Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
76 Aoyama kou


__ADS_3

Mereka berdua berhasil sampai di halte dan telah naik kedalam busway. Tapi karena itu bus terakhir jadi sangat penuh dan berdesakan, hingga mereka berdiri di depan pintu.


Saat bus tiba-tiba mengerem tanpa sengaja Ren terdorong memeluk tubuh Hinana.


"Gomenne.(maaf)." ucap Ren berbisik.


"Hum." balas Hinana, karena keadaan bus sangat berdesakan membuat Ren melindungi Hinana agar tidak tertimpa orang lain. Hal yang tak terduga terjadi, Hinana malah memeluk tubuh Ren dan membuatnya terkejut. Ia membiarkan saja tanpa sadar segaris senyum mulai mengambang di bibirnya.


" Kami-sama, motto dakishimetai (Tuhan, izinkan aku memeluknya lebih lama. Aku mencintainya."


Mereka saling memandang dan melempar senyuman, tanpa ada suara. Tapi itu saja sudah cukup bagi Ren, karena ia tak ingin membuat Hinana sedih saat ia pergi.


"Jaa Mata (sampai jumpa)." ucap Hinana saat turun di halte. Ren hanya membalas dengan anggukan dan tersenyum hingga pintu busway tertutup dan bus berjalan lagi.


Hinana berjalan kearah apartemennya dengan memeluk topeng kitsune dari Ren. Meskipun ia berusaha menjauh dari Ren tapi pada akhirnya ia sendiri yang berjalan mendekatinya. Layaknya bumi yang berputar pada porosnya, semakin menjauh pada akhirnya akan mendekat pada matahari yang panas.


...************************...


"Ohayou." sapa Aoyama keesoakan harinya saat bertemu dengan Hinana.


"Ohayou, Aoyama kun terimakasih sudah membantu ku." jawab Hinana.


"Hem tidak masalah. Kau tidak naik mobil?"


"Aku meninggalkannya di kantor."


"Mau berangkat denganku? Tapi agak sedikit lama karena aku harus ketoko bunga dulu." Aoyama menawarkan tumpang untuk Hinana.


"Tidak usah, sampai ketemu di kantor." Tolak Hinana kemudian berjalan menuju halte bus.


Lima belas menit Hinana sudah ada di kantornya. Ia juga melihat Sawako dan Arimura sudah ada disana. Tapi betapa terkejutnya saat ia melihat ada beberapa wartawan yang ada di bawah.


"Lihatlah untuk apa para wartawan kemari." Tanya Arumi yang melihat kearah rumunan.


"Apakah mereka mencari Hinana?" ucap Sawako yang dan memandang kearah Hinana.


"Entahlah, apa mungkin Hinana ketahuan." balas Tsubaki lalu melihat ternyata yang di incar oleh wartawan itu adlah direktur utama perusahaan Koizumi, yaitu Ren.


Sejak tayangan Tokyo Summer fashion yang menjadi pusat perhatian masyarakat adalah wajah tampan milik Ren, sehingga membuat para wartawan datang dan ingin mewawancarai.


"Ren kau baik-baik saja?" tanya Tsubaki saat melihat raut wajah Ren yang sedikit tergesa-gesa.


"Apa mereka tidak bisa mendengar? Berulang kali aku mengatakan kalau aku sedang sibuk, tapi mereka tetap saja ngotot." ucap Ren dengan nada mengeluh dan teman-teman menertawakannya.

__ADS_1


"Hem rupanya kau akan menjadi seorang artis." Ucap Arumi spontan dan tertawa kecil.


Hinana masih memandang kearah bawah dengan perasaan bimbang. Dulu ia pernah berada di posisinya Ren hingga membuatnya tak bisa leluasa berjalan keluar.


"Kau mau kemana?" Ren megang tangan Hinana saat melihatnya akan pergi.


"Aku belum makan pagi, aku akan ke rooftop sebentar." jawab Hinana.


"Baiklah aku ingin kesana juga."


"Aku ingin sendirian. Kumohon." Hinana menolak ajakan Ren dan pelahan melepas genggaman tangannya.


"Apakah Hinana baik-baik saja?" tanya Arimura pada Sawako.


"Tentu saja tidak, dulu ia selalu menjadi pusat perhatian. Biarkan dia sendiri dulu ayo bantu aku." jawab Sawako.


Langit biru memerlukan waktu dua belas jam untuk berubah menjadi hitam. Begitu juga dengan kehidupan. Bisa saja hari ini kita terbang keatas langit namun esok kita sudah terjatuh di bawah tanah.


Arimura memperhatikan Aoyama yang mengganti rangkaian bunga. Ia selalu memperhatikan jika hari selasa Aoyama selalu mengganti bunga peony.


"Apakah Sensei menyukai bunga?" tanya Arimura.


"Tidak juga tapi pacarku menyukainya." Jawab Aoyama dengan santai.


"Oi Hinana kemana saja kau? Bukankah ini projectmu?" tanya Aoyama saat melihat Hinana baru masuk ruangan.


"Iya maaf. Kau mengganti bunganya lagi?"


"Tentu saja, akhir-akhir ini sangat sulit membeli bunga peony."


"Hinana apa kau pernah bertemu dengan pacarnya Sensei?" tanya Arimura dengan penuh semangat.


"Emm aku rasa belum pernah, hey Aoyama apa kau tak ingin mengenalkan pacarmu pada kami?" tanya Hinana.


"Aku rasa dia sedang sibuk, jadi tidak bisa datang."


"Apa pekerjaannya. Saat kau di Kuriyama pacar Sensei juga tidak datang." Arimura mengingatkan kejadian seminggu yang lalu.


"Jika kau tidak keberatan Sensei bisa mengenalkan pada kami." balas Arumi yang bersemangat karena ia tidak menyangka Aoyama yang pendiam ternyata diam-diam sudah memiliki kekasih.


"Dia tidak akan datang." Jawab Aoyama dengan dingin, karena ia bukan tipe orang yang suka jika hubungan asmaranya di umbar.


"Palingan kau sudah putus, lagi pula siapa yang betah dekat denganmu." Ucap Hinana asal dengan membantu emi memasang payet bunga pada gaun.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan?"


"Bukan apa-apa aku hanya menebak, lagi pula saat di Kuriyama pacarmu tidak juga datang. Mana ada perempuan yang betah dengan sikap nolep mu seperti ini."


"Dia tidak datang bukan berarti aku putus dengannya, tak ada yang bisa membuat kami putus kecuali aku." Ucap Aoyama sedikit berteriak pada Hinana. Dan semua pandangan tertuju pada Aoyama.


"Sensei." gumam Arumi yang sedikit tidak percaya karena baru kali ini Aoyama emosi. Meskipun perkataannya yang sering kasar tapi Arumi belum pernah melihat Aoyama marah.


"Gomenne (maaf), aku ada janji." Aoyama segera membereskan barang miliknya dan pergi dari kantor Ren.


"Sensei, maaf jika kami...." Ren segera mencegah kepergian Aoyama tapi tangannya di tepis.


"Daijoubu." ucapnya Aoyama pada Ren dan benar-benar pergi.


Sementara Hinana masih berdiri memandangi punggung teman kecilnya yang perlahan semakin menghilang. Ia masih berpikir sejak kapan Aoyama bisa bersikap seperti itu.


"Aku akan pergi minta maaf padanya." ucap Hinana.


"Hinana, tidak perlu. Apa saat ini kau baik-baik saja?" cegah Sawako.


"Aku pergi ke toilet dulu." Kali ini Hinana merasa dalam suasana yang canggung, lalu ia memutuskan untuk pergi menjauh sejenak dari teman-temannya.


"Aku rasa Hinana dan Aoyama sama-sama punya masalah pribadi." Ucap Tsubaki yang baru komentar.


"Sudahlah Tsubaki kun jangan memperkeruh suasana." Arumi langsung memukulnya.


...*********************...


Hari ini terasa berat bagi Hinana, karena ia merasa dilema dengan pekerjaannya. Jujur ia masih merindukan dunia modeling, tapi ia masuh enggan kembali. Terlebih lagi dirinya telah membuat Aoyama marah.


"Ren apa kau akan naik busway lagi?" tanya Hinana saat melihat Ren berjalan kaki keluar dari kantor.


"Iya, rasanya menyenangkan."


"Tapi maaf aku tidak bisa menemanimu, aku harus membawa pulang mobilku." ucap Hinana.


"Tidak masalah, aku sudah biasa naik bus sendiri." Jawab Ren dan tersenyum padanya.


"Tapi bagaimana jika busnya penuh dan berdesakan?" tanya Hinana yang sedikit khawatir dengan Ren.


"Hinana chan, sebelum kau khawatirkan orang lain pastikan dirimu baik-baik saja. Aku bisa naik taksi, Jaa mata Hinana (sampai jumpa)." ucap Ren dengan mengusap rambut Hinana dan membuat rambutnya berantakan.


Mendengar perkataan dari Ren membuat ia menyadari bahwa saat ini dirinya tidak baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2