Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
38


__ADS_3

Butuh waktu lima tahun untuk mempersiapkan diriku, namun baru kali ini aku benar-benar merasa ingin tinggal.


Aku mulai merasa takut, jika suatu hari aku benar-benar menghilang dari dunia ini.


Tapi aku juga tidak dapat berbohong, jika saat ini aku bahagia. Aku ingin melihatmu sekali lagi hanya itu yang selalu ku ucapkan dalam hatiku. Karena aku tidak tahu kapan waktunya aku akan pergi. Sekali lagi, selama aku masih ada di dunia ini. Tuhan berikan aku keajaiban jika itu benar-benar ada. (Koizumi Ren.)


Hinana menggenggam erat tangan Ren dan sesekali memandang wajahnya. Meskipun belum ada jawaban dari Ren, tapi ia juga melihat bahwa Ren punya perasaan yang sama dengannya.


"kenapa kau terus melihatku?" tanya Ren melihat ke arah Hinana dengan senyum manisnya.


"tidak apa-apa." jawab Hinana dengan malunya dan berjalan menikmati pemandangan pohon sakura, meskipun belum ada bunganya.


Mereka berdua berjalan hingga menuju rumah Ren. Memang sengaja kali ini Hinana mengantar Ren pulang, karena tidak ingin tersesat saat naik busway.


"Hinana, sabtu depan apa kau mau berkencan


denganku?" saat sampai dirumahnya.


"hem." jawab Hinana dengan wajah yang berbinar-binar.


"kalau begitu aku yang akan menjemputmu, pulanglah hati-hati Hinana."


"iya, kau masuklah dulu."


"tidak, aku ingin mengantarmu hingga ke Halte."


"aku bisa pulang sendiri Ren, kali ini biar aku saja yang mengantarmu."


"begitukah. Baiklah aku tidak akan masuk sampai kau pergi."


"emm baiklah, sampai jumpa Ren." ucap Hinana dan melangkahkan kaki pergi.


"sampai jumpa juga Hinana."


"jangan lupa jemput aku besok."


" tentu saja."


"Daah Ren.. Aw sakit." Saat berjalan menjauh masih saja Hinana mengucapkan selamat jumpa pada Ren, hingga akhirnya ia menabrak tiang.


" hey perhatikan jalan mu." Ren tertawa kecil karena melihat kelakuan Hinana.


"bye-bye Ren." Hinana tak perdulikan ucapan Ren, ia tetap melambaikan tangannya hingga masuk ke dalam busway.


Sesampai di apartemen Hinana tak ingin melakukan apapun, dia memilih tidur tanpa mengganti pakaiannya. Ia ingin pagi segera datang.


...*************...


"aku sudah copykan makalah ini untuk kalian semua." Hinana mengeluarkan setumpukan file dari tasnya.


"apa ini Hinana?" tanya Arumi dan mengambil salah satunya.

__ADS_1


"kalian baca semuanya. Akan ku jelaskan, festival ini akan menilai karya kita dari nol. Jadi akan di Shoot mulai dari proses pembuatan sampai selesai."


"HAAHHH." semua orang terkejut.


"kalian terkejut? Aku juga, jadi kita harus mempersiapkan. Kita juga akan melihat tayangan Review dari peserta lain."


"jadi kita akan masuk TV." ujar Tsubaki.


"saat Shoot nanti aku harus melakukan pedicure, mungkin saja ada produser yang tertarik padaku dan menjadikan aku artis." ujar Arumi.


"hey Arumi aku setuju padamu. Mungkin kau akan jadi figuran." goda Tsubaki.


"Hinana... Kau menyebalkan." teriak Arumi.


"jika semua orang di Shoot dan di tayangkan apa kau tidak apa-apa?." ucap Ren dan mengambil makalah di meja. Sementara Hinana hanya diam tak bisa menjawab.


"iya Hinana, dulu kau kan seorang model dan wajahmu tak asing lagi oleh publik. Mereka akan membicarakanmu." ujar Emi.


Sejujurnya Hinana belum berpikir jauh ke sana. Dan perkataan Emi membuat dirinya tersadar bahwa Hinana tidak bisa bersembunyi lagi.


"tidak masalah, lagi pula aku juga bukan seorang model sekarang." jawab Hinana meskipun ia juga khawatir.


"benarkah tidak apa-apa Hinana?" tanya Tsubaki.


"hem, sekarang kita lakukan yang terbaik. Baiklah kita mulai pekerjaannya." jawab Hinana meskipun ada ke bimbangan dalam hatinya, dan mereka semua mulai mengerjakan membuat baju. Ren memperhatikan dari kejauhan bahwa sebenarnya Hinana merasa khawatir akan hal itu.


"Hinana, tolong buatkan makan siang." ucap Tsubaki setelah dirasa waktunya makan siang.


"HAh aku?"


"baiklah aku akan dapur." dengan kesal Hinana berjalan ke dapur Tsubaki. Hinana merasa dirinya benar-benar payah karena tak bisa berbuat apa-apa.


" permisi... aku di suruh Tsubaki-san untuk membuat makanan." ucap Hinana dengan lembut saat melihat ada gadis di dapur.


" Hinana-san."


"eh Naomi, kau Naomi teman Keiko?"


"hem aku tidak percaya kau ada dirumahku. Sedang apa kau kemari?"


"aku harus membuat beberapa makanan, untuk di makan."


" ah rupanya kau teman Tsubaki. Baiklah silahkan memasak, oh ya semua bahan ada di lemari es."


" em terima kasih. Baiklah, kali ini aku harus buat apa ya." gumam Hinana sambil berpikir. Karena Hinana tak bisa membuat makanan apapun selain kue tar.


"Bagaimana kalau kau buat okonomiyaki, kebetulan di kulkas sedang banyak telur." sahut Naomi memberi saran.


"ide yang bagus, tapi... aku tak tahu cara membuatnya."


"apa aku harus membantumu?."

__ADS_1


"benarkah kau mau membantu?." tanya Hinana dan kemudian Naomi menghampirinya dengan segera menyiapkan semua bahan-bahan.


" terima kasih banyak Naomi-chan. Kau tidak hanya cantik tapi juga baik sekali."


" kau lebay sekali memujiku. Hinana-san tolong kau potongkan beefnya."


" baik chef." ucap Hinana dengan candanya.


Sudah hampir dua tahun Hinana tak merasakan kehangatan berteman. Dan kini berkat Ren ia berani memulainya kembali. Hinana teringat saat Ren mengatakan sesuatu padanya saat di halaman kantornya.


"" Hey Hinana, tidak semua orang peduli padamu. Tapi tidak semua orang juga berhianat padamu. Kehidupan ini tidak menjanjikan sesuatu yang putih, tapi tidak semua ketidak berhasilan berwarna hitam. Ada warna abu-abu, hal yang kau anggap salah tapi sepenuhnya tidak." ucap Ren dengan mengobati luka pada lengan Hinana.


"""aku tidak tahu maksudmu." Hinana tak dapat bergerak karena Ren memegangi tangannya sangat kuat.


""" semua kehidupan punya harapan."


""" aku telah kehilangan harapan, bahkan aku tak punya harapan apapun."


""" jika kau kehilangan harapan maka buatlah." ucap Ren kemudian pergi setelah selesai mengobati luka Hinana.


Ucapan Ren membuatnya percaya diri lagi, dan Hinana berani memulai kehidupannya setelah kejadian itu.


" haik sudah selesai." ucap Naomi setelah menaburkan katsuobosi di atas hidangannya.


"hemm oishi ne. Terima kasih Naomi-chan."


"itu hal yang mudah bagiku."


"kau hebat, kau pandai memasak. Aku jadi teringat pada Keiko, dia juga setiap hari membuatkanku makanan." ucap Hinana memuji Naomi.


"sebenarnya Keiko yang mengajariku."


"eh benarkah? Kalau begitu kalian berdua bisa ikut kompetisi memasak."


"itu mustahil bagi kami." ucap Naomi dengan lirih namun Hinana masih bisa mendengarnya.


"kenapa mustahil? Ku dengar kalian berdua sahabat baik, dan juga punya hobi yang sama." dengan santainya Hinana mencicipi masakan Naomi.


"memang benar tapi itu dulu, sebelum aku memutuskan persahabatan dengannya." ucap Naomi penuh dengan penyesalan.


Hinana yang mendengar pengakuan Naomi juga sangat terkejut, karena Keiko selalu memajang foto Naomi dengannya di kamar. Tidak hanya itu, Keiko juga sering menceritakan hari-harinya bersama Naomi.


"kenapa?" tanya Hinana dengan hati-hati.


" dia dulu yang memulainya, Keiko-chan merahasiakan sesuatu dariku. Padahal dulu kami membuat janji, bahwa tidak ada rahasia di antara kita. Apa Keiko pernah mengatakan sesuatu padamu?" Naomi bertanya pada Hinana dengan menahan air matanya.


" hem. Tapi, aku pikir Keiko tidak ingin membuatmu terluka."


"jika dia memang lebih dulu menyukainya mengapa tak katakan saja? Apa karena aku?"


" Naomi-chan juga sangat berharga, itulah yang di katakan Keiko. Hey Naomi, bahkan perasaanmu lebih penting bagi Keiko. Tak apa Keiko meninggalkan laki-laki itu, asalkan tidak membuatmu sakit hati. Itulah yang di katakan Keiko." Hinana mengatakan semua yang pernah di katakan Keiko padanya.

__ADS_1


Mendengar semua itu tangis Naomi akhirnya pecah. Sebenarnya saat mengatakan semua itu Hinana juga menahan air matanya, karena memang sangat berat melepaskan orang yang di cintai demi persahabatan.


" tidak apa-apa Naomi. Keiko-chan saat ini masih mengharapkanmu. Kau harus menghubunginya." Hinana memeluk Naomi dan menenangkannya.


__ADS_2