
Pertanyaan Arumi membuat Hinana menggaruk kepalanya yamg tidak gatal. Karena bukan hanya Arumi saja yang enggan, Ren pun juga enggan melanjutkan festival itu.
"Bukan. Bahkan Ren sendiri masih menolaknya." Jawab Hinana.
"Jika Ren saja tak ingin melanjutkan, kenapa masih ngotot sih." pekik Arumi mengacak-acak rambut Hinana.
"Hey Arumi, ada sesuatu yang ingin ku ceritakan. Ini tentang Ren." Hinana mulai ragu mengatakannya. Tap bukankah lama kelamaan semua orang pastilah akan tahu jika Ren sakit.
"Are wa nanideshou? (apakah itu?)."
"Ren kun... Ren kun." Mendadak Hinana kehilangan suaranya, ia memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.
"Ren kun menderita penyakit gagal jantung, dan hidupnya tidak berlangsung lama. " Hinana mulai mengambil nafas kembali untuk melanjutkan kata-katanya.
"Hey Arumi, jika kau tak ingin melanjutkannya tidak apa. Tapi kumohon lakukan demi Ren, hanya ini harapan terakhir Ren." Tanpa terkendali air mata Hinana langsung jatuh karena menceritakan kondisi Ren.
Saat itu tidak terdengar suara sama sekali. Arumi juga belum menjawab ucapan Hinana. Sementara Hinana memilih untuk menundukkan kepala, jika air matanya kembali jatuh maka tidak ada orang yang melihatnya.
"Hountoni? (benarkah?)" terdengar satu kata yang serak dari mulut Arumi. Dan Hinana menjawab dengan anggukan kepala.
"Kenapa Ren tak pernah menceritakan padaku? Sejak kapan ia sakit?"
"Seberapa lama ia sakit aku tidak tahu. Ren hanya mengatakan itu padaku." Jawab Hinana dan perlahan menegakkan kepalanya.
"Kenapa ia tak memberitahuku? Kenapa?" Arumi menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Air matanya masih mengalir deras. Hinana yang melihatnya hanya bisa menepuk pundak Arumi dengan lembut untuk membuatnya tenang.
Arumi merasa sangat terpukul mendengar berita tentang Ren. Bagaimana tidak, selama ini Arumi sudah dianggap sebagai adik oleh Ren. Ia adalah seorang yatim piatu yang tinggal bersama bibi dan kakak sepupunya. Arumi suka menggambar design baju saat SMA dan merajut. Tapi hasil gambarnya dan rajutannya selalu di akui oleh kakak sepupunya.
Hingga akhirnya Ren menjadi penyelamat hidupnya. Ren menolong Arumi dan mengatakan bahwa semua design itu milik Arumi. Dan saat Arumi di usir dari rumah bibinya, Ren juga menolongnya. Ren mengatakan "Jadilah adikku dan tanggallah dirumahku."
Hinana pergi dari tempat kerja Arumi, ia masih melihat Arumi menangis di tempat duduknya. Hinana juga tidak bisa berlama-lama disana, karena teman-temannya sudah menunggunya di kantor.
"Bagaimana hasilnya? Apa kau berhasil membawa Arumi kembali?" tanya Sawako yang antusias saat melihat Hinana masuk ke ruangan.
"Entahlah." Jawab Hinana dan menggelengkan kepala.
"Hinana, aku sudah membawa apa yang kau minta." Emi menyerahkan semua gambar design dan peralatan jahit yang pernah di pakai.
"Terimakasih Emi. Baiklah, karena semuanya sudah siap aku akan memilih design milik Ren. Semuanya mari kita lakukan yang terbaik." Hinana mengawali pekerjaan dan ketiga temannya juga sama semangatnya dengan Hinana.
Emi mulai menggambar pola pada kain dan momotongnya secara teliti. Sementara Tsubaki sudah mulai membuat dasar baju di manekin dress.
__ADS_1
Sama sibuknya Hinana dan Sawako mulai membuat payet bunga sakura 2-D yang nantinya untuk hiasan gaun.
"Hinana seperti yang ku katakan, kita membutuhkan banyak orang." ucap Sawako di tengah-tengah kegiatannya.
"Aku masih memikirkannya." jawab Hinana dengan enteng.
"Eh kenapa di pikirkan, lakukan saja lagi pula tidak akan melanggar aturan."
"Em... Baiklah nanti akan ku carikan bala bantuan."
"Hinana kemarilah dan bantu aku." Teriak Emi seperti biasa. Emi juga senang meminta bantuan pada Hinana saat menggunting kain atau mencopy gambar pola.
"Haik." balas Hinana dan langsung menghampiri Emi.
Dari sudut lain tampak semua kegiatan itu terekam ,dan saat itu juga seseorang yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit sedang melihatnya.
"Bagaimana jika impianmu di wujudkan oleh orang lain? Apakah kau masih diam saja tak bergerak." Jouji mengirim sebuah pesan kepada anaknya.
"Biarlah, kita lihat sampai mana mereka akan bertahan." balas Ren dengan bibir yang tersenyum.
"Jika mereka bisa sampai ke show, kau harus kabulkan permintaanku."
"Jouji san, maaf mengganggu ini ada laporan keuangan yang harus anda periksa." Suara Ariko mengejutkan Jouji yang dari tadi memperhatikan Hinana.
"Hem Wakatta (baiklah)."
"Mereka semua sungguh hebat ya." Ariko tampak kagum melihat kekompakan Hinana dan teman-temannya.
"Ariko juga hebat dalam pekerjaan."
"Eh, maaf Jouji san aku akan kembali bekerja."
"Ariko san." panggil Jouji saat Ariko berlalu akan pergi.
"Iya ada apa, menurutmu bisakah aku memimpin perusahaan ini sebaik Ren?" tanya Jouji.
"Tentu saja, Ren san sangat profesional dan selalu membuat nyaman para pekerja. Sifat seperti itu pasti menurun dari orang tuanya."
"Hountoni? (benarkah?), bahkan aku merasa malu pada diriku sendiri. Ren yang usianya sangat muda dariku bisa memutuakan membangun usahanya sendiri, sedangkan aku masih nyaman bekerja dengan orang lain." Jouji mengatakan hal itu tanpa memandang kearah Ariko. Matanya masih memandang ke lantai.
"Jouji san, setiap orang pasti punya harapan yang sama. Tapi untuk mewujudkannya perlu cara yang berbeda. Mungkin Ren san punya jalan sendiri untuk mencapai harapannya." ucap Ariko menyemangati atasannya.
__ADS_1
Mendengar secuil ocehan dari Ariko membuat Jouji menyunggingkan senyumannya. Ia juga baru sadar kenapa bisa asal bicara pada pekerja nya itu.
Sore harinya telah tiba, Hinana membereskan semua peralatan dan memasukkan kedam tasnya.
"Jaa mata (sampai jumpa) Hinana." ucap Sawako berpamitan.
"Jaa mata, terimakasih Sawako." balas Hinana dan kembali memungut sisa-sisa guntingan kain dan membuangnya ke kranjang sampah.
"Hinana apa kau sibuk hari ini?" tanya Emi dan membantu Hinana mengemasi sampah yang berserakan.
"Tentu saja tidak, Doshite (kenapa) Emi san?"
"Aku ingin bicara sebentar denganmu."
"Baiklah. Tunggu sebentar." Hinana langsung menghampiri Tsubaki dan menyerahkan sisa pekerjaannya padanya. "Kita bisa tinggalkan dia sekarang. Ayo kita pulang." ucap Hinana dan berjalan di depan Emi.
Karena Hinana membawa mobil, ia memutuskan untuk mengantar Emi pulang.
"Hinana ingatkah kau apa yang ku katakan tempo hari?" Emi mulai mengatakan sesuatu saat sudah berada di dalam mobil Hinana.
"Em entahlah sepertinya aku lupa." Balas Hinana sembari mengingat-ingat.
"Hinana san, maaf jika tiba-tiba aku mengatakan ini padamu. Waktu itu aku pernah mengatakan bahwa aku sangat menyukai Ren."
Hinana tersentak seketika. Ingatannya pun mulai ia dapatkan kembali setelah mendengar perkataan dari Emi.
"Sampai saat ini, aku tetap menyukai Ren apapun yang terjadi. Tidak peduli jika Ren terus menolakku tapi aku tidak akan pernah menyerah." lanjut Emi dan memandang ke arah Hinana.
Suasana cukup menegangkan, hanya ada suara mesin yang terdengar. Keduanya sama-sama terdiam, hingga sampai di rumah Emi.
"Emi san, saat itu aku juga pernah mengatakan jika aku tidak peduli. Tapi akhir-akhir ini aku merasa bahwa Ren juga sangat berarti bagiku. Ne Emi san bagaimana jika kita bersaing secara sehat." Hinana mengulurkan tangan pada Emi dan menautkan senyum.
"Hinana, kenapa kau baik sekali. Aku kira kau akan pergi dan membenciku." Emi terharu karena jawaban yang Hinana lontarkan tidak sesuai dengan yang ada di pikirannya.
"Aku tidak baik, aku hanya tak ingin kalah juga dari seniorku." Ucap Hinana dengan bercanda.
"Hem baiklah, aku terima tantangan Hinana. Apapun yang menjadi keputuasan Ren, kita akan tetap jadi teman. Yokusoku (janji)." akhirnya Emi membalas uluran tangan Hinana dengan senyuman.
"Yakusoku (janji)."
"Jaa mata, Arigatou gozaimasu Hinana." Ucap Emi saat keluar dari mobil Hinana.
__ADS_1