
Cahaya bulan yang terang seakan mengikuti langkah kaki Hinana. Ia masih teringat tentang ucapan Ren untuk bertemu dengan Shota. Serta ia juga teringat saat bersama Shota.
"Tak ada seorang pun yang hidup tanpa ada masalah. Hanya saja bagaimana bisa ia menyikapinya dan menyelesaikannya." ucap Shota saat bersama Hinana beberapa hari yang lalu.
Dengan perasaan yang genting, Hinana mencoba untuk menenangkan pikirannya menuju ke basket indoor, tempat dimana ia dan Shota biasa menghabiskan waktu malamnya.
Dalam hati Hinana ia berpikir akan bertemu Shota di sana, namun tidak sesuai dengan realita. Lapangan basket itu tetap sepi.
"Apa yang kau lakukan disini?" terdengar suara seseorang yang menyapa Hinana.
"Bukan apa-apa." jawab Hinana singkat lalu menghampiri Aoyama yang sedang duduk di bangku panjang.
"Anoo, kau kan berteman dengan Shota. Apa kau tahu dia ada dimana?" tanya Hinana tanpa basa-basi lagi.
"Aku tidak tahu."
"Oh begitukah." gumam Hinana dengan perasaan kecewa.
"Aku rasa kau terlalu jauh ikut campur masalah mereka."
"Eh? Apa kau juga tahu masalahnya?" tanya Hinana.
"Tidak juga, aku hanya sekilas mendengar jika Ren terjatuh karena mengejar Shota. Tapi Hinana, ku rasa sebaiknya kau tak ikut campur dengan mereka." ucap Aoyama dan berdiri melempar bola basket ke ring.
Hinana masih terdiam dan merenungi perkataan Aoyama. Memang benar, sebaiknya ia tak ikut campur. Tapi entah kenapa Hinana sulit menolak permintaan dari Ren.
"Sebenarnya aku juga sama sekali tak tertarik dengan keduanya. Hanya saja..."
"Apa? Bukankah kau melihatnya sendiri jika Shota meninggalkan Ren?" Aoyama mulai berbicara saat tahu ucapan Hinana yang menggantung.
"Tidak ada yang menyalahkan Shota, bahkan Jouji san sendiri mengatakan seperti itu. Ren dan Jouji san mengatakan jika itu semua bukan kesalahan Shota, hanya saja aku ingin tahu kenapa Shota tak berhenti saat tahu jika Ren mengejarnya. Saat Ren bangun, permintaan pertamanya ingin bertemu dengan Shota." Ucap Hinana menjelaskan semuanya pada Aoyama.
"Wakatta (aku paham), kenapa tidak kau katakan saja jika kau tak berhasil menemukannya. Dengan begitu Ren pasti mengerti."
"Aku bisa saja mengatakan seperti itu tapi, aku tak sanggup jika melihat Ren yang seperti itu." ucap Hinana dan menundukkan pandangan, ia takut jika Aoyama melihatnya bersedih.
"Hinana chan tetaplah Hinana chan." Aoyama menghampirinya seakan tahu apa yang sedang dirasakan sahabatnya saat ini. "Hinana selalu peduli dengan orang lain, dari dahulu hingga sekarang. Nih buatmu." ucap Aoyama dan memberikan sekotak jus mangga pada Hinana. Meskipun hanya sebuah minuman tapi berhasil membuat dirinya ceria lagi.
"Arigatou. Hey Aoyama apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Hinana dan meminum jus mangga dari Aoyama.
"Ehh, aku akan bertemu dengan pacarku." ucap Aoyama dengan mencari alasan.
"Eh, apa itu Sakura chan?"
__ADS_1
"Memangnya siapa lagi pacarku."
"Kenalkan padaku. Aku ingin wanita mana yang berhasil meluluhkan hatimu." Hinana tertawa kecil dan memukul pundak Aoyama.
"Lebay sekali perkataanmu, tapi aku tidak sedang baik-baik saja dengannya. Jadi lain kali saja akan ku krnalkan padamu."
"Kau sedang bertengkar dengan pacarmu?"
"Hanya masalah kecil saja. Hinana sebaiknya kau pulang saja, daripada dia salah paham lebih lanjut." Aoyama menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seakan ingin segera mengusir Hinana.
"Emm baiklah. Jaa ne (sampai jumpa)." Hinana mengikuti ucapan Aoyama kemudian pergi pulang. Ia juga melambaikan tangan pada sahabatnya.
Aoyama juga membalas lambaian tangan Hinana dan memastikan bahwa Hinana benar- benar pulang.
"Kau sudah dengar semuanya kan." ucap Aoyama dengan menghembuskan nafas yang kasar. Dan tak lama kemudian Shota keluar dari persembunyian.
"Hem." jawab Shota mengangguk.
"Tidak ada yang menyalahkanmu, jadi pergilah dari apartemenku." Aoyama melempar bola basket ke arah Shota, kemur pergi meninggalkannya.
Saat itu Aoyama memang sedang bersama Shota di lapangan, dan tak sengaja ia melihat Hinana memasuki gedung. Sehingga dengan cepat Shota dan Aoyama mencari tempat persembunyian.
Tapi melihat Hinana yang terlalu lama berada di lapangan basket membuat Aoyama tak betah. Hingga akhirnya ia memutuskan keluar dari persembunyiannya.
Hinana merebahkan tubuhnya di kasur, rasanya hari ini sangat lelah. Ia mengambil selembar undangan yang diberikan Sawako dua hari yang lalu.
"Tokyo?" pekik Hinana setelah membacanya.
"Hum, dengan situasi seperti ini bagaimana menurutmu? Aku tahu sangat berat saat situasi ini, tapi disitulah penilaian akhir." tanya Sawako.
"Hountoni baka (goblok banget), apa yang harus ku lakukan." gumam Hinana dengan memandangi undangan yang ia bawa.
Yang Hinana pikirkan bagaimana ia dan team nya pergi ke Tokyo, ia berencana meninggalkan Ren tapi mana mungkin. Ren sudah sadar, tentu saja Ren akan merajuk ikut ke Tokyo tanpa mengkhawatirkan kondisinya.
Karena pikiran yang memenuhi otaknya akhirnya Hinana tertidur tanpa mencuci wajahnya.
Pagi hari yang cerah dan hembusan angin mulai menerbangkan helaian bunga sakura. Hinana bergegas berjalan menuju ke halte, langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang yang sedang menunggunya.
"Shota kun." pekik Hinana dengan terkejut.
"Ohayoi (selamat pagi)." Shota menyapa Hinana kemudian menghampirinya. "Kau pasti mencari ku." ucap Shota dengan percaya diri.
"Pede banget sih. Shota, seseorang yang lebih penting sedang mencarimu." balas Hinana dan mengikuti langkah kaki Shota.
__ADS_1
"Em aku tahu, tapi aku tak bisa menemuinya."
"Doshite? Hey Shota kun, aku tak tahu apa yang sedang terjadi antara kalian berdua tapi Ren kun sangat menginginkanmu." ucapan Hinana yang lantang membuat Shota menghentikan langkahnya.
"Apa kau mencariku karena Ren?" tanya Shota dan menghadap kearah Hinana.
"Hum."
"Sokka (begitukah), tentu saja tak mungkin." gumam Shota dengan mata yang sembab. Ia menelan ludahnya sendiri seakan kekecewaan yang ia rasakan.
"Eh, ada apa?" tanya Hinana karena tak terdengar suara Shota yang perlahan mengecil.
"Nanimonai (tidak ada apa-apa). Nee Hinana, aku telah mengirimkan voice note ke emailmu. Kau bisa berikan pada Ren agar mendengarnya."
"Tunggu sebentar, kenapa kau tak menemuinya saja. Aku bisa pergi bersamamu sekarang, Ren pasti akan senang." Hinana menarik pergelangan tangan Shota agar tidak pergi lagi.
"Gomenne (maaf) Hinana chan." Shota mencoba melepaskan tangan Hinana namun tak berhasil. Tangan wanita itu begitu kuat memegangnya.
"Ayolah Shota kita sama-sama dewasa. Kita selesaikan masalah dengan pikiran yang dingin."
"Itu sebabnya karena kita sama-sama dewasa, aku ingin pergi darinya. Aku ingin menjalani hidupku dengan tanganku sendiri, biarkan aku merasakan tejatuh agar aku terbiasa. Jika Ren terus saja berada di pihakku, maka aku tak bisa berdiri dengan kakiku sendiri. Kumohon mengertilah Hinana." ucap Shota setengah berteriak.
Hinana yang melihat pun terkejut, karena baru kali ini ia melihat Shota yang emosional.
"Shota kun..." pekik Hinana dan perlahan melepaskan genggaman tangannya.
"Aku mengambil kursus di Paris entah sampai berapa lama. Hinana chan jaga dirimu baik-baik, jaa (bye)." Shota perlahan pergi meninggalkan Hinana.
Saat itu juga sebuah mobil menepi dan berhenti. Pintu nya terbuka secara otomatis dan Shota pun menaikinya.
Sebelumnya Shota sudah menyewa mobil untuk mengantarkannya ke bandara, ia berpikiran untuk berpamitan pada Hinana sebelum pergi. Shota memandangi kelopak bunga sakura yang pernah di berikan Hinana, rasanya perasaan pada Hinana tak berbalas.
.
..
.
..
visualnya Shota, hiatus dulu ya.
__ADS_1
like + coment ya