pada media.


"Tidak bisa Hinana, aku hanya membantumu. Lagi pula semua media yang akan meliput sudah mengenal aku sebagai manager Comme des Garcos." Jawab Sawako.


"Wakatta."


"Memangnya ada apa?" tanya Arimura yang duduk di sebelah Hinana.


"Eh tidak ada apa-apa, lanjutkan saja pekerjaanmu." ucap Hinana dan tersenyum pada Arimura.


Ren yang tahu kekhawatiran Hinana hanya bisa diam sembari berpikir, bagaimana caranya Hinana bisa tampil tapi tidak diketahui orang lain.


Setelah hampir jam makan siang tiba, barulah Arumi menunjukkan batang hidungnya. Begitu juga dengan Shota yang datang bersama dengan Arumi.


"Konnichiwa." Sapa Arumi dengan semangat dan membawakan bekal makan siang untuk semua teman-temannya.

__ADS_1


"Arumi dari mana saja kau." Tanya Emi dan menghampirinya.


"Maaf, sebagai gantinya aku memasak untuk kalian semua. Ayo istirahatlah." Arumi menyiapkan bekal yang di bawanya di bantu dengan Tsubaki.


Saat itu betapa terkejunya Shota saat melihat Arimura ada bersama mereka.


"Kau! " pekik Shota dengan terkejut saat melihat Arimura dan menaruh kotak bento yang ia bawa. Ia segera bergegas untuk keluar tapi Hinana menghalanginya didepannya.


"Ada yang perlu kalian bicarakan." ucap Hinana dengan melebarkan kedua tangannya mencegah Shota kabur.


Sementara Arimura segera menghampiri Shota dan memeluknya dari belakang.


"Please, jangan menghindariku lagi Shota." ucap Arimura dan memeluk Shota dengan erat.


Tentu saja semua orang yang ada diruangan terkejut melihat pemandangan itu. Terlebih lagi mereka juga melihat Arimura yang memeluk Shota dan mengeluarkan air mata. Karena selama ini mereka semua mengira Arimura datang ke Hokkaido untuk Ren.


Kini pandangan Shota masih terarah pada Ren, sejujurnya ia tak ingin membuat adiknya patah hati.


"Emm Oishi ne." Gumam Ren sendiri dengan memakan onigiri buatan Arumi. Ren berkali-kali mengambil onigiri tanpa memperdulikan Shota.


Sementara itu Hinana ikut menjelajahi apa yang sedang di lihat Shota. Ternyata Shota hanya terdiam dan melihat ke arah Ren. Hinana pun ikut melihatnya, tampaknya Ren tak memperdulikan.


Hinana juga teringat cerita dari Arimura, ia memikirkan bagaimana kali ini perasaan Ren. Apakah Ren masih mencintai Arimura??


Lalu bagaimana dengan Shota, apakah Shota sebenarnya masih ingin bersama Arimura??


"Bukankah sudah ku katakan semuanya telah berakhir." ucap Shota memecah keheningan.


"Tidak, don't leave me again Shota. Please!!" Jawab Arimura dengan menangis.


"Gomen ne." Shota melepaskan perlahan pelukan Arimura. Kemudian perlahan ia berjalan keluar ruangan.


"Hey Shota kau kemana? Apa kau tidak punya hati? Arimura san jauh-jauh kemari untuk menemuimu." Hinana masih menahan Shota.


"Ternyata kau sudah tahu? Minggirlah aku ingin makan siang di luar saja." Shota menghempaskan tangan Hinana yang berusaha menghalanginya.


"Tunggu sebentar, Shota.... Shota... Baiklah aku akan makan siang bersamamu." Hinana berteriak dan mengejar Shota.


"Sejak kapan Hinana mau makan siang dengan orang lain?" ucap Tsubaki bertanya-tanya.


Melihat Hinana yang mengejar Shota membuat perasaan Ren tidaklah membaik. Ia mencoba menahannya.


Apakah kisah cintanya kali ini akan sama terulang? Itulah yang ada di lubuk hati Ren.


Tak berapa lama smartband nya berbunyi, sehingga semua orang menoleh ke arah Ren.


BRAAAKK!!


"Sepertinya gelangku rusak." ucap Ren dan membuang gelangnya hingga pecah. Kemudian Ren mengambil sekotak bento buatan Arumi dan membawanya keluar.

__ADS_1


"Apakah Ren baik-baik saja?" tanya Sawako yang terkejut melihat kejadian yang di depannya.


"Entahlah, aku akan mengikutinya." ucap Arumi kemudian berlari mengejar Ren.


__ADS_2