Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
109 Hari semakin dekat


__ADS_3

Tsubaki menggendong Hinana yang tak sadarkan diri. Meskipun berkali-kali mengeluh tapi sebenarnya ia tertawa karena mendengar Hinana yang bernyanyi. Teman-temannya lainnya juga tertawa karena menganggap lucu saat Hinana mabuk.


Sesampainya dirumah Aoyama menyuruh agar Hinana dan Arimura tidur dikamar saja, sementara ia tidur di ruang tengah.


"Sensei, aku membawakanmu makanan." Arumi mendekati Aoyama dengan perlahan karena ia ragu apakah Aoyama sudah tidur atau belum.


"Terimakasih." seperti biasa Aoyama selalu menjawab dengan singkat dan menerima sekotak makanan.


"Aku juga berterimakasih, karena sensei memberikan sapu tangan untukku."


"Itu hanya kebetulan saja, Bibiku bilang jika menolong seseorang maka suatu saat kau akan ditolong jika sedang susah."


"Itu benar. Pasti Bibimu adalah orang yang baik. " Jawab Arumi dengan pelan. Ia tahu bahwa dirinya dan Aoyama sudah sama-sama tidak mempunyai orang tua. Hanya saja Aoyama beruntung karena punya Paman dan Bibi yang baik, berbeda dengannya.


"Pergilah tidur."


"Humm, Oyasumi (selamat malam)." Arumi pergi meninggalkannya. Ia juga tahu jika Aoyama sulit untuk diajak bicara, mungkin keberadaannya mengganggunya.


"Oyasumi ???(Selamat malam)." ucapnya sangat pelan dan sedikit tersenyum. Karena baru kali ini ia mendengar ucapan selamat malam dari seseorang. Kemudian ia mulai makan makanan yang diberikan Arumi.


Keesokan harinya Hinana terbangun dengan kepala yang sedikit pusing. Ia berjalan pelan kedapur untuk mengambil minuman karena melihat Arimura yang masih tidur.


"Bagaimana keadaanmu?"


Suara yang mengejutkan Hinana karena setahunya hari masih pagi.


"Hanya sedikit pusing. Kau sudah bangun? " tanya Hinana pada Ren.


"Tentu saja." Ren menghampiri Hinana dan memberikan secangkir teh chamomile.


"Minumlah, mungkin bisa mengurangi rasa pusing. "


"Terimakasih." Hinana menerimanya dan perlahan meminumnya. Hinana tidak ingat apa yang terjadi semalam, mungkin teman-temannya akan menertawakannya karena semalam ia mabuk berat.


Jam sembilan pagi semua orang sudah bersiap pergi, kecuali Arimura yang sudah tidak ada dirumah itu sejak jam Tujuh pagi.


"Lima menit lagi adikku akan sampai, bersiaplah!!!. " Ucap Hinana setelah seleai menelepon.


Ia menyuruh adiknya untuk mengantarnya ke tempat tujuan dengan mobil milik ayahnya.

__ADS_1


"Dimana Ren? " tanya Tsubaki karena belum melihat Ren sejak pagi.


"Dia masih di kamar mandi, akan ku panggil." Jawab Arumi.


"Aku saja yang menghampirinya." Aoyama menyela ucapa Arumi dan masuk kedalam rumah. Karena ia juga sekalian mengambil tabung oksigen kecil yang tertinggal.


"Ren, mobilnya segera datang. Cepatlah!! " ucap Aoyama di dekat pintu kamar mandi.


Tapi sudah lima menit ia memanggilnya dan tak ada balasan dari dalam. Aoyama menjadi panik karena pintu kamar mandi terkunci dari dalam.


"Ren... Kau baik-baik saja. Ren... Bukalah. " sambil terus memutar knok Aoyama menggedor-gedor pintu karena khawatir. Tanpa pikir panjang ia keluar rumah memanggil Tsubaki untuk membantunya.


"Oiii ikut aku sebentar." Teriak Aoyama memanggil Tsubaki dan disana sudah ada Ryusei adik Hinana.


"Ada apa Onichan? " tanya Ryusei.


"Aku tidak memanggilmu, cepatlah." Teriak Aoyama dan Tsubaki lalu menghampirinya.


Tanpa banyak bicara Aoyama segera menyuruh Tsubaki membukakan pintu kamar mandi.


"Sudah berapa lama didalam? " tanya Tsubaki dengan panik.


"Aku juga tidak tahu, sudah lima menit aku memanggilnya tak ada balasan." Jawab Aoyama dengan berusaha mendobrak pintu.


"Sangat keras, tunggulah aku akan meminjam dongkrak." Tsubaki berlari keluar untuk meminjam sesuatu dimobil adik Hinana.


BRAAAKKKK


Ryusei berhasil mendrobrak dan merusak pintu kamar mandi sehingga membuatnya terbuka.


"Sugoii.. .(keren) kau sama kuatnya dengan kakakmu." Ucap Tsubaki dan menepuk bahu Ryusei. Sementara Aoyama langsung mencari Ren dan mendapatinya tubuh Ren tersungkur di bawah wastafel.


"Kau baik-baik saja? " tanya Aoyama dengan panik. Ren masih dalam keadaan sadar tapi tubuhnya sangat lemah bahkan tak sanggup bicara.


"Dimana smartbandmu?" tanyanya sekali lagi dan Ren hanya menunjuk kearah meja sebelah wastafel.


Aoyama segera memberikan oksigen tabung dibantu dengan Tsubaki memegangi tubuh Ren. Sementara Ryusei hanya melihat dengan kebingungan.


"Tolong ambilkan tasku di depan teras. " Aoyama menyuruh Ryusei dan dengan anggukan Ryusei menuruti perintahnya.

__ADS_1


"Anooo, jangan katakan penyakit Ren pada adik Hinana. " Aoyama mengatakan pada Tsubaki.


"Tentu saja. "


Berkali-kali Aoyama mengajak pergi kerumah sakit tapi Ren menolaknya. Ia selalu mengatakan jika masih bisa bernafas, hanya terasa nyeri. Akhirnya dengan sekuat tenaga Aoyama memberikan pertolongan pertama meskipun memakan waktu yang lama.


"Aku tidak bertanggung jawab jika kau mati disana." ucap Aoyama dengan kesal setelah berhasil memberikan pertolongan pertama. Sementara Tsubaki dan Ryusei sudah pergi karena Aoyama yang menyuruhnya.


"Jika aku mati disana tak apa, aku tidak akan menyesalinya." Jawab Ren dan memberikan senyuman.


"Sensei bantu aku berjalan."


Tanpa berkata apapun Aoyama menuruti ucapan Ren. Aoyama mengizinkan Ren pergi dengan selang oksigen yang terpasang dihitungnya.


"Apa kau baik-baik saja? " tanya Hinana dengan cemas karena menunggu hampir satu jam. Ren hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban. Hinana membantu Ren masuk mobil dan duduk ditengah.


Berkali-kali teman-temannya bertanya pada Aoyama, apa yang terjadi pada Ren. Tapi Aoyama sepertinya enggan memberikan jawaban, itu karena Aoyama merasa kesal saat Ren berkali-kali memohon padanya agar ikut di festival.


"Biarkan saja Ren tidur selama perjalanan, kalian semua diamlah." Ucapan yang terdengar menohok keluar dari mulut Aoyama, dan semua orang dimobil akhirnya diam. Sementara Ren hanya tersenyum melirik kearah Aoyama dan akhirnya memejamkan mata.


Selama diperjalanan Ren menutup matanya dan Hinana hanya bisa memperhatikannya.


Hinana hanya bisa berguman didalam hati sambil memandangi wajah Ren. Dengan kondisi Ren yang seperti ini pikirannya sudah jauh. Air mata Hinana perlahan keluar saat memikirkan hal itu.


Aoyama dapat melihatnya meskipun ia pura-pura tidak peduli. Ia juga merasa takut jika Ren tiba-tiba berhenti bernafas.


"Sensei, apakah orang yang mati benar-benar berada di atas langit? "ucap Ren sambil melihat keatas langit malam. Mendengar ucapan Ren ia teringat dengan ucapan kekasihnya.


"Mungkin saja. " Jawab Aoyama dengan singkat.


Aoyama memejamkan matanya dan memegang kepalanya karena terus teringat akan kematian seseorang.


Setelah kematian ibunya dan kekasihnya apakah ia sanggup jika harus melihat kematian orang yang ada di sampingnya?


Orang yang baru menjadi temannya.


Itulah yang menjadi beban Aoyama selama ini.


Aoyama juga mendengar kabar dari ibunya Hinana, jika ayahnya berada di Tokyo karena sakit keras. Akankah orang-orang yang ada di dekatnya akan bernasib sama?

__ADS_1


Aoyama merasa jika hidupnya memang ditakdirkan sendiri.


Perlahan orang yang ada di sampingnya akan pergi meninggalkannya, termasuk Hinana.


__ADS_2